19 Juni 2022 - 02:32 WIB | Dibaca : 280 kali

Shrinkflation; Strategi ‘Diam-Diam’ Perusahaan di Tengah Laju Inflasi

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

Langkah shrinkflation diterapkan sebagai pertimbangan perusahaan untuk tidak membebankan kenaikan harga kepada konsumen, melainkan jumlah produk

SWARAID, PALEMBANG: Shrinkflation merupakan strategi yang sering dilakukan produsen di tengah inflasi. Shrinkflation adalah praktik penyusutan atau mengurangi ukuran suatu produk, dengan tetap mempertahankan harga semula.

Strategi ini umumnya digunakan perusahaan yang bergerak di industri makanan dan minuman.

Shrinkflation cenderung dilakukan perusahaan  secara diam-diam guna mendongkrak keuntungan produsen dan mempertahankan kinerja perusahaan dari risiko kenaikan biaya produksi akibat inflasi.

Strategi ini tengah marak dilakukan perusahan-perusahaan dunia saat ini.

Menyalin berbagai sumber, seiring dampak pandemi Covid-19, lembaga keuangan dunia Dana Moneter Internasional atau IMF memprediksi kenaikan inflasi di beberapa kawasan.

Untuk kelompok negara maju, diperkirakan mengalami kenaikan inflasi dari 3,9 % menjadi 5,7 % tahun ini. Sedangkan untuk kelompok negara berkembang diprediksi naik dari 5,9 % menjadi 8,7 %.

Pencetus Istilah Shrinkflation

Dikutip dari Merriam Webster, Ekonom Inggris, Pippa Malmgren sering dianggap sebagai pencetus awal istilah shrinkflation.

Malmgren juga bisa dikategorikan sebagai orang yang bertanggung jawab atas kemunculan istilah tersebut. Sementara itu, dalam buku Brian Domitrovic tahun 2009, Econoclasts: The Rebels Who Sparked the Supply-Side Revolution and Restored American Prosperity, dia menggunakan istilah shrinkflation untuk membedakannya dengan stagflasi.

Stagflasi sendiri merupakan istilah yang menggambarkan tren harga tetap atau stagnan, disertai dengan tingkat pengangguran yang relatif tinggi.

Baca Juga :  Palembang Kebanjiran Buah, Pedagang Sampai Buka Lapak 24 Jam loh!

“Setelah Perang Dunia II, perdagangan Amerika Serikat terdepresi untuk periode stagflasi akut. Sebenarnya, itu adalah ‘penyusutan’ (shrinkflation), di mana ekonomi terkontraksi karena harga melonjak,” tulis Domitrovic.

Melansir Investopedia, penyusutan atau shrinkflation adalah istilah yang terbentuk dari dua kata terpisah, yakni menyusut dan inflasi.

Shrink dalam shrinkflation berhubungan dengan perubahan ukuran produk, sedangkan bagian flation mengacu pada inflasi atau kenaikan tingkat harga.

Shrinkflation pada dasarnya adalah bentuk inflasi tersembunyi. Perusahaan sadar bahwa pelanggan kemungkinan besar akan melihat kenaikan harga produk, untuk itu dilakukan pengurangan ukuran produk.

Di mana, penyusutan yang minim, kemungkinan tidak begitu diperhatikan oleh konsumen.

Langkah shrinkflation juga diterapkan sebagai pertimbangan perusahaan untuk tidak membebankan kenaikan harga kepada konsumen, melainkan jumlah produk.

Penelitian akademis juga menunjukkan bahwa konsumen lebih sensitif terhadap kenaikan harga yang eksplisit daripada perampingan kemasan.

Di sisi lain, praktik shrinkflation dapat mengakibatkan persepsi dan pandangan negatif dari konsumen untuk kembali membeli produk. Itu karena, adanya volume produk yang statis atau menurun dari waktu ke waktu.

Untung-Rugi Shrinkflation

Efektivitas shrinkflation sebagai strategi penetapan harga produk memiliki dampak yang bervariasi, tergantung jenis barang dan pasar dari produk itu sendiri.

Baca Juga :  Jadikan Pelatihan Vocational sebagai awal Bisnis E-Commerce Sukses

Sebagian besar konsumen umumnya tidak memeriksa ukuran suatu produk.

Sebagai contoh, seseorang yang menyukai keripik kentang, misalnya, mungkin tidak menyadari jika produk favorit mereka mengurangi ukuran kemasan sekitar 5 %, namun hampir pasti dapat mengetahui apakah harganya naik dengan jumlah yang sama.

Sementara itu, Pemerintah Inggris secara berkelanjutan mengawasi aksi shrinkflation.

Menurut Kantor Statistik Nasional (ONS), periode awal 2012 dan Juni 2017, terdapat 2.529 produk yang mengalami penurunan ukuran, sementara hanya 614 yang menjadi lebih besar.

Menariknya, efek penyusutan produk tersebut tidak memengaruhi harga jual produk, termasuk kategori makanan dan minuman non-alkohol.

Padahal, ONS menghitung fenomena penyusutan tersebut terjadi saat kategori gula, selai, sirup, cokelat, dan kembang gula mengalami inflasi 1,2 % sejak awal 2012 sampai Juni 2017.

Di Amerika, sekotak tisu bermerek Kleenex berisi 60 lembar, dari sebelumnya 65 lembar. Di Inggris, Nestle mengurangi ukuran sekaleng kopi Nescafe Azera Americano dari 100 gram menjadi 90 gram.

Di India, ukuran sabun batangan merek Vim menyusut dari 155 gram menjadi 135 gram. Selain itu, perusahaan juga dapat menggunakan trik tertentu untuk mengalihkan perhatian konsumen dari shrinkflation, seperti menandai paket yang lebih kecil dengan label baru yang cerah dan menarik bagi pembeli.

Baca Juga :  Sebagian Masyarakat Indonesia Masih Unbanked, Rupiah Digital Sebagai Solusi?

Hal itu dilakukan Fritos, produk makanan ringan besutan Pepsi co tersebut, merampikan kemasan ukuran pesta (party size) yang dulunya memiliki berat bersih 18 ons, menjadi 15,5 ons, bahkan dibanderol dengan harga lebih mahal.

Tidak semua produsen tertutup atau melakukan shrinkflation secara diam-diam. Di Jepang, produsen makanan ringan Calbee Inc. mengumumkan pengurangan berat 10 % dan kenaikan harga 10 % untuk berbagai produknya pada Mei 2022.

Mereka beralasan, itu dilakukan di tengah tekanan harga bahan baku yang naik tajam.

Corporate Communications Dabur India, sebuah perusahaan perawatan diri dan makanan, Byas Anand mengatakan bahwa down switching istilah lain dari shrinkflation kebanyakan terjadi di daerah pedesaan, di mana konsumen lebih sensitif terhadap perubahan harga.

“Di kota perusahaan cukup menaikkan harga. Perusahaan kami sudah melakukan itu secara terbuka sejak lama,” kata Anand.

Dalam beberapa kasus, shrinkflation membuat keuntungan perusahaan meningkat secara eksponensial. Dia merujuk ke Mondelez International, yang mengecilkan ukuran batangan coklat Cadbury Dairy Milk di Inggris tanpa menurunkan harganya.

Menariknya, pendapatan operasional perusahaan justru naik 21 % pada tahun lalu, tetapi turun 15 % jika dibandingkan kuartal pertama, karena meningkatnya tekanan biaya.

Sebagai perbandingan, laba operasional PepsiCo naik 11 % pada tahun 2021 dan 128% pada kuartal pertama.

Komentar