SWARAID, JAKARTA: Penerbitan mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC) alias rupiah digital dinilai selain dapat mendorong inklusi keuangan di Indonesia di tengah masifnya gempuran digitalisasi, juga menjadi solusi bagi masyarakat Indonesia yang masih unbanked.
Hal tersebut disampaikan General Manager Bank for International Settlement (BIS) Agustin Carstens dalam diskusi daring, Senin (25/4/22).
Cartens menilai, rupiah digital dapat menjangkau kelompok masyarakat Indonesia yang selama ini masih belum memiliki akun bank (unbanked).
Penerbitan mata uang digital ini dirasa dapat membantu memperdalam inklusi keuangan dan mengatasi batasan antara mereka yang sudah mengakses layanan perbankan dengan yang belum.
“Hal ini terutama relevan untuk negara-negara seperti Indonesia, yang memiliki wilayah pulau yang luas dan masih banyak penduduknya yang yang belum memiliki akses ke layanan keuangan,” jelas Cartens.
Lebih lanjut, Cartens memaparkan beberapa faktor penyebab masarakat Indonesia masih banyak yang tergolong unbanked. Diantaranya disebabkan karena faktor kemiskinan.
Selain itu, pertimbangan akan biaya logistik, jarak perjalanan, serta dokumen dan proses pembuatan rekening baru.
Kemudian satu faktor lagi yang juga menjadi pertimbangan, yakni kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
Mata uang digital sebagai alternatif
Melihat beberapa faktor tersebut, maka penerbitan mata uang digital dapat menjadi alternatif atas persoalan tersebut.
CBDC menyediakan alternatif biaya yang lebih rendah yang juga memungkinan adanya integrasi antar penyedian layanan keuangan.
CBDC juga menawarkan uji tuntas atau due diligence yang lebih sederhana bagi pelanggan.
“Tetapi memang perlu solusi agar CBDC bisa bekerja bahkan di area dengan konektivitas internet yang buruk, dan solusi tersebut harus terintegrasi dengan solusi atas identitas digital untuk memastikan layanan dan privasi berjalan mulus,” kata Cartens.
Diterangkan pula oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam agenda yang sama, ada tiga alasan pentingnya penerbitan mata uang digital.
Pentingnya penerbitan mata uang digital
Pertama, CBDC makin dibutuhkan di tengah pesatnya perkembangan aset digital, terutama aset kripto. Menurutnya, tren aset kripto bisa menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan dan moneter global. Di samping itu juga terdapat risiko pemanfaatan kripto untuk kejahatan berupa pencucian uang dan pendanaan terhadap terorisme.
Kedua, sudah banyak bank sentral yang ancang-ancang menerbitkan CBDCnya masing-masing.
Ketiga, nasib sistem moneter internasional kedepannya. Perkembangan mata uang digital tentu menimbulkan pertanyaan terkait bagaimana sistem moneter internasional, dolarisasi dan bagaimana penentuan nilai tukar antar negara nantinya.
Karena itu, perlu ada pembahasan untuk mencapai prinsip umum dan kesepakatan yang luas antarnegara.
Kendati demikian, bank sentral di seluruh dunia perlu memastikan mengenai integrasi, interoperabilitas, dan interkonektivitas infrastruktur pembayaran, yang saling terhubung dengan berbagai infrastruktur pasar keuangan.
“Dimana bank sentral dapat menggunakan acuan untuk mengembangkan CBDC di bawah negara sendiri, juga kesepakatan yang luas antar negara dan kemudian menggunakan CBDC sebagai sistem moneter internasional,” jelas Perry.















Komentar