oleh

Sabut Kelapa harus Jadi Nilai Tambah Sendiri bagi Petani

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :538 kali | Durasi baca : 3 Menit

SWARAID – PALEMBANG, (12/11/20) : Timbunan sabut kelapa yang hanya jadi limbah selama ini menjadi motor PT Mahligai Indococo Fiber (Lampung) dan PT Raksasa Cipta Niscala melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam pengelolahan produk turunan pertama dari kelapa tersebut, dalam acara FGD yang diadakan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, dalam peningkatan Akses Pasar serta Pengembangan Produk Utama dan Produk Samping Kelapa Berbasis Kelompok Tani (Poktan).

Penandatanganan MoU kedua perusahaan tersebut yang berisi tentang PT Mahligai Indococo Fiber (Lampung) perusahaan yang memproduksi cocopeat dan cocofiber, dalam kerjasama ini akan menyediakan pelatihan dan peralatan produksi, sedangkan PT Raksasa Cipta Niscala akan mengelola produk turunan kelapa yang dalam MoU yang di maksud adalah pengolahan dari sabut kelapa.

Hal ini terjadi setelah peserta FGD melakukan kunjungan ke CV Agro Mandiri Internusa sebagai perusahaan yang mengelola kelapa menjadi kopra, para peserta diperlihatkan timbunan sabut kelapa yang terbuang sebagai limbah dari produk kopra yang tidak dimanfaatkan oleh CV Agro Mandiri Internusa.

Sebagai daerah penghasil kelapa nomor 2 (dua) terbanyak di Indonesia menjadi perhatian oleh Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan yang mencoba jadi penyambung antara dua perusahaan tersebut, agar nantinya sabut kelapa yang selama ini menjadi limbah akan menjadi nilai tambah bagi para petani.

Baca Juga :  Resmi DiLantik ; HKTI Sumsel Harus Turut Andil Mensejahterakan Petani Indonesia !

“Tujuannya ingin memberikan kerjasama dalam bentuk jual beli produksi turunan kelapa, petani ada jaminan pembelinya, dan pengusaha juga ada jaminan pasokan bahan baku. Di harapkan dengan kerjasama ini harga kelapa bisa lebih baik lagi dari yang sebelum-sebelumnya.” Terang Ir. Fahrurrozi selaku Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemerintah Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Rudi Arpian menjelaskan alasan memadukan dua perusahaan tersebut yang akan mengolah sabut kelapa sebagai bahan baku didalam kesepakatan.

“Kesepakatan kerjasama antara direktur PT Mahligai Indococo Fiber, Efli Ramli yang berada di Lampung sebagai produsen cocofiber dan cocopeat dari bahan baku sabut kelapa. Sementara di Sumatera Selatan sabut kelapa dibuang begitu saja sebagai sampah dibakar dan menjadi masalah. Makanya kita coba lakukan kerjasamakan antara PT. Mahligai Indococo Fiber dengan PT Raksasa Cipta Niscala. Dan mereka akan mengikat kontrak dimana peralatan akan disediakan pabrik Lampung dan yang disini akan mengolah menjadi dua produk itu cocofiber dan cocopeat,” terang Rudi Arpian kepada SWARAID.

Rudi Arpian kembali menuturkan setelah penandatanganan kerjasama ini, sabut kelapa yang selama ini tidak dimanfaatkan oleh petani di Banyuasin. Setelah ini bisa menjadi nilai tambah bagi petani kelapa, dengan mengelolanya.

Baca Juga :  Polrestabes Mengamankan Ratusan Pemuda dan Pelajar, Anom : Menindak Tegas Provokator

“Ini kita harapkan bisa jadi jalan artinya yang selama ini terbuang percuma kini bisa di manfaatkan,” jelasnya.

Selain itu Rudi Arpian juga menyampaikan bahwa CV Amran Sulaiman juga telah berkomitmen dengan kelompok tani di Banyuasin, sebagai penyuplai bahan baku yang dibutuhkan.

“Jadi bedanya produk kelapa ini sebenarnya kita bukan mencari pembeli, tapi pembeli lah yang mencari penjual karna memang sabut kelapa ini yang memproduksinya langkah, jadi kebutuhan dunia itu masih sangat kurang jauh sekali. Saat ini kita hanya ekspor kelapa bulat, namun kali ini turunannya juga bisa kita ekspor, yang selama ini terbuang percuma.” sambung Rudi Arpian.

Selain itu Rudi Arpian menuturkan kendala selama ini dimana tidak ada pasar untuk menjual hasil pengolahan produk turunan.

“Kali ini kita siapkan pasar dulu, pasarnya ada baru petani membikin produk sesuai dengan standar tujuan ekspor, jadi polanya berbeda dengan terdahulu dimana kita suport alat-alat produksi tanpa memperhitungkan setelah itu produksi mereka akan dipasarkan kemana. Tapi sekarang kita MoU kan ini loh pembelinya, petani bisa gak buat, kalau masih gak bisa ya keterlaluan, spek sudah disiapkan alatnya sudah disiapkan, tinggal kemauan saja.” Tegasnya.

Baca Juga :  Website Pasar Online Hadir warnai Pasar E-Commerce Palembang

Menurut nya kerjasama ini akan mulai berjalan ekspor di tahun 2021, untuk saat ini baru persiapan.

Sementara itu Elfy Ramli selaku Dirut PT Mahligai Indococo Fiber menuturkan pengolahan sabut kelapa juga bisa di kembangkan di Banyuasin.

“Dengan penandatanganan ini harapannya di Banyuasin berkembang industri pengolahan sabut kelapa karena pasarnya cukup besar dan kita punya bahan baku. Dalam kerjasama ini kami menyediakan ahli teknologi, supaya industri pengolahan sabut kelapa bisa berkembang dengan baik.” Terangnya.

Mahmud Ahmad Dirut PT Raksasa Cipta Niscala juga menjelaskan bahwa sabut kelapa di Banyuasin sangat melimpa, selama ini belum ada pengelolaan yang optimal.

“Kenapa dengan pak Efli karena saya lihat yang pertama berhasil, Binsos turunan kelapa di Indonesia adalah bapak Efli.” Jelasnya

Mahmud juga menambahkan bahwa dalam kesepakatan Dirut PT Mahligai Indococo Fiber Efli Ramli akan lakukan pembinaan kepada masyarakat.

“Jadi pak Efli sebagai pembina, kita akan bayar langsung dengan apa yang kita hasilkan, jadi standar kualitas pun bisa dikontrolnya.” Tutupnya.

Komentar

Berita Lainya