20 Mei 2022 - 07:06 WIB | Dibaca : 1,229 kali

Mulai 23 Mei Keran Ekspor CPO Kembali Dibuka, Berpotensi Turun Harga?

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA: Pemerintah akan kembali membuka keran ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya pada Senin (23/5/22). Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo melalui konferensi pers, Kamis (19/5/22).

“Saya putuskan ekspor minyak goreng akan dibuka lagi pada Senin 23 Mei 2022,” tegas Presiden.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyambut baik keputusan Presiden Joko Widodo tersebut.

Namun dijelaskan Sekretaris Jenderal Gapki Eddy Martono, kebijakan tersebut berpotensi untuk menurunkan harga CPO global.

Eddy menyatakan pembukaan keran ekspor CPO dan produk turunannya merupakan langkah yang tepat. Saat ini, kapasitas tampung CPO di lebih dari 50% tangki milik perusahaan kelapa sawit (PKS) dan industri sudah mulai penuh.

PKS adalah entitas yang menyerap tandan buah segar (TBS) dan mengubahnya menjadi CPO. Adapun, kapasitas penampungan CPO di dalam negeri sekitar 5 juta ton.

“Kalau ini (keran ekspor) dibuka kembali, yang akan dilakukan (PKS) adalah mengeluarkan CPO dari tangki-tangki dengan catatan pembeli CPO juga sudah membeli kembali. Di industri hilir pasti juga akan melakukan hal yang sama agar mereka dapat mengoptimalkan kembali produksi,” kata Eddy.

Baca Juga :  KMHDI Dorong Ada Representasi Umat Hindu di Kabinet Prabowo-Gibran

Eddy optimistis CPO dan produk turunannya dari Indonesia masih diminati oleh pasar global. Hal itu karena permintaan minyak nabati dunia sedang tumbuh didorong oleh terbatasnya pasokan dari produsen utama.

Saat ini, harga CPO di pasar ekspor melonjak secara tahunan. Gapki mendata rata-rata harga CPO setelah biaya logistik dan asuransi (cost, insurance, and freight/Cif) di Rotterdam, Belanda mencapai US$ 1.813 per ton per Maret 2022.

Angka tersebut naik 62,45% dari harga CPO Cif Rotterdam per Maret 2021 senilai US$ 1.116 per ton. Eddy mengatakan, pembukaan keran ekspor CPO bisa mempengaruhi harga global. Sebab, pembukaan ekspor akan menambah pasokan minyak nabati dunia.

“Kemungkinan harga (CPO) internasional akan turun, walaupun mungkin tidak signifikan,” kata Eddy.

Kendati keran ekspor dibuka, namun pemerintah tetap akan mengawasi pasokan minyak goreng kepada masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) di Pasar Spot Medan ditutup turun 1,34% menjadi Rp26.453,87 per kilogram (kg) pada perdagangan Rabu, 18 Mei 2022, dari penutupan sehari sebelumnya.

Baca Juga :  Harga Minyak Goreng Menggila, Pengusaha Pempek Kian Resah

Pencabutan larangan ekspor inipun dinilai Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal sebagai langkah yang tepat.

Sebab, yang menjadi biang kerok dalam masalah mahalnya minyak goreng bukan dari sisi suplai melainkan dari sisi distribusi.

Ia mengatakan dengan adanya kebijakan larangan ekspor CPO yang diberlakukan pada 28 April kemarin, ini justru malah menimbulkan mudharat dari sisi hulu. Pasalnya, selama ini suplai sudah sangat mencukupi.

“Sejak awal, yang menjadi masalah adalah dari sisi distribusi. Dari produsen ke konsumen ada bottleneck, tapi kemudian respon pemerintah malah fokus di hulu, seolah-olah pasokannya kurang,” jelas Faisal.

Kebijakan pemerintah yang fokus pada hulu, imbuhnya, malah membuat banyak masalah seperti harga tandan buah segar (TBS) yang turun hingga anjloknya pendapatan petani.

“Jadi memang semestinya dicabut, sehingga masalah di hulu bisa diredam karena itu berpacu dengan waktu. Yang perlu dibereskan itu di hilir, pertama dengan terus melakukan investigasi. Kedua jangka pendek, pemerintah bisa menyalurkan (minyak goreng) dalam cara yang tepat melalui aplikasi dan itu untuk kelas bawah aja,” kata Faisal.

Baca Juga :  Antisipasi Panic Buying, Sejumlah Minimarket Lakukan Batasan Pembelian Minyak Goreng

Komentar