Setelah batalnya gelaran tersebut, Timnas Indonesia U-20 harus mengubur mimpi bisa bermain di Piala Dunia
Penulis : Nabila Rahma Daniati*)
Seperti yang kita tau, Piala Dunia U-20 FIFA, atau sebelum 2005 disebut Piala Dunia Pemuda FIFA adalah kejuaraan sepak bola resmi yang diadakan FIFA setiap dua tahun sekali. Kejuaraan ini diikuti oleh setiap negara yang mengirimkan tim nasional sepak bola di kelompok umur di bawah 20 tahun.
Terdapat beberapa tim yang mewakili negaranya antara lain Afrika: Gambia, Nigeria, Senegal, dan Tunisia. Concacaf: Dominika, Guatemala, Honduras, dan Amerika Serikat. Amerika Selatan: Brasil, Kolombia, Ekuador, dan Uruguay. Oseania: Fiji, dan Selandia Baru. Eropa: Italia, Inggris, Prancis, Israel, dan Slovakia. Asia: Uzbekistan, Jepang, Korea Selatan, dan Irak.
Pada Sabtu (1/4/23), Timnas Indonesia U-20 resmi dibubarkan. Hal itu disampaikan Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong, usai melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi di SU GBK. Pelatih Timnas U-20 Shin Tae-yong memimpin sesi latihan terakhir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Meskipun terlihat tetap profesional dalam melatih para pemain, di sisi lain, pelatih asal Korea Selatan itu menyayangkan persiapan yang sudah disusun pupus karena Piala Dunia junior tak jadi terlaksana di Indonesia.
Dihapusnya status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 otomatis tak ada tempat bagi skuad Garuda Nusantara untuk tampil di ajang dua tahunan tersebut. Setelah batalnya gelaran tersebut, Timnas Indonesia U-20 harus mengubur mimpi bisa bermain di Piala Dunia.
Dan kini, Timnas Indonesia U-20 yang sudah dibentuk beberapa tahun belakangan harus bubar di tengah jalan.
Menurut pernyataan dari Shin Tae-yong, bahwa alasan pembubaran Timnas Indonesia U-20 ini lantaran tidak memiliki agenda terdekat sehingga dirinya memutuskan untuk memulangkan para pemain ke klubnya masing-masing.
Alasan pembubaran ini tentu tidak terlepas dari dampak batalnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Bahkan dikabarkan Timnas Indonesia U-20 juga batal tampil di Piala Dunia U-20 2023.
Batalnya Indonesia sebagai tuan rumah lantaran terdapat polemik penolakan terhadap timnas Israel untuk tampil di Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia sehingga FIFA mengambil keputusan untuk membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah.
Walaupun Ketum PSSI Erick Thohir telah bertemu dan melobi langsung ke FIFA, namun keputusan itupun tidak bisa dirubah. Sehingga Indonesia kini hanya bisa pasrah dan menerima keputusan tersebut.
Dalam pernyataan itu, FIFA menyebutkan bahwa Indonesia berpotensi menerima sanksi usai pencoptan status tuan rumah Piala Dunia U20 2023.
FIFA menyatakan tuan rumah baru akan segera ditentukan. Sejauh ini baru Argentina yang menyampaikan proposal resmi sebagai pengganti tuan rumah Piala Dunia U-20 2023.
Lalu bagaimana nasib para pemain? Pertanyaan ini yang digadang-gadang masyarakat Indonesia yang sedih dan kecewa karena kejadian ini. Pasalnya saat ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20 ini menjadi kunci Indonesia bisa bermain di laga dunia dan menjadikan cahaya Indonesia di kancah dunia dan menjadi momentum yang ditunggu-tunggu banyak orang, namun pupus begitu saja.
Anggota Timnas U-20 Indonesia, Arkhan Kaka buka suara tentang nasib karirnya di sepak bola jika nantinya Indonesia terkena sanksi dari FIFA. Ini menyusul FIFA yang membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023.
Pemain muda Persis Solo itu mengaku belum ada rencana spesifik tentang nasib karir sepak bolanya karena masih menunggu sanksi apa yang akan diberikan FIFA untuk sepak bola Indonesia.
“Untuk saya sendiri belum tahu bagaimana ke depannya. Kita kan juga belum tahu sanksinya dari FIFA ini seperti apa. Pokoknya saya pengen berkarir di luar negeri,” kata Arkhan ketika ditemui awak media di depan FX Sudirman, Jakarta, Jumat (31/3/23).
Saat hadir di acara Aksi Duka 1 Juta Pita Hitam untuk Timnas dan Piala Dunia U-20 bersama rekan timnasnya yang berposisi sebagai kiper Aditya Arya Nugraha, Arkhan tak bisa menyembunyikan kesedihannya karena gagal tampil di Piala Dunia U-20.
Namun bagaimana pun kita harus tetap mengikuti aturan yang ada dan tetap terus mendukung sepak bola Indonesia.
*)Mahasiswi Semester IV Fak. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang















Komentar