20 Juni 2022 - 02:35 WIB | Dibaca : 237 kali

PKB-Gerindra Sepakat Koalisi, Dinilai Seperti Cinta Monyet

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai koalisi PKB-Gerindra seperti cinta monyet yang masih sangat mungkin berubah

SWARAID, JAKARTA: Menggunakan nama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) telah sepakat untuk menjalin kerja sama untuk menghadapi Pemilu 2024.

Pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan diusung KKIR adalah Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, dengan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar alias Gus Muhaimin alias Cak Imin.

“PKB dan Gerindra sepakat membentuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya dengan pasangan Mas Bowo – Gus Muhaimin,” kata Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid dalam keterangannya pada Minggu (19/6/22).

Soal waktu pendeklarasian, kata Jazilul, masih mencari hari yang tepat untuk mengumumkan. “Kami sedang mencari hari yang baik untuk mendeklarasikan secara resmi pasangan Mas Bowo-Gus Muhaimin,” ujar Jazilul.

PKB memang sempat dikabarkan akan menjalin koalisi dengan PKS serta Demokrat. Jazilul menyebut kerjasama ketiga partai itu dengan sebutan Koalisi Semut Merah. Meskipun partainya sudah berkoalisi dengan Gerindra, Jazilul menyatakan mereka masih membuka peluang dengan PKS dan Demokrat untuk bergabung.

Baca Juga :  Sri Mulyani : Teknologi Memberi Banyak Peluang dan Akan Banyak Orang Kesepian Juga

Dinilai seperti cinta monyet

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai koalisi PKB-Gerindra masih sangat dinamis. Dia bahkan menyebut koalisi ini seperti cinta monyet yang masih sangat mungkin berubah.

Adi menilai manuver politik PKB ke Gerindra seperti cinta monyet yang berarti gampang berubah-ubah. Padahal sebelumnya menyatakan dekat dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat untuk berkoalisi.

“Melihat PKB ini serius mau berkoalisi terkesan cinta monyet, lompat-lompat. Karena sebelumnya PKB ini menyatakan menjalin hubungan cinta segitiga dengan PKS dan Demokrat baru kemarin lalu. Malamnya menyatakan cocok dengan Gerindra,” katanya, dikutip Katadata.

Pergerakan PKB itu, menurut Adi, membuat Gerindra pun nampak tidak menyambutnya dengan sumringah. Sebab PKB terlihat banyak memberi hati kepada banyak partai.

“Saya khawatir PKB keteteran sendiri dekat dengan banyak orang, dekat dengan banyak partai. Gimana politik bisa berubah dalam sekejap? Bagi PKB itu makanya saya bilang ini mirip-mirip cinta monyet. Makanya orang bingung melihat maunya PKB ini apa?” tuturnya.

Baca Juga :  Butuh Kekompakan dan Sinergitas untuk Sukseskan Pemilu 2024 di Sumsel

Selain itu, Adi juga menilai Gerindra masih ragu dengan Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden untuk bersanding dengan Prabowo Subianto. Menurut dia, Prabowo membutuhkan calon wakil presiden yang memiliki elektabilitas menonjol, seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

“Kalau bicara normatif cocok, tapi kalau pada level praktis agak rumit karena Prabowo itu kalaupun maju butuh cawapres yang relatif memberikan insentif politik electoral. Minimal cawapres Prabowo itu disurvei itu muncul secara signifikan,” katanya.

Dia memprediksi Prabowo Subianto juga belum tentu mau bersanding dengan Cak Imin karena elektabilitasnya jauh berbeda. Jika diasumsikan untuk menggaet suara dari Nahdlatul Ulama, Gerindra pun tidak dijamin bakal mendapatkan suara organisasi massa tersebut melalui PKB ketika berkoalisi.

“NU di bawah Gus Yahya tegas tidak boleh dilibatkan dalam politik struktural, tidak boleh dilibatkan dalam politik elektoral, tidak boleh dicaplok, dan diklaim menjadi bagian partai politik tertentu. Ini jelas merugikan PKB,” ujarnya.

Komentar