4 Februari 2022 - 05:07 WIB | Dibaca : 1,210 kali

Pemerintah Akan Kasih Dana Kompensasi Hingga Rp30 T, Pertamina: Masih Menunggu!

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA: Harga minyak mentah dunia telah menembus US$ 90 per barel. Seiring dengan kenaikan tersebut, harga keekonomian BBM jenis Pertalite terus merangkak.

Diinformasikan harga jual Pertalite ke masyarakat masih di angka Rp 7.650/liter.

Untuk menjaga agar tidak berdampak terhadap masyarakat dan keuangan Pertamina, pemerintah berencana menyiapkan dana kompensasi sekitar Rp 25-30 triliun. Hal tersebut agar harga jual Pertalite ke masyarakat tidak ikut naik.

Masih dengan skema yang ada

Diterangkan Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Usaha BUMN, Riset, dan Inovasi Kemenko Perekonomian Montty Girianna dalam diskusi Energy Corner, Rabu (2/2/22)

“Pemerintah sepakat untuk memberikan kepastian angka itu disediakan pemerintah, dan gak akan melebihi angka yang tahun sebelumnya. Jadi gak lebih dari itu Rp 25-30 triliun mungkin ya. Tapi itu masih nanti sih sepertinya,” kata dia.

Sembari menunggu terlaksananya rencana tersebut, dijelaskan Montty, pemerintah masih akan tetap melakukan pemberian skema kompensasi yang ada sekarang.

Ke depannya pemerintah berencana akan mengalihkan pemberian subsidi BBM secara langsung kepada masyarakat agar tepat sasaran.

Baca Juga :  Minyak Terus Melonjak, Disdag Sumsel Gelar Operasi Pasar Murah Jilid II di 18 Titik

“Tapi kalau sudah siap, ini subsidi langsung ya itu tepat. Kita juga lihat bagaimana performance kompensasi yang ada ini dalam beberapa bulan ke depan. Ini kan kita evaluasi periodik ya,” ujarnya.

Memperhatikan pergerakan harga minyak mentah dunia yang dinamis, Montty berkeyakinan pemerintah akan mampu untuk memberi dana kompensasi kepada Pertamina.

Harga minyak dunia

Menyalin Katadata, harga minyak jenis Brent untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun menembus US$ 90 per barel pada perdagangan Rabu (26/1).

Meskipun ketika itu Brent ditutup pada level US$ 89,96 atau naik US$ 1,76 dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (28/1), Brent sempat menyentuh level US$ 91,70 per barel. Harga minyak acuan global ini kini bergerak di level US$ 89,40 per barel.

Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) juga terus naik mendekati US$ 90 per barel ke level US$ 88,45.

Ketatnya pasokan di tengah pulihnya permintaan, serta kondisi geopolitik yang memanas antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) terkait isu Ukraina menjadi faktor pendorong naiknya harga minyak.

Baca Juga :  Meski Tren Harga Kontrak Aramco Melejit, Pemerintah Tetap Pertahankan Harga Elpiji Subsidi

Di sisi lain, negara-negara produsen minyak dunia yang tergabung dalam OPEC dan sekutunya Rusia, OPEC+, belum akan mengubah kebijakan untuk menaikkan produksi secara bertahap sebesar 40.000 barel per hari.

“OPEC+ kemungkinan akan mempertahankan kebijakannya, yang berarti kekurangan pasokan dan tren kenaikan harga minyak akan terus berlanjut,” kata analis komoditas di Rakuten Securities, Satoru Yoshida, seperti dikutip Reuters, Rabu (2/2).

Sementara Rusia dilaporkan telah memobilisasi ribuan pasukannya ke perbatasan Ukraina. Hal ini memicu kekhawatiran pasar bahwa invasi terhadap Ukraina sudah di depan mata.

Jika terjadi, konflik dikhawatirkan mengganggu pasokan gas ke Eropa. Rusia juga merupakan salah satu negara pengekspor minyak terbesar dunia.

“Pasar khawatir pasokan terganggu. Kemungkinan besar pasokan akan berlanjut, tapi risikonya tak dapat diabaikan sesuatu dapat mengganggu keseimbangan pasar,” ujar kepala penasihat dan analis geopolitik di S&P Global Platts, Paul Sheldon, beberapa waktu lalu, Kamis (27/1), seperti dikutip Reuters.

Menanti kepastian kompensasi

Sementra pihak Pertamina masih menantikan kepastian pemberian dana kompensasi untuk BBM jenis Pertalite. Hal tersebut seiring dengan harga jual keekonomian produk Pertalite yang telah tembus Rp 11.000 per liter imbas terus naiknya harga minyak mentah dunia.

Baca Juga :  Kejagung Dalami Kasus Beras Oplosan, PT Belitang Panen Raya Tidak Hadir

“Belum final, masih didiskusikan antar Kementerian. Kami juga masih menunggu,” kata Pjs. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, SH C&T Irto Ginting, Kamis (3/2/22).

Komentar