SWARAID, PALEMBANG: Menurut Bapak Pendidikan Nasinal Indonesia, Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Menurut Plato, pendidikan adalah sesuatu yang dapat membantu perkembangan individu dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang dapat memungkinkan tercapainya sebuah kesempurnaan.
Dan menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan ter-rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Pendidikan merupakan kunci utama suatu negara dapat unggul dalam persaingan dunia. Terbangunnya peradaban yang tinggi bergantung terhadap tingkat pendidikan suatu negara.
Dari masa kolonial Belanda, Indonesia sudah mengenal pendidikan. Bahkan, dari sekian banyak sisitem yang ditinggalkan Belanda di Indonesia, pendidikan salah satunya.
Akan tetapi, pendidikan di masa itu belum seperti yang kita kenal saat ini.
Pendidikan masa kolonial Belanda
Setelah diberlakukannya Politik Etis atau politik balas budi pada tahun 1901, di Hindia-Belanda sudah mulai berdiri beberapa sekolah sebagai wujud nyata dari program Politik Etis.
Beberapa sekolah di masa kolonial Belanda
Eurospeesch Lagere School (ELS)
ELS adalah pendidikan tingkat sekolah dasar. Yang bisa sekolah adalah keturunan Belanda dan Eropa, serta rakyat Indonesia yang terpandang.
Di sana anak-anak belajar selama 7 tahun dan materi diajarkan dengan menggunakan bahas Belanda.
Sekolah ini didirikan tahun 1817, awalnya hanya keturunan Belanda yang boleh bersekolah di sini, kemudian tahun 1903 rakyat Indonesia boleh sekolah di sini.
Namun setelah ada sekolah lain seperti HCS dan HIS, ELS kembali diperuntukkan bagi keturunan Belanda.
Hollandsch Chineesche School (HCS)
HCS didirikan tahun 1908 dan diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Tionghoa di Indonesia. Pendidikan ditempuh selama 7 tahun dan menggunakan bahasa Belanda.
Hollandsch Inlandsche School (HIS)
HIS adalah sekolah dasar yang didirikan 1914. Yang bisa bersekolah hanyalah anak Indonesia keturunan bangsawan atau tokoh terkemuka. Bahasa yang digunakan pun adalah Bahasa Belanda.
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
MULO adalah sekolah menengah pertama, masa pendidikan yang ditempuh selama 3 tahun.
Algemeene Middelbare School (AMS)
AMS adalah sekolah menengah atas yang juga ditempuh selama 3 tahun.
Hoogere Burgerschool (HBS)
HBS adalah sekolah menengah pertama. Yang boleh bersekolah juga adalah orang Belanda, Eropa, Tionghoa, dan rakyat Indonesia yang terpandang.
Schakel School
Schakel school adalah sekolah rakyat daerah. Bahasa yang digunakan juga adalah bahasa Belanda.
School Tot Opleding Inlansche Artsen (STOVIA)
STOVIA adalah sekolah pendidikan dokter, semua calon dokter di sana harus tinggal di asrama dengan mengenakan pakaian adat daerah masing-masing.
Wahidin Soedirohoesodo merupakan salah satu lulusan dari STOVIA.
Sekolah-sekolah gaya barat tersebut diharapkan mampu melakukan pencerahan terhadap pribumi. Tetapi, harapan tersebut berbeda dengan kenyataan.
Pribumi-pribumi yang hendak bersekolah mengalami berbagai rintangan yang menyulitkan mereka. Nasution dalam Sejarah Pendidikan Indonesia (1983) memaparkan beberapa ciri umum yang mengiris hati dan dapat menggambarkan sulitnya akses pendidikan pada masa itu.
Pendidikan Serendah mungkin bagi Pribumi
Ciri ini dikenal dengan prinsip gradualisme. Prinsip ini berupaya menciptakan pendidikan untuk Pribumi dengan serendah mungkin. Karena diciptakan serendah mungkin, harapannya yaitu agar Pribumi tidak tercerahkan akibat pendidikan.
Alasan lainnya ialah karena pemerintah Belanda saat itu tidak ingin keluar uang banyak untuk operasional pendidikan.
Pendidikan berorientasi ke barat
Aspek-aspek pendidikan saat itu wajib berkiblat pada barat dan modernitas. Mulai dari kurikulum hingga materi pembelajaran. Meski demikian, pendidikan gaya barat ini memiliki aspek positif, yakni dapat memperluas wawasan anak pribumi tentang dunia global.
Mencetak pegawai pemerintahan Belanda
Seperti yang diketahui, setelah lulus sekolah terdapat dua opsi, lanjut sekolah lagi atau menjadi pegawai. Tidak banyak dari mereka, golongan pribumi, yang melanjutkan sekolah karena biaya yang mahal. Jalan lain ialah menjadi pegawai.
Maka karena itu, bisa dibilang, sekolah dipandang sebagai batu loncatan bagi mereka yang ingin menjadi pegawai pemerintahan Belanda. Menjadi pegawai pemerintahan Belanda dapat menjadi langkah pribumi untuk mendapatkan status sosial yang lebih baik.
Terlepas dari sulitnya akses pendidikan pada masa itu, tidak dapat dimungkiri dari tiga program Politik Etis (pendidikan, transmigrasi, dan irigasi) salah satu yang paling berhasil ialah program pendidikan.
Pergulatan dalam meraih pendidikan dan halangan dan rintangan yang dihadapi pribumi berbuahkan hasil, yakni kemerdekaan Indonesia.
Mempertahankan perbedaan sosial
Pemerintah Belanda pada saat itu menerapkan prinsip dualisme. Dalam prinsip itu, pemerintah dengan sengaja menekankan perbedaan-perbedaan yang memperkuat perbedaan sosial di masyarakat.
Misalkan saja pada saat itu, terdapat sekolah untuk kalangan western dan pribumi yang memperjelas perbedaan itu. Dengan kata lain, maksud dari prinsip ini ialah berupaya untuk memperjelas perbedaan sosial dan menahan laju perubahan sosial di masyarakat akibat pencerahan pada pendidikan.
Birokrasi rumit
Pada saat itu, kebijakan pendidikan ditentukan oleh pemerintah pusat di Belanda. Bisa dibilang, pendidikan saat itu dikontrol dengan sangat ketat oleh pemerintah pusat. Akibatnya, guru tidak memiliki peran dan pengaruh terhadap kebijakan pendidikan di Hindia-Belanda.
Tidak adanya rancangan pendidikan yang sistematis
Pendidikan pada masa itu tidak dirancang dengan sistematis. Akibatnya, pendidikan terus mengalami perubahan dan percobaan akibat protes dari golongan pribumi yang menuntut agar pendidikan pada saat itu dibuat menyeluruh tanpa adanya rintangan.















Komentar