18 November 2022 - 04:11 WIB | Dibaca : 873 kali

Menakar Peluang Partai Politik Baru dalam Pemilu Tahun 2024

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Tantangan besar bagi partai baru dalam pemilu adalah berhadapan dengan partai lama yang kerap bertahan dalam pemilu

Penulis : Yoga Aldo Novalensi (Bibo)*

Munculnya partai-partai baru dalam pemilihan parlemen karena aksesi Indonesia ke  sistem multi-partai yang tak ada habisnya, ini adalah hasil dari demokratisasi dan reformasi, situasi ini memberikan peluang dan peluang yang sama  bagi setiap partai untuk memenangkan persaingan di pasar politik.

Selain itu, juga didorong oleh pola pikir masyarakat yang berkembang tentang pengambilan keputusan, terutama politik kepartaian, yang  terus berubah seiring dengan pemilihan umum.

Dengan demikian, partai politik dapat memposisikan diri di tengah dengan mengaburkan ideologi dan platform politik partai itu sendiri.

Situasi ini membuka peluang munculnya partai politik baru, karena proses  positioning dan segmentasi partai politik  mudah diatur.

Menjelang pemilihan umum (pemilu) 2024, beberapa partai politik sedang mempersiapkan dan menyusun strategi untuk persiapan mengikuti pemilu. Selain mendukung partai-partai lama dan tua seperti PDI-Perjuangan, Golkar atau Demokrat, beberapa partai baru bersaing memperebutkan tempat utama dalam pemilu 2024 mendatang.

Keikutsertaan partai-partai baru dalam kampanye pemilu 2024 akan semakin mempertajam persaingan. Karena masing-masing partai  saling bersaing memperebutkan pasar elektoral memperebutkan kursi di parlemen.

Tantangan besar bagi partai baru dalam pemilu adalah berhadapan dengan partai lama yang kerap bertahan dalam pemilu, terbukti dengan keberhasilannya meraih kursi di parlemen.

Parpol-parpol baru ini adalah Partai rakyat adil dan makmur (PRIMA), Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Partai Gelombang Rakyat (GELORA), Partai UMMAT, Partai BURUH, beberapa partai inilah nantinya yang kemungkinan akan muncul pada pemilihan umum 2024 walau sebenarnya pengumuman terkait lolos atau tidaknya sebuah partai menjadi peserta pemilu tahun 2024 nanti itu pada tanggal 14 desember 2022.

Bahwa disamping hal itu kehadiran partai partai baru ini kebanyakan merespon karakteristik masyarakat Indonesia, karena memang masyarakat pada umumnya. Indonesia adalah masyarakat yang sangat beragam yang terdiri dari berbagai  latar belakang serta bahasa, suku, agama dan adat istiadat.

Baca Juga :  Polres Muara Enim Amankan Pengumuman Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu 2024

Keberagaman masyarakat Indonesia menjadi salah satu alasan utama di balik keinginan  penyederhanaan jumlah partai politik. Melihat struktur masyarakat Indonesia yang tidak memiliki kesamaan mendasar antara setiap golongan, berarti masyarakat tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Hal ini disebabkan masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan/atau keinginan semakin mengecil oleh kelompok-kelompok yang memiliki tujuan dan pemikiran yang sama ke era ini.

Partai Partai baru ini harus memanfaatkan ruang maya secara luas untuk mempresentasikan partai di media sosial. Hal ini  dapat memicu terjadinya perang media sosial antar partai politik, berbagai media sosial tentunya akan menjadi panas dan tidak stabil.

Pasalnya, media sosial saat ini semakin banyak digunakan sebagai alat komunikasi politik oleh para elit, khususnya partai politik. Informasi bergerak sangat cepat, sehingga memudahkan masyarakat untuk belajar tentang politik.

Kepraktisan dalam mengakses informasi berarti preferensi politik masyarakat dipengaruhi oleh keramaian dan media  sosial yang diminati masing-masing individu. Media sosial selalu digunakan sebagai arena kampanye politik dan branding  partai politik dan kandidat.

Pasca Pemilu 2014-2019, media secara konsisten memainkan peran penting dalam mengubah perilaku politik dan meningkatkan partisipasi publik. Di latarbelakangi oleh  pandemi Covid19 yang melanda Indonesia, pemerintah menerapkan aturan social distancing dan physical distancing serta melarang masyarakat beraktivitas di tempat umum.

Hal ini menyebabkan aktivitas masyarakat beralih ke media online (media sosial), sehingga jumlah pengguna media sosial akan terus bertambah dari tahun 2014 hingga tahun 2022.

Baca Juga :  Mengatasi Metana Tambang Batu Bara untuk Janji Iklim Indonesia

Maka dari itu mungkin media social adalah salah satu hal yang konkrit untuk bagaimana bisa parpol parpol baru ini mempromosikan kehadiran mereka ditengah masyarakat melalu flatform media social.

Kemudian Untuk mempersiapkan kampanye pemilu ini, partai politik baru harus mencari karakter terbaik dengan kerangka kerja yang selektif dan transparan.

Partai baru harus transparan tentang syarat dan prosedur yang ditetapkan oleh internal partai politik dalam menyeleksi caleg, yang berguna bagi masyarakat untuk menilai langsung kemampuan caleg yang diajukan partai.

Hal itu harus dilakukan mengingat  partai politik  baru yang gagal pada Pemilu 2019 karena tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangkitkan simpati masyarakat.

Kemunculan partai politik baru ini memiliki plus dan minus nya tersendiri, berbanding lurus dengan perkembangan proses demokratisasi, terutama menyangkut kesetaraan warga negara. Demokrasi membutuhkan partai politik.

Demokrasi modern tidak berbeda dengan bayang-bayang partai politik, karena dalam sistem pemerintahan yang demokratis, partai politik memainkan peran sentral dalam mempromosikan dan meningkatkan partisipasi aktif warga negara dalam jabatan dan  jabatan politik.

Di dimensi lain, parpol pendatang bisa menjadi bumerang bagi masyarakat Indonesia jika jumlah parpol terlalu banyak, menandakan belum disederhanakannya jumlah pilkada.

Diketahui bahwa banyaknya partai politik peserta pemilu sangat mempengaruhi kualitas pemilu, karena berdampak pada sulitnya mencoblos pemilih.

Secara politis, hal itu semakin memperumit perpolitikan nasional karena jumlah partai politik yang banyak menimbulkan masalah teknis dan muatan elektoral yang kompleks.

Disamping hal tersebut Harapannya visi misi dari partai baru ini dan para pengurus maupun kadernya nanti harus tetap berada untuk rakyat kecil. Dengan tuntutan selalu berjuang dan mendengarkan suara rakyat.

Dua tahun menjelang pemilu tahun 2024 mungkin adalah waktu yang pas untuk partai partai baru ini menyiapkan strategi untuk bagaimana bisa menghadapi pemilu tahun 2024.

Baca Juga :  Jaga Pemilu 2024 Berjalan Damai, Dit Intelkam Polda Sumsel Gelar FGD

Partai-partai baru ini hadir tentunya bukan untuk menjadi pelengkap peserta pemilu ataupun hanya sekedar mewarnai pemilu tahun 2024 tapi perlu juga diharapkan membawa pembaharuan dan harapan kepada masyarakat indonesia terlebih lagi untuk bagaimana bisa membawa indonesia lebih maju lagi dan menjadikan masyarakat indonesia lebih sejahtera lagi.

Disini kita melihat masyarakat sudah terlalu jenuh melihat partai partai yang sekarang selalu hanya mementingkan kepentingan partai nya atau kelompoknya tanpa memikirkan masyarakat, kemudian dari hal itulah mereka mulai memikirkan solusi lain untuk menjadi pilihan alternatif partai mana yang akan mereka pilih di pemilu tahun 2024 nanti.

Bahkan mereka sudah  tidak sabar melihat sepak terjang dari pada partai baru di pemilu tahun 2024 nanti, apa saja yang  akan mereka lakukan dan strategi apa yang dapat mereka persiapkan untuk mengambil hati masyarakat.

Kalau Kehadiran partai partai baru ini ingin dijadikan masyarakat sebagai alternative yang konkrit bagi masyarakat Indonesia. Bahwa partai-partai baru ini haruslah berdiri membawa perubahan, perbedaan untuk bagaimana bisa meluruskan niat dan hal yang di cita-citakan oleh founding father Negara kita yaitu mewujudkan dan menciptakan masyarakat yang adil dan makmur tanpa penindasan manusia atas manusia dan tanpa penindasan bangsa atas bangsa.

Hadirnya partai baru diharapkan untuk menyadarkan seluruh masyarakat Indonesia khususnya pemerintah Indonesia, untuk kemudian harus kembali pada pancasila sebagai filosofi, pandangan nilai dan kumpulan pengetahuan yang maju untuk menyusun kembali tatanan social yang berkeadilan.

*)Mahasiswa Jurusan Politik Islam UIN Raden Fatah Palembang

Komentar