oleh

Cipayung Plus Gelar Konferensi Pers ; Bebaskan Amir!

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :1.408 kali | Durasi baca : 3 Menit

SWARAID – PALEMBANG, (14/10/20) : Cipayung Plus menyikapi penangkapan Amir Iskandar, ketua Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Kota Palembang yang terjadi setelah aksi kepolisian melakukan sweeping.

Desakan demi desakan terhadap pihak kepolisian untuk segera melepaskan Amir Iskandar yang juga tergabung dalam aliansi mahasiswa Cipayung Plus. Selasa, (12/10/2020) pukul 19.00 WIB, Cipayung plus menggelar konferensi pers di Sekretariat  Himpunan Mahasiswa Islam) HMI Cabang Kota Palembang dalam upaya mendesak untuk segera membebaskan Amir Iskandar.

Menyikapi tindakan sewenang-wenang yang dilakukan aparat kepolisian, berikut tuntutan Cipayung plus kepada pemerintah dan aparat kepolisian;

1. Batalkan Omnibuslaw
2. Bebaskan Ketua Ekskutif LMND kota Palembang, Amir Iskandar
3. Hentikan Kriminalisasi terhadap aktivis, rakyat, dan mahasiswa yang melakukan aksi penolakan Omnibus Law.

Wahyu Nugroho, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Palembang, yang juga anggota Aliansi Mahasiswa Cipayung Plus Kota Palembang mengatakan.

“Kami duduk disini atas keprihatinan maupun solidaritas kita bersama. Kami meminta kepada pihak aparat kepolisian untuk stop kriminalisasi aktivis, dan kami juga akan terus mendampingi kasus ini sampai terang benderang” paparnya.

Penetapan status tersangka terhadap Amir selama kurang dalam satu kali dua puluh empat jam menjadi kekhawatiran dari kalangan aktivis yang menilai ini sebagai upaya pembungkaman publik.

Baca Juga :  Anak Gadis Dikeroyok, Ibu Korban Dampingi Melapor ke SPKT Polrestabes

“Kejadian ini menjadi kegelisahan buat kita, karena tidak menutup kemungkinan bahwa kita menjadi target selanjutnya” Wahyu menegaskan.

Muhammad Fajar, Ketua Umum KAMMI daerah Palembang  turut menanggapi kasus ini

“Harapannya dengan kasus ini melakukan pencerdasan bagaimana agar tidak terjadi kriminalisasi terhadap aktivis. Sebenernya kita ada barang bukti dan juga saksi namun disini pihak aparat mencoba menghapus, bahkan bahwasanya disini penetapan Amir Iskandar sebagai tersangka itu sepihak” Jelas Fajar.

I Wayan Sugita, Ketua Umum KMHDI Cabang Palembang ikut menyayangkan tindakan polisi yang menangkap dan menetapkan Amir Iskandar sebagai tersangka dengan barang bukti yang menurut mereka tidak ada indikasi sebagai provokator.

“Kami tidak habis pikir dan sangat meyayangkan tindakan aparat kepolisian yang menangkap dan menetapkan teman kami Amir sebagai tersangka dengan barang bukti yang kami pikir itu tidak sesuai. Teman kami Amir bukanlah seorang provokator melainkan mahasiswa yang menyampaikan aspirasi atas kegelisahan yang di rasakan dan itu dilindungi oleh Undang-Undang. ” Ujarnya.

Dilanjutkan pula oleh pernyataan Ilham Ali Akbar selaku  Ketua Pimpinan cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Palembang yang menilai tindakan yang dilakukan tersebut berlebihan.

“Saya mengecewakan tindakan aparat kepolisian yang bertindak represif, aparat kepolisian yg seharusnya menjaga ketertiban agar berjalan aksi dengan damai bukan malah bertindak berlebihan, dengan melakukan sweeping terhadap massa aksi yg menolak Omnibus Law. Tindakan itu sebenarnya adalah pembungkaman publik, yang bahwasanya aturan hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kebebasan berserikat dan mengemukakan pendapat di muka umum sebagaimana termaktub dalam pasal 28 UUD 1945″. Terang Ilham

Baca Juga :  Untuk Kedua Kalinya ; Walikota Palembang Disuntik Vaksin

Ketua Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Palembang, M. Eko Wahyudi pada kesempatan yang sama pun menyampaikan, menurutnya tindakan aparat yang melakukan sweeping terhadap massa aksi menolak Omnibus law terlalu berlebihan.

“Ini adalah indikasi upaya untuk pembungkaman demokarasi dan melanggar UU No 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum.”

Martinus Jarwanto Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Palembang turut bersuara dalam konferensi pers tersebut,

“Meskipun dari PMKRI palembang tidak ikut turun aksi bersama teman-teman Cipayung Plus di hari Jumat lalu tapi ketika mendengar kabar penangkapan ketua Amir dan peningkatan status menjadi tersangka dengan bukti yang tidak kuat itu menurut kita adalah salah. Untuk itu kita ikut mendukung teman kita dalam bentuk solidaritas bersama teman teman Cipayung Plus Kota yang lain. Kita semua berharap agar tindakan seperti ini tidak terjadi kepada teman-teman yang lain sehingga menyebarkan rasa takut.”

Rudianto Widodo ketua umum FORSUMA Sumsel menuturkan bahwa Ada kejanggalan dalam penangkapan Amir Iskandar yang telah ditetapkan sebagai tersangka, terkait barang bukti yang hanya baju dan toa (pengeras suara). Pihak kepolisian diharapkan dapat membedakan antara atribut dan barang bukti,

Baca Juga :  Cipayung Plus Kawal Surat Penolakan UU Cipta Kerja Kepada Presiden

“Tentu kita sangat menyayangkan atas apa yang terjadi pada kawan kami Amir, bahwa beliau tidak ada sedikitpun maksud dan niatan untuk berbuat sebagaimana yg dituduhkan menghalangi petugas dan sebagainya. Karena kondisi di lapangan dan referensi yang diberikan hanya dari sebelah pihak, maka fakta keabsahan tuduhan itu sebenernya tak nyata. Kalaupun dituduh melakukan kekerasan, apa bukti yang mendukung perlakuan kekerasan yang dituduhkan itu. Seyogyanya, institusi terkait perlu mengevaluasi dan mempertimbangkan kembali apa yang sudah dituduhkan terhadap kawan Amir guna terlaksananya Demokrasi di Negeri ini”. Paparnya.

Terakhir, Eko Hendiono, ketua HMI Cabang Kota Palembang menyesalkan atas penangkapan Amir Iskandar dan mengajak seluruh aktivis Sumsel untuk menggalang solidaritas untuk saling melindungi dan membantu Amir agar segera dilepaskan.

“Kami menyesalkan atas ditetapkannya amir ketua LMND sebagai tersangka, karna penetapan sebagai tersangka ini terkesan terburu-buru. Tentu ini akan menjadi sorotan bagi para aktivis-aktivis lainnya, harapan saya agar seluruh aktivis di Palembang untuk saling menjaga. Dan besar harapannya agar pihak kepolisian dapat mengeluarkan amir secepatnya.” Pungkas Eko.

Komentar

Berita Lainya