oleh

Selain Pelarangan Plastik Sekali Pakai, Indonesia Juga Harus Lakukan Hal Ini !

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :116 kali | Durasi baca : 2 Menit

Selain pelarangan plastik sekali pakai, apa yang perlu Indonesia lakukan untuk mencapai target pengurangan sampah sekali pakai sampai 1 Januari 2030?

SWARAID-JAKARTA, (28/08/2021): Pemerintah telah menetapkan aturan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai dimulai 1 Januari 2030. Aturan tersebut tertuang dalam PermenLHK No. 75 Tahun 2019.

Plastik sekali pakai yang dilarang, termasuk di dalamnya kantong plastik, sedotan plastik, plastik saset, serta wadah dan alat makan dari plastik.

Keberadaan sampah plastik memberi efek yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Keadaan diperparah ketika sampah yang tidak terolah di darat, pada akhirnya bermigrasi ke lautan. Efek mikroplastik yang tertelan oleh hewan laut yang pada akhirnya dikonsumsi oleh manusia akan berakibat buruk bagi kesehatan.

Pertumbuhan penduduk tentu berjalan beriring dengan jumlah sampah yang dihasilkan, jika upaya pengolahan sampah plastik sekali pakai tidak dilakukan dengan serius, maka dikhawatirkan target pengurangan sampah sekali pakai di Indonesia tidak akan tercapai.

Dilansir dari wri-indonesia.org berdasarkan analisis Global Plastic Action Partnership, kemampuan Indonesia dalam mengumpulkan sampah diperkirakan hanya 39 persen, dengan kapasitas daur ulang hanya 10 persen.

Baca Juga :  Antrian Membludak! Pengajuan Berkas BPUM Dialihkan

Beberapa penelitian juga telah mendokumentasikan pengurangan polusi kantong plastik di masing-masing negara. Di Cina, penerapan pelarangan pemakaian kantong plastik menyebabkan penurunan 49 persen penggunaan kantong baru.

Namun, efek pelarangan berbeda antara kelompok konsumen dan antar wilayah dan tujuan belanja. Sementara, di negara bagian California, Amerika Serikat, pelarangan berdampak pada penurunan sampah kantong plastik sebesar 72 persen di tahun 2017 dibandingkan tahun 2010.

Namun, bagi negara lain, kebijakan pelarangan plastik belum mampu menghilangkan sampah plastik. Di Bangladesh misalnya, meskipun sudah menerapkan kebijakan pelarangan kantong plastik sejak 2002, namun tidak berhasil mengurangi penggunaan plastik secara signifikan karena kurangnya penegakan hukum.

Studi menemukan di beberapa kota di California, Amerika Serikat, jika hanya menerapkan larangan kantong plastik saja, terjadi peningkatan pemakaian kantong kertas secara signifikan dibandingkan sebelum pelarangan.

Jadi, selain pelarangan plastik sekali pakai, apa yang perlu Indonesia lakukan untuk mencapai target pengurangan sampah sekali pakai sampai 1 Januari 2030?

Pertama, mendorong transformasi produsen untuk menggunakan kemasan yang mudah dikumpulkan dan didaur ulang, serta mengurangi penggunaan jenis-jenis plastik sekali pakai.

Baca Juga :  Gagalnya Konservasi di Kawasan Hutan Harapan

Jika pelarangan sampah sekali pakai, terutama kantong plastik, di banyak kota adalah intervensi kepada konsumen, perubahan yang sama juga dibutuhkan dari produsen. Hierarki nirsampah, yaitu menghindari, memikirkan kembali, dan menolak terlebih dahulu konsumsi plastik, perlu diikuti oleh konsumen, dan aktor kunci lainnya, termasuk produsen dan sektor usaha.

Kedua, membangun regulasi yang dapat mendukung efisiensi pemakaian dan pemanfaatan kembali plastik secara radikal.

Peta jalan bagi produsen adalah langkah awal yang baik dari pemerintah. Namun, perlu pendetilan dalam peta jalan bagi produsen, seperti : penetapan kandungan daur ulang di plastik dan sistem pengembalian kembali plastik (take back system) yang tepat, serta peningkatan kesadaran dan edukasi tentang pengurangan sampah plastik.

Pemerintah sebagai regulator juga perlu mengantisipasi potensi dampak negatif dari kebijakan pelarangan dan pengurangan plastik, misalnya pemecatan buruh, turunnya keuntungan kegiatan ekonomi. Sehingga perlu memastikan transisi yang berkeadilan, yaitu memastikan kelestarian lingkungan, pekerjaan yang layak, juga inklusi sosial dan pengentasan kemiskinan.

Kepastian transisi yang berkeadilan, akan membuka pintu koloborasi dan partisipasi para pihak dalam mendorong transisi.

Baca Juga :  Cermin Kota Adakan Workshop Permasalahan Sampah

Ketiga, mendorong inovasi pengurangan plastik sekali pakai oleh berbagai pihak.

Inovasi bukan saja berkaitan dengan teknologi baru seperti bahan plastik baru, tetapi juga inovasi model bisnis, inovasi kebijakan, bahkan inovasi instrumen insentif ekonomi. Misalnya bisnis baru stasiun pengisian ulang produk rumah tangga yang memperbolehkan konsumen membeli dalam jumlah kecil pada wadah yang dapat digunakan kembali.

 

UMKM Kito - Solusi UMKM Go-Online

Komentar

Berita Lainya