14 September 2022 - 14:53 WIB | Dibaca : 699 kali

Pemerintah Sibuk Buru Bjorka, Pakar IT: Tak Perlu Repot !!

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Lebih baik pemerintah lebih mengedukasi masyarakat dan institusi agar memiliki budaya penyimpanan data secara aman.

SWARAID, JAKARTA: Gerah dengan ulah Bjorka, pemerintah telah membuat tim khusus untuk memburu dan menemukan siapa hacker yang menyebut dirinya Bjorka.

Mengomentari ini, Pakar Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ridi Ferdiana justru meminta pemerintah tak perlu repot-repot mengurusi identitas asli peretas Bjorka.

Ridi malah menyarankan agar tim respons darurat bentukan Presiden Joko Widodo untuk lebih konsentrasi pada penguatan keamanan data ketimbang sibuk melacak identitas Bjorka.

“Bjorka saat ini sudah dipastikan menyebarkan data, tetapi belum tentu hacker-nya yang bersangkutan,” kata Ridi, Rabu (14/9/22).

Ia mengatakan, bahwa data yang tersebar umum terjual di deep web. Karenanya, Dosen Departemen Teknik Elektro dan TI Fakultas Teknik UGM itu menilai dari pada menindak dan melacak siapa Bjorka, tim respons darurat sebaiknya berfokus mempertebal keamanan data.

Selain itu, dikatakan Ridi, lebih baik pemerintah lebih mengedukasi masyarakat dan institusi agar memiliki budaya penyimpanan data secara aman.

Pasalnya, seiring pesatnya perkembangan teknologi maka tidak selamanya sistem perlindungan data mampu menangkal serangan siber tanpa ada pembaruan.

Baca Juga :  4 Imajinasi Nikola Tesla yang Menjadi Nyata di Masa Depan

“Sistem perlindungan data di sistem manapun tidak akan tahan peluru di lekang zaman. Artinya, aman kemarin bukan berarti aman hari ini,” ungkapnya.

Menurut Ridi, teror peretasan data juga harus diwaspadai masyarakat dengan melek soal keamanan data. Pemerintah perlu segera memberikan prioritas pada ekosistem yang mendukung perilaku dan budaya siber yang aman.

“Kita jangan mengabaikan atau denial (menyangkal) terhadap situasi keamanan data. Kita juga harus mulai tidak menganggap remeh hal-hal kecil terkait keamanan,” ujar Ridi.

“Sebagai contoh menyebarkan tautan dokumen berupa data pribadi di media sosial, padahal hal tersebut mudah dieksploitasi pelaku-pelaku kejahatan siber,” sambungnya.

Lebih jauh, Ridi beranggapan jika peristiwa pembocoran data oleh Bjorka seharusnya jadi momentum bagi pemerintah mengoptimalkan pelibatan talenta yang ahli di bidang keamanan siber.

“Banyak talenta Indonesia yang ahli di bidang keamanan (siber) yang dapat berkontribusi besar untuk melangkah bersama dalam membangun pondasi yang memadai,” kata Ridi.

Pemerintah, seyogyanya mulai legawa dan bersiap menghadapi berbagai ancaman serupa dengan membenahi keamanan siber Indonesia secara bertahap dengan merekrut para talenta yang menguasai bidang keamanan siber.

Baca Juga :  Tangani Bjorka !! Tim Khusus Diisi Polri Hingga BSSN Disiapkan

“Kejadian Bjorka dalam membagikan data pribadi adalah sinyal nyata berupa kritik membangun kepada pemerintah untuk berbenah diri dan mengatur ulang prioritas keamanan dan perlindungan privasi. Reskilling juga mutlak dilakukan agar secara berkala sistem keamanan kita dikaji dan disempurnakan,” ungkapnya.

Aktivitas yang dilakukan Bjorka, kata Ridi, dikenal dengan istilah ‘haktivism’. Atau melakukan aktivitas peretasan untuk motif sosial dan politik. Aktivitas serupa juga terjadi di berbagai negara besar di belahan dunia.

“Jadi fenomena ini adalah sebuah siklus yang tidak terelakkan dan menjadi koreksi bagi kita untuk memperbaiki diri,” pungkasnya.

Komentar