13 Oktober 2022 - 00:37 WIB | Dibaca : 792 kali

Gapkindo Ungkap Penyebab Ekspor Karet Turun dan Anjloknya Harga

Laporan : Agustina
Editor : Noviani Dwi Putri

Padahal pangsa pasar ekspor Indonesia saat ini banyak ke Eropa dan Amerika, jika resesi terjadi maka peluang ekspor kecil, belum lagi harus bersaing dengan Thailand

SWARAID, PALEMBANG: Gabungan pengusaha karet Indonesia (Gapkindo) bahas rendahnya harga karet dalam Konferensi Nasional Karet di Hotel Novotel, Rabu (12/10/22).

Pada kesempatan itu, Gapkindo mengungkap sejumlah faktor penyebab ekspor karet turun, termasuk adanya ancaman resesi global 2023.

Kondisi resesi di Eropa dikhawatirkan akan membuat pangsa pasar ekspor karet tergerus disebabkan daya beli turun sehingga mereka lebih memikirkan memenuhi kebutuhan konsumsi lebih utama dibanding yang lainnya.

Padahal pangsa pasar ekspor karet ke Eropa cukup tinggi.

Ditambah lagi perang Rusia dan Ukraina juga akan mempengaruhi permintaan gas sebab Rusia menyetop pasokan gas ke Eropa sedangkan saat ini musim dingin.

Minimnya pasokan gas membuat pemerintah akan lebih memilih menggunakan gas untuk kepentingan rakyat dulu dibanding industri sehingga dikhawatirkan akan semakin banyak yang tidak beroperasi dan mengurangi potensi penjualan.

“Padahal pangsa pasar ekspor Indonesia saat ini banyak ke Eropa dan Amerika, jika resesi terjadi maka peluang ekspor kecil, belum lagi harus bersaing dengan Thailand yang juga saat menyasar pangsa pasar Amerika juga pasca China stop membeli karet,” ujar Ketua Umum Gapkindo Alex K Eddy disela Konferensi Nasional Karet di Hotel Novotel, Rabu (12/10/22).

Baca Juga :  Telur Naik Daun, Statemen Menteri Perdagangan Bikin Baper

Dikatakan Alex, secara umum ekspor karet saat ini tidak begitu bagus karena memang permintaan turun ditambah lagi produksi karet dalam negeri juga turun.

Dulunya saat harga karet bagus 1,5 dolar per kg saat Thailand banjir produksi karet dalam negeri secara keseluruhan yakni 3,2 juta ton namun kemudian produksi turun menjadi 2,9 juta ton.

Sumsel sendiri menjadi daerah dengan pemasok karet terbesar di tanah air, tercatat lebih dari 1 juta ton karet bisa diproduksi setiap tahun.

Namun kini jumlahnya turun dan hingga penghujung tahun nanti diprediksi hanya mampu mencapai 900 ribu ton saja.

Penurunan produksi karet ini dikatakan Alex bisa saja karena banyak petani yang memilih mengalihkan produksi karet menjadi sawit atau karena harga karet rendah membuat petani berhenti menyadap karet atau karena faktor lainnya.

Berkurangnya produksi karet saat ini juga berdampak pada gulung tikar perusahaan karet di Sumsel karena bahan baku berkurang sehingga biaya produksi lebih besar karena terpaksa harus impor bahan baku untuk memenuhi daya terpasang mesin produksi.

Baca Juga :  Sekda Pastikan Gaji ke 13 ASN Pemkot Palembang Cair Bulan Ini

Di Sumsel sendiri sejak pandemi Covid-19 membuat lima perusahaan karet terpaksa gulung tikar karena bahan baku kurang, biaya produksi tinggi, harga karet rendah.

Sementara itu Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara Dr Imam Yani Harahap mengatakan saat ini produksi karet terus turun sekitar 1 ton hektare. Sedangkan biaya produksinya saat ini semakin tinggi sedangkan harganya semakin turun.

Dengan kondisi pasar global seperti ini tentunya akan mempengaruhi kebutuhan secara global sangat rendah kemudian produktivitas kita cukup rendah itu yang jadi kendala untuk persaingan di pasar.

Masalah yang paling dominan membuat produksi karet turun dalam 5 tahun ini yakni penyakit gugur daun. Sbb penyakit tersebut bisa menurunkan produktifitas 50 persen.

Kalau kondisi sudah seperti itu sudah tidak menguntungkan lagi untuk dilakukan proses penyadapan.

Harapan kita semoga ada serapan yang tinggi ditingkat nasional akan sehingga produksi karet bisa bergairah lagi sebab serapan karet domestik cuma 20 persen saja dan sisanya di ekspor.

“Kita mengusulkan bagaimana meningkatkan penggunaan karet dalam negeri. Kalau secara target belum ada. Yang pasti penggunaan aspal karet sudah kita lakukan.
Produk-produk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sudah kita lakukan tinggal peningkatan volumenya saja,” katanya.

Baca Juga :  Sekjen Kemenaker Pastikan BSU Rp600 Ribu Mulai Dicairkan Besok

Komentar