24 Agustus 2022 - 08:40 WIB | Dibaca : 870 kali

Telur Naik Daun, Statemen Menteri Perdagangan Bikin Baper

Laporan : Riski
Editor : Noviani Dwi Putri

Seharusnya menteri perdagangan mendorong agar harga telur bisa turun

SWARAID, JAKARTA: Kenaikan harga telur ayam di pasaran mendorong emak-emak untuk mendesak Menteri Perdagangan RI agar mencari solusi agar harga dapat kembali stabil.

Namun ada yang mencuri perhatian, di tengah jeritan emak-emak karena mahalnya harga telur, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengeluarkan pernyataan yang bikin baper.

“Oh, itu kenaikan harga telur ayam nggak seberapa kok, jangan diributkan ya. Perjanjian dagang dengan India senilai US$ 3,2 miliar itu lah yang ditulis,” kata Zulkifli di Aula Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (23/8/22).

Statemen ini lantas dikomentari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia atau IKAPPI.

IKAPPI menyayangkan statemen menteri perdagangan yang mendorong agar tidak meributkan kenaikan harga telur. Mereka menilai seharusnya menteri perdagangan mendorong agar harga telur bisa turun.

Ketua Umum DPP IKAPPI, Abdullah Mansuri, mengatakan bahwa persoalan telur ini sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

“Sebelumnya harga telur Rp 27.000 menuju Rp 29.000, ke Rp 30.000 bahkan sekarang sampai Rp 32.000 per kilo,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (23/8/22).

Baca Juga :  Herman Deru Apresiasi Anjungan Bansos Sriwijaya

Dia mengatakan, harga telur saat ini tertinggi dalam sejarah.

“Kami berharap agar persoalan di lapangan seperti persoalan pangan, petelur, persoalan distribusi menjadi persoalan yang fokus harus di selesaikan bukan lari dari persoalan,” kata Abdullah.

Pusat Informasi Harga Pangan Nasional atau PIHPSN mendata rata-rata harga telur nasional hari ini (23/8), adalah Rp 30.850 per kilogram.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi tahun ini. Adapun, harga telur di sejumlah wilayah hari ini berkisar antara Rp 28.000 sampai Rp 33.000 per kilogram.

IKAPPI meminta kepada kementrian perdagangan untuk melakukan upaya-upaya lanjutan tidak hanya memberikan pernyataan yang justru akan membuat kegaduhan.

Dia mengusulkan menteri dapat mengumpulkan peternak-peternak besar atau petelur-petelur besar untuk mencari solusi dan langkah apa yang harus di lakukan ke depan bukan justru menyampaikan supply berlebih dan kita tidak boleh ribut.

“Ribut ini karena ada jeritan dari emak-emak yang terus mengalir kepada kami sehingga kami mau tidak mau harus mendorong agar pemerintah mencarikan solusi,” ujarnya.

Baca Juga :  Harga CPO Merangkak Naik, Minyak Goreng Kian Melambung

Dia mengatakan, telur adalah komoditas yang cukup besar permintaannya sehingga menimbulkan masalah jika harganya tinggi. Pedagang berharap agar Kemendag bisa menyelesaikan persoalan telur dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Produksi telur ayam ras di Indonesia konsisten meningkat tiap tahun selama periode 2017-2021.

Menurut laporan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2021, produksi telur ayam ras tahun 2017 tercatat sebesar 4,63 juta ton. Kemudian produksinya meningkat 1,19% menjadi 4,68 juta ton pada 2018, dilanjutkan naik 1,4% menjadi 4,75 juta ton pada 2019.

Komentar