30 Agustus 2022 - 06:05 WIB | Dibaca : 536 kali

Dibela-belain Bayar Jasa Screenshot iPhone, Ngapain Sih?!

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Kita tahu iPhone identik dengan kelas sosial atas. Jadi, ya, sekarang kalau orang yang pakai iPhone dianggap mampu secara finansial

SWARAID, PALEMBANG: Ada-ada saja ulah orang jaman sekarang. Diantara beragam penawaran jasa, ada satu bisnis jasa baru yang cukup unik dan menggelitik, yakni jasa tangkapan layar (screenshot) iPhone.

Harga yang ditawarkan pun beragam, untuk tangkapan layar dibandrol harga RP 500 hingga Rp 1000. Sedangkan untuk pengambilan layar video (screen record) dipatok harga Rp 1500.

Emang ada yang pakai jasa beginian? Ada!

Sebut saja, Mira (bukan nama sebenarnya) salah satu konsumen jasa tangkapan layar iPhone yang berdomisili di kota Palembang mengaku beberapa kali menggunakan jasa ini.

Wanita pekerja usia 35 tahun ini bercerita, ia mendapatkan info jasa ini dari media sosial.

“Iseng awalnya. Coba-coba, hasil screenshotnya untuk diunduh di IG.” Gesahnya sambil tertawa.

Diceritakan Mira lebih lanjut, walau dirinya hanya sekedar iseng menggunakan jasa ini tapi beberapa orang yang ia kenal menggunakan jasa ini untuk terlihat lebih berkelas dan punya banyak uang.

“Ada yang pakek tu supaya dibilang berkelas. Dipasang di medsos. Kalo ditanya, bilangnya itu iPhone punya suami atau pacar. Gitu.” Lanjut Mira.

Baca Juga :  Stiker Hologram Viral di Kalangan Generasi Z

Validasi sosial dengan casing palsu kehidupan

Budaya pamer di media sosial memang makin menjamur. Tapi, terkadang hal ini tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang dijalani seseorang.

Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Rosmini menyebut, istilah pamer ini merupakan bentuk validasi sosial yang ingin diraih seseorang. Hanya saja, validasi sosial terkadang dilakukan dengan cara yang salah.

“Jadi untuk dianggap, diakui bahwa dia ada eksistensinya oleh orang lain, dia menggunakan cara-cara yang seperti casing aja, padahal ini tidak sesuai dengan isi [kemampuan] di dalamnya,” kata Rosmini mengutip CNNIndonesia.com.

Setiap orang pasti membutuhkan validasi. Tak ada yang salah dengan kebutuhan akan validasi.

Eksistensi untuk menjadi orang terpandang di masyarakat merupakan bentuk validasi untuk terlihat mampu di mata sosial. Tak jarang orang menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan kemampuan untuk mendapatkannya.

“Salah satunya ya dengan membeli jasa tangkapan layar ini. Kita tahu iPhone identik dengan kelas sosial atas. Jadi, ya, sekarang kalau orang yang pakai iPhone dianggap mampu secara finansial,” katanya.

Baca Juga :  Libur Telah Tiba! Ingat Beberapa Hal Ini Sebelum Berwisata ya

Ada akibat, ada sebab. Inilah yang terjadi dari bentuk validasi sosial yang diyakini sebagian orang.

Media sosial, kata Rosmini, menjadi salah satu pemicu munculnya keyakinan bahwa validasi sosial bisa didapatkan dengan tingkat ekonomi tertentu. Salah satunya dengan menggunakan handphone iPhone.

“Itu artificial saja, tidak nyata. Hanya pura-pura. Dan ini dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapat pengakuan atau validasi sosial,” kata dia.

Rosmini mengatakan tak ada yang salah dengan kebutuhan tersebut. Hanya saja, dengan validasi itu, seseorang terjebak dalam hidupnya yang palsu.

“Jadinya dia hidup palsu, hanya hal-hal yang bukan dirinya yang ditampilkan ke publik,” ujar Rosmini.

Komentar