SWARAID, JAKARTA: Untuk terus mendorong minat baca masyarakat, tentulah bacaan yang disajikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Perpustakaan Nasional sebagai lembaga pemerintah yang berkewajiban menyediakan jasa informasi kepada masyarakat harus berupaya terus menerus dalam bertransformasi dalam menciptakan produk literasi kekinian dan mudah dijangkau.
“Bahan bacaan saat ini sudah harus menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kekinian. Artinya merujuk kepada apa yang bisa mereka lakukan untuk bisa terus produktif,” ujar Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando sebagaimana dikutip dari Antara.
Transformasi digital menjadi tagline utama tahun ini mengarahkan kepada upaya Perpusnas untuk menyediakan konten-konten yang bisa diakses secara mudah dari mana saja dan kapan saja dan memudahkan siapa saja untuk mendapatkan ruang pembelajaran baru, memfasilitasi para konten kreator, dan mengumpulkan berbagai konten legal dari seluruh kementerian/lembaga yang bisa diakses masyarakat.
Perpustakaan sebagai sumber informasi bisa memiliki sebanyak mungkin data dan informasi yang bisa dibagikan secara legal kepada masyarakat.
“Saat ini perpustakaan harus bisa memberikan tutorial untuk memberikan ruang dan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja, terutama bagi mereka yang terdampak pandemi,” tambah Syarif Bando.
Syarif Bando melanjutkan bahwa literasi digital yang digalang Perpusnas itu adalah kebutuhan yang penting. Urgensinya bukan hanya sebagai pusat data dan informasi, namun juga bergerak maju mencapai lima tingkatan literasi.
Selain kemampuan baca, tulis, dan hitung, gerakan literasi juga harus menyediakan akses terhadap bahan bacaan yang semakin luas. Lanjutnya, literasi juga mencapai tahapan memahami semua yang tersirat dan tersurat, lalu bisa melakukan inovasi pada produk yang sudah ada, lalu tiba pada level puncak yaitu literasi mampu membawa masyarakat sampai pada tingkatan bisa menciptakan barang dan jasa secara mandiri.
“Literasi digital ini sangat penting, karena di negara-negara maju, mereka sudah tidak lagi bicara kegemaran membaca dan akses kepada buku. Mereka sudah menciptakan teknologi baru yang mendunia,” ungkap dia.
Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda, yang selama ini peduli keberpihakan dan perhatian yang tinggi dalam gerakan literasi dan budaya baca Indonesia.
Syaiful menyebut bahwa media literasi akan selalu mengikuti zamannya. Jika dulu, literasi menggunakann media kulit hewan hingga lempeng batu misalnya, zaman kemudian jauh membawa literasi dalam bentuk buku.
Kini internet sudah menjadi kebutuhan wajib masyarakat. Maka, gerakan literasi haruslah ada di dalamnya, agar perpustakaan selalu relevan di mata publik. Salah satunya adalah literasi melalui audio.
“Perpusnas sudah melakukan ini sejak lama. Dengan digitalisasi konten, bahkan mendorong perluasan jejaringnya ke seluruh unit perpustakaan daerah-daerah,” kata Syaiful Huda.
Mendukung pentingnya gerakan literasi digital itu, Syaiful Huda yang mewikili lembaga legislatif DPR, memberi dukungan yang serius bagi usaha Perpusnas dalam usaha mencerdaskan anak bangsa ini.
Syaiful Huda menginginkan gerakan literasi sebagai kolaboratif lintas sektor, termasuk kementerian dan lembaga dari pusat sampai desa.
Pihaknya juga selama ini selalu mengafirmasi agar Perpusnas mendapatkan porsi budgeting yang memadai, untuk melaksanakan mandataori Presiden terkait penyiapan SDM Indonesia unggul.
“Kami sering mengetuk pintu, termasuk ke Kementerian Keuangan untuk membantu. Gerakan literasi ini bukanlah gerakan instan tapi ini jangka panjang. Apalagi, literasi saat ini bukan hanya sekedar membaca dan mengambil inspirasinya, tapi sudah harus menciptakan sesuatu,” kata Huda.










Komentar