16 Agustus 2022 - 01:33 WIB | Dibaca : 1,054 kali

Klenik Tak Terpisahkan dari Masyarakat Indonesia; di Era Modern hingga Politik

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Kepercayaan terhadap ilmu supranatural juga mendorong masyarakat untuk menggunakan ilmu-ilmu gaib dalam membantu mereka melalui masalah-masalah kehidupan

SWARAID, PALEMBANG: Sejak era kuno, masyarakat Indonesia begitu erat dengan karakteristik percaya terhadap hal-hal berbau magis dan klenik. Bahkan bangsa Belanda banyak memuat catatan tentang ini.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menempatkan klenik sebagai sebuah aktivitas perdukunan. Klenik juga dikaitkan dengan banyak hal yang tidak dapat dicerna dengan akal namun dipercaya oleh banyak orang.

Melansir O’Keefe dalam teorinya, pada bukunya yang berjudul Stolen Lightning: The Social Theory of Magic, yang diterbitkan di New York pada 1982, menjelaskan tentang kepercayaan sosial terhadap hal-hal magis yang berkembang di masyarakat.

“Kepercayaan masyarakat dengan hal magis atau klenik, tidak hanya dapat ditemukan di zaman batu saja, bahkan di setiap zamannya, manusia akan selalu bertalian erat dengan hal-hal yang bersifat magis,” tulis Daniel O’Keefe.

“Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta yang dihuni manusia, hewan, dan tumbuhan semata, tetapi juga menciptakan roh atau jin yang tak dapat ditangkap dengan mata telanjang,” tambahnya. Inilah yang kemudian melandasi pemikiran kolektif masyarakat Indonesia akan kehadiran magis dan klenik.

Sebagai penggambaran, salah satu riset yang dilakukan oleh Ayatullah Humaeni, ia menyoroti tentang karakteristik masyarakat Indonesia yang memiliki kecenderungan pada ritual dan kekuatan magis. Ia menulisnya dalam jurnal el-Harakah pada tahun 2017. Jurnalnya berjudul Ritual, Kepercayaan Lokal, dan Identitas Budaya Masyarakat Ciomas Banten.

Baca Juga :  Pempek Masuk Dalam 50 Street Food Terbaik Dunia Versi Taste Atlas

Kehadiran makhluk-makhluk halus juga dipercayai mereka, bahwa makhluk halus itu bisa saja mengganggu kehidupan manusia.

“Warga di Ciomas, Banten, memiliki kepercayaan yang masih bertahan hingga sekarang, perihal kegaiban dan hal magis. Adanya campur tangan jin dalam kehidupan nyata di masyarakat,” tulisnya.

“Lebih lanjut, kepercayaan terhadap ilmu supranatural juga mendorong masyarakat untuk menggunakan ilmu-ilmu gaib dalam membantu mereka melalui masalah-masalah kehidupan,” tambahnya.

Melalui ritual-ritual dan formula-formula (berupa pantangan dan prosedur ritual), mereka menganggap dukun sebagai pendorong keberhasilan.

“Masyarakat adat yang masih bertahan dalam kehidupan modern, akan menyambangi dukun untuk meminta bantuan, agar dimudahkan segala urusannya, sehingga dukun akan melalukan komunikasi dengan makhluk-makhluk metafisik, menjalankan budaya supranatural,” tambahnya.

Meskipun ajaran Islam telah berkembang sebagai bagian yang menentang hal bersifat syirik (menyekutukan Allah), tetapi adat dan kebudayaan yang turun-temurun dari nenek moyang, tetap tak dapat dipisahkan, sekalipun dalam kehidupan modern.

Dukun Dalam Kehidupan Masyarakat Adat

Clifford Geertz dalam catatannya, menyebut bahwa dukun telah menjadi aset bagi kehidupan masyarakat adat di Indonesia.

“Ia memainkan peran penting dalam masyarakat. Ia dipercaya mengobati, menangani, dan memberi jampi agar pasiennya dapat menyelesaikan permasalahannya,” tulis Geertz. Ia menulis dalam bukunya berjudul Agama Jawa yang diterbitkan pada tahun 2014.

Baca Juga :  Heboh !! Lukisan di Rumah Warga Palembang Diduga Karya Vincent Van Gogh

Meski telah tersedia beragam teknologi canggih dalam mengatasi dan memudahkan kebutuhan manusia, masyarakat adat yang hidup di era modern, akan tetap memilih dukun sebagai pembawa keberhasilan dalam setiap urusannya.

“Jampi menjadi mantra penenang yang sangat dipercaya,” tambahnya.

Lepas dari jampi, dukun juga akan memberikan jimat, sebagai pegangan pasiennya dalam urusan yang ia hadapi. “Jimat dapat berfungsi sebagai penyembuh hingga pelindung, keberhasilan, keberuntungan, kadang juga sebagai medium yang memberi kekebalan tubuh,” tulis Arwani Ilyas.

Arwani Ilyas menulisnya dalam jurnal Kontemplasi, berjudul Paradigma Masyarakat Tentang Dukun (Melacak Peran dam Posisi dalam Struktur Sosial Politik dan Ekonomi Masyarakat), yang dipublikasi pada tahun 2017.

“Begitu mendapatkan jampi atau jimat, seketika masyarakat akan terus berpedoman pada semua perkataan dukun,” tulisnya.

Faktor ini juga yang kemudian memunculkan kecenderungan klenik semakin menguat di masyarakat, jampian dukun dan jimat.

“Dalam kehidupan ekonomi, masyarakat pedagang, nelayan hingga pekerja, akan meminta bantuan kepada dukun, atau sekedar memilih jimat-jimat yang dianggap dapat membawa keberhasilan dan keberuntungan dalam mendapatkan rejeki,” tambahnya.

Fenomena-fenomena tersebut, menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap magis adalah sebuah fenomena sosial yang ada, baik pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern di Indonesia.

Baca Juga :  Komunitas Minion Palembang, RD : Pererat Silaturahmi

“Kebergantungan masyarakat kepada alam, tentunya melahirkan masyarakat yang percaya akan hal-hal magis yang lahir dari alam,” pungkas Geertz.

Klenik Dalam Tradisi Politik

Praktek klenik juga sangat akrab dalam tradisi politik di Indonesia. Bukan rahasia umum lagi untuk memuluskan dalam meraih jabatan politik kerap digunakan cara-cara irasional seperti memanfaatkan jasa dukun melalui media magis tertentu.

Mulai pasang susuk, mandi kembang tujuh warna, bersemedi ditempat tertentu yang dianggap memiliki kekuatan magis sampai yang ada mengangkat guru “spritual” khusus.

Efeknya permintaan jasa dukun atau orang yang dianggap memiliki kemampuan supranatural, praktek klenik tumbuh subur dalam tradisi politik kita.

Bahkan tidak jarang sang dukun memasang tarif fantastis untuk bisa menggunakan jasanya. Suatu yang ironi memang di tengah arus modernisasi tapi itulah kenyataan yang tersuguh.

Praktik klenik ini disebut-sebut pernah dilakukan elit bangsa dari dulu sampai sekarang. Selain itu praktik ini tidak mengenal status sosial, latar belakang pendidikan maupun profesi.

Jangan dikira orang yang berpendidikan tinggi bisa bebas dari praktek klenik. Ambisi dan sikap serba instan seringkali membuat orang kehilangan rasionalitas sehingga “terjebak” dalam praktek yang sering dikaitkan dengan purbakalisme ini.

Komentar