17 November 2021 - 01:35 WIB | Dibaca : 555 kali

Ancaman Hiperinflasi Membayangi Negara Adidaya, Indonesia Perlu Waspada?

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA : Amerika Serikat disebut-sebut akan menjadi negara yang akan menghadapi ancaman hiperinflasi.

Jack Dorsey, sang pemilik Twitter bahkan membuat ramai jagat maya dengan mencuitkan tentang kemungkinan terjadinya hiperinflasi di Negeri Paman Sam tersebut. Beberapa ekonom juga telah memprediksi hal yang sama sejak Maret tahun ini.

Hyperinflation is going to change everything. It’s happening.” Cuit akun @jack pada 23 Oktober lalu.

Mengutip dari Wikipedia, hiperinflasi didefinisikan sebagai inflasi yang tidak terkendali, kondisi ketika harga-harga naik begitu cepat dan nilai uang menurun drastis dan diluar kendali yang terjadi dalam perekonomian suatu negara. Secara formal, hiperinflasi terjadi jika tingkat inflasi lebih dari 50% dalam satu bulan.

Dengan bahasa lain, hiperinflasi merupakan kondisi dimana harga barang dan jasa mengalami kenaikan secara berlebihan sehingga sebagian besar masyarakat tidak mampu membeli.

Pakar ekonomi Amerika Serikat Philip Cagan merupakan pakar yang pertama kali membahas konsep ini dalam buku “The Monetary Remix of Hyperinflation.”

Baca Juga :  Shrinkflation; Strategi 'Diam-Diam' Perusahaan di Tengah Laju Inflasi

Dijelaskan Cagan, kondisi hiperinflasi ini terjadi  ketika angka inflasi melonjak hingga 50% dalam jangka waktu satu bulan.

Penyebab hiperinflasi

1.Terjadinya peperangan

2.Ketidakstabilan politik

3.Depresi Ekonomi

Negara yang pernah mengalami hiperinflasi

1.Hongaria

Hongaria mengalami hiperinflasi pada 1946 pasca perang dunia ke dua. Sebanyak 40% kekayaan negara ini terkikis. Tingkat inflasi  harian mencapai 207% dan harga-harga mengalami kenaikan per 15 jam.

2.Zimbabwe

Pada 2008, Zimbabwe juga sempat mengalami hiperinflasi dengan tingkat inflasi harian mencapai 98%. Harga-harga naik dua kali lipat per 25 jam.

3.Venezuela

Venezuela merupakan negara yang saat ini tengah mengalami fenomena hiperinflasi. Negara Amerika Latin ini merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi ini telah mengalami hiperinflasi selama tujuh tahun berturut-turut. Dana Moneter Internasional mempradiksi tingkat  inflasi Venezuela di akhir 2021 mencapai  5500%.

Dampak hiperinflasi

1.Naiknya harga kebutuhan pokok yang otomatis berdampak pada meningkatnya biaya hidup

2.Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK)

3.Memicu aksi kerusuhan dan penjarahan

4.Masyarakat melakukan eksodus

Prediksi yang dikemukan sebagian pihak akan terjadinya hiperinflasi di Amerika Serikat mengundang berbagai pertanyaan. Apakah hiperinflasi di negara adidaya tersebut akan berdampak pada Indonesia?

Baca Juga :  Kerjasama dengan UGM, Kominfo Buka Beasiswa S2 Digital

Melansir Republika.co.id Ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah mengatakan, sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia, hiperinflasi di AS bisa memberikan dampak seperti pada kenaikan harga kedelai dan gandum.

“Ini dampaknya secara langsung. Kedelai itu sebagai bahan baku tahu tempe, gandum itu bahan baku mi dan roti. Ini perlu diantisipasi.” Kata Rusli.

Menurutnya, Indonesia sebagai importir sejumlah komoditas pangan perlu mengamankan harga pangan sejak dini dengan sistem kontrak yang berlaku.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebut Rusli perlu sejak dini mengidentifikasi produk-produk impor strategis dari AS yang memiliki kemungkinan kenaikan harga.

 

Komentar