22 November 2021 - 08:13 WIB | Dibaca : 1,189 kali

PT Bukit Asam Menuju Perusahaan Energi dan Kimia Kelas Dunia

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA : Sejumlah negara dunia sepakat menghentikan penggunaan bahan bakar fosil sebagai salah satu upaya menyelamatkan bumi dari krisis iklim. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tidak akan berlaku lagi.

Sejalan dengan program hilirisasi industri yang menjadi fokus pemerintah dalam upaya peningkatan nilai, ekspor bahan mentah (raw material) segera dihentikan. Batu bara salah satunya, akan diolah di dalam negeri, baru setelahnya boleh digunakan ataupun diekspor.

Menurut data terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan batu bara Indonesia masih 38,84 miliar ton dengan rata-rata produksi sebesar 600 juta ton per tahun.

Selain cadangan batubara, Indonesia juga masih memiliki sumber daya batubara sebesar 143,7 miliar ton. Potensi cadangan batubara di Indonesia banyak ditemukan di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Berbicara batu bara, PT Bukit Asam (PTBA) merupakan perusahaan tambang batu bara yang tengah bersiap memulai transformasinya menuju perusahaan energi dan kimia kelas dunia.

Dengan tagline “Beyond Coal” sebagai spirit baru bagi perusahaan pelat merah ini menjalani transformasi di masa yang penuh disrupsi sekarang ini.

Selama ini, PTBA hanya berbisnis menambang batu bara, lalu menjualnya, ke depannya perusahaan bersiap masuk ke industri hilir seperti pembangkit listrik dan juga energi baru terbarukan yang merupakan masa depan energi dunia.

Baca Juga :  It's Ok Kalah di WTO ! Indonesia Maju Terus Hilirisasi Nikel

“Ini tanggung jawab perusahaan untuk menyelamatkan kehidupan dan lingkungan hidup di masa mendatang,” kata Direktur Utama PTBA Eko Hadianto dikutip dari Koran.tempo.co

Secara filosofis dan strategis, PTBA telah menyusun tahapan menuju perusahaan energi dan kimia kelas dunia yang akan memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Kita bagi dalam beberapa step yang saya sebut sebagai pemberhentian, agar kita tidak lari kemana-mana,” ujar Suryo.

Pada 2026, atau lima tahun ke depan, capaian itu akan ditandai dengan  porsi revenue dari lini bisnis energi akan mencapai 50 persen. Perusahaan, kata Suryo masih tetap jualan batu bara, namun pendapatan perusahaan juga akan masuk dari jualan listrik.

“Ini adalah destinasi pertama kami,” kata Suryo yang telah berkarir di Bukit Asam selama 30 tahun.

Salah satu upaya PTBA untuk menjadi perusahaan energi adalah dengan membangun pembangkit listrik mulut tambang PLTU.

Dari bisnis pembangkit ini, perusahaan akan mendapatkan keuntungan end to end, mulai dari tambang hingga ke listrik yang dihasilkan pembangkit.

Baca Juga :  Kapolres Muara Enim Didampingi Managemen PT Bukit Asam Serahkan Bantuan Bibit Ikan

Menurut Suryo ini adalah cara transformasi PTBA yang tidak asal lompat tapi tetap mengamankan core bisnis perusahaan yang selama ini sudah berjalan.

Salah satu proyek terdekat, PLTU Sumsel 8 diproyeksikan pada triwulan I 2022 sudah masuk ke dalam jaringan transmisi PLN.

Di sektor energi baru terbarukan, PTBA juga telah memulai mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS. Transformasi ini dilakukan secara hati-hati dengan tetap meperhatikan kekuatan yang menjadi modal utama PTBA.

Suryo mengungkapkan di atas lahan-lahan bekas tambang yang menjadi aset perusahaan akan disulap menjadi PLTS. Transformasi ke sektor energi baru terbarukan ini akan dilakukan secara terukur.

Perusahaan telah merintis PLTS di sejumlah wilayah di Lampung, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat untuk memompa air guna keperluan irigasi masyarakat.

PTBA juga telah melakukan pilot project pembangunan PLTS dengan AP2 di Bandara Soekarno Hatta yang telah COD pada Oktober 2020 yang lalu. Perseroan juga telah bersiap mengembangkan bio fuel dengan memanfaatkan lahan eks tambang sebagai perkebunan sawit.

Pada saat yang sama, PTBA juga telah memulai pengembangan DME atau Dimethyl Ether sebagai alternative pengganti Liquified Petroleum Gas atau LPG yang amat bergantung dengan impor. “DME ini kita bicara soal kemandirian bangsa,” katanya.

Baca Juga :  Bukit Asam Gelar Khitanan Massal Gratis di 5 Kecamatan di Sekitar Wilayah Operasional Perusahaan

Perjanjian induk pengembangan DME telah diselesaikan oleh Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan Air Products & Chemicals Inc. (APCI). Proyek DME ini adalah upaya negara untuk lepas dari ketergantungan dari impor LPG.

Suryo menegaskan PTBA dalam operasionalnya selalu memadukan aspek profit, planet, dan people. Perusahaan, kata dia, harus membawa peradaban dan kesejahteraan bagi masyarakat dan daerah tempat operasional perusahaan.

Selama pandemi, Perseroan memberikan bantuan kepada masyarakat di sekitar wilayah operasi baik berupa uang, obat-obatan, pembagian alat kesehatan, fasilitas rumah sakit yang totalnya senilai lebih dari Rp 30 miliar

PTBA juga ikut membangun visi Tanjung Enim sebagai kota wisata. Sejumlah destinasi dibangun oleh perusahaan, seperti kebun binatang dan museum tambang batu bara terlengkap di Asia Tenggara.

Sebuah museum kekinian yang dekat dengan anak muda yang memberi rekam jejak sejarah Tanjung Enim. Perseroan turut mengubah wajah Tanjung Enim menjadi lebih tertata dan bersih.

Komentar