oleh

Malam 1 Suro; Sejarah, Tradisi, dan Mitos

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :104 kali | Durasi baca : 2 Menit

SWARAID-JAKARTA, (10/08/2021): Masyarakat Jawa menyebut tahun baru Islam sebagai malam 1 Suro. Tahun baru Islam atau 1 Muharram akan jatuh pada 10 Agustus 2021.

Dikutip dari beberapa sumber, sejarah 1 Suro ada sejak Kerajaan Mataram Islam dan diciptakan oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645).

Sultan ingin mengubah Kalender Saka (kalender Jawa dan Hindu) sesuai dengan penanggalan agama Islam.

Konon Sultan memiliki niat untuk menyatukan dua kubu masyarakat Jawa yang terpecah akibat perbedaan keyakinan antara penganut Kejawen yang merupakan kepercayaan orang Jawa dengan Putihan (kepercayaan Islam).

Selain itu, mitos malam 1 Suro sebagai datangnya Aji Saka ke Pulau Jawa yang mampu melepaskan rakyat dari genggaman makhluk gaib.

Kesultanan Yogyakarta, Kasunan Surakarta dan Kasepuhan Cirebon rutin mengadakan ritual setiap tahunnya pada malam 1 Suro.

Dalam ritual itu masyarakat akan mengelilingi keraton dalam diam, memandikan benda-benda pusaka, berendam di kali, mandi kembang dan mengarak kerbau bule.

Masyarakat Jawa percaya bahwa ritual tersebut dapat membawa berkah. Di sisi lain, malam 1 Suro juga dipercaya dapat mendatangkan kesialan bagi mereka yang melanggar pantangan.

Baca Juga :  Warna Cat Pesawat Kepresidenan Makin "Ramai", PDIP dan Demokrat Saling Sindir

Berikut beberapa hal mitos 1 malam Suro yang dipercayai oleh orang Jawa.

1. Tapa bisu atau tak boleh berbicara
Beberapa orang Jawa memilih ritual pada malam 1 Suro, salah satunya adalah tapa bisu atau tidak boleh berbicara sama sekali. Ritual ini biasanya dilakukan saat mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta.

Selain tak boleh bicara, orang tersebut juga tidak boleh makan, minum serta merokok saat melakukan ritual tapa bisu.

2. Tak boleh keluar rumah
Masyarakat jawa percaya bahwa setiap malam 1 Suro lebih baik berdiam diri di rumah. Mitos yang dipercaya apabila melanggar aturan ini maka orang tersebut akan mendapatkan kesialan dan hal buruk.

3. Pindah rumah
Berdasarkan primbon Jawa orang tidak disarankan untuk pindah rumah pada saat malam 1 Suro. Orang jawa percaya ada hari baik dan hari buruk.

4. Tidak menggelar pernikahan
Orang tua Jawa percaya bahwa menikahkan anaknya di bulan Suro akan mendatangkan kesialan. Namun beberapa orang mengatakan bahwa hal ini adalah mitos belaka.

Baca Juga :  Peringati Hakordia, Walikota Harap Palembang Bersih dari Korupsi

Alasannya, jika masyarakat mengadakan pesta pernikahan pada malam 1 Suro dianggap menyaingi ritual keraton yang akan dirasa sepi. Hal ini juga berlaku pada pesta-pesta lainnya seperti pesta sunatan atau pesta syukuran lainnya dan hal ini mash dipercaya oleh orang Jawa.

Tidak hanya di Jawa, di daerah lain juga ada cara dan ritual yang dilakukan untuk memperingati tahun baru Islam 1 Muharram atau 1 Suro seperti berdoa dan menyantuni anak yatim.

Namun, inti dari malam Tahun Baru Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dibandingkan percaya dengan mitos malam 1 Suro. (CNNIndonesia.com)

UMKM Kito - Solusi UMKM Go-Online

Komentar

Berita Lainya