25 September 2022 - 05:07 WIB | Dibaca : 715 kali

Hari Tani Nasional 2022 (ke-62); Refleksi dan Evaluasi Keras

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Penulis: Dedek Chaniago*) 

Sumsel khususnya, semangat kalaborasi gotong royong negara hadir dalam menjalankan reforma agraria semakin tipis dan menipis.

Coba menyamakan frekuensi untuk mengunakan metode yang sama dalam menjalankannya ternyata tak mudah dan bahkan jauh panggang dari api.

Sangat sederhana poinnya untuk dikerjakan. Indentifikasi verifikasi objek dan subjek peluang potensi dan persoalan lama yang tak selesai dengan pendekatan 7 tujuan Reforma Agraria lalu pakai UUPA No.5 1960 serta PerPres 86 Tahun 2018 untuk dijadikan senjatanya.

Intisari dari 7 poin Tujuan Reforma Agraria:

A. Redistribusi Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) bersumber tanah dari Ex HGU, Tanah terlantar, Pelepasan Kawasan Hutan dan serius Penyelesaian Sengketa Konflik. Caranya ayo indetifikasi, verifikasi dan jalankan proses penyelesaian sengketa konflik, lalu usulkan dan tetapkan menjadi TORA.

B. Setelah Mengusulkan dan menetapkan menjadi TORA dan jadi Kampung/Desa/Wilayah Reforma Agraria kawal Akses Permodalannya, Pasarnya dan perlindungannya.

Lah malah yang terjadi apa?
1. Indentifikasi verifikasi ex HGU mana?
2. Indentifikasi verifikasi dan penetapan tanah terlantar mana?
3. Kerja kongrit pengawalan dan pelaksanaan/implementasi Pelepasan Kawasan Hutan mana?
4. Proses jalan penyelesaian terkhusus 15 titik sengketa konflik mana?

Baca Juga :  UPTD BLUD sebagai Infrastruktur Penopang Utama Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik di Kota Palembang

Bukan tidak pernah diusulkan atau diaspirasikan. Malah adu gagasan dan tarung perdebatan sudah dilakukan.

Yang ada malah jalan sendiri-sendiri, agenda sendiri, alergi kerja bareng gotong royong, tidak disuport anggaran yang maksimal, kepala daerah sampai kepala desa tidak menggaungkan dan bahkan tidak mengerti reforma agraria, penggiat atau aktivis agraria dianggap penghalang atau musuh dan bahkan di cap mafia tanah. Dan kemudian bahkan kesadaran pengorganisiran rakyat TANI menjadi jauh dan bahkan tidak mandiri terbagun.

Tapi harapan itu terus ada, menipis bukan berarti nyerah dan pasrah. Masih ada waktu 2 tahun lagi dan bahkan di kepemimpinan nasional yang baru sekalipun.

Jaga semangat, pantang menyerah dan terus melakukan walaupun hal yang terkecil.

*)Anggota GTRA SUMSEL Satgas Sengketa Konflik

Komentar