29 Oktober 2022 - 04:02 WIB | Dibaca : 969 kali

Fungsionaris Partai Nasdem Kota Palembang Mundur? Pengamat: Mereka Kecewa

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Karena mereka berpikir selama ini mereka yang sudah berbuat, sudah bekerja, tau-tau kok jadi dipimpin orang lain

SWARAID, PALEMBANG: Kepengurusan DPD Partai Nasdem Kota Palembang dengan nahkoda baru Fitrianti Agustinda baru saja dilantik pada Kamis (20/10/22).

Namun tak dinyana, baru sepekan dilantik, berhembus kencang kabar bahwa beberapa pemangku posisi penting di pengurusan partai, yakni bendahara dan wakil sekretaris mengundurkan diri dari kepengurusan.

Bahkan ramai menjadi buah bibir, bahwa pemunduran ini akan disusul oleh beberapa anggota lainnya.

Hingga berita ini dipublikasi, pihak redaksi telah mencoba mengkonfirmasi kepada yang bersangkutan, namun sayang belum mendapatkan jawaban.

Bila menilik pada pergantian Ketua pada 20 Oktober lalu, terdengar polemik yang merebak di internal Partai Nasdem.

Penetapan pergantian Ketua DPD Partai Nasdem Kota Palembang dari ketua terdahulu yakni Danu Mirwando dan beralih kepada Fitrianti Agustinda yang telah enam bulan mengundurkan diri dari kepengurusan partai sebelumnya dirasa cukup mengagetkan.

Muncul dugaan bahwa pemunduran beberapa fungsionaris partai yang baru beberapa hari dilantik dikaitkan dengan pergantian nahkoda ini.

Memperhatikan kasus ini, Pengamat Politik Ade Indra Chaniago menilai dinamika yang menerpa DPD Partai Nasdem Kota Palembang ini merupakan bentuk kekecewaan pengurus partai.

Baca Juga :  Kunjungi Rumah Baca RMPN, Finda Bagi-bagi Buku dan Sembako

“Bisa dipastikan kehadiran Finda itu membuat beberapa pengurus kecewa dan yang pasti lagi, kekecewaan itu muncul karena Finda ini lahir dari rahim segelintir elit.” Kata Ade Indra ketika dihubungi SWARAID melalui sambungan telepon, Sabtu (29/10/22).

Dikatakan Ade lagi, bahwa reaksi yang ditunjukkan oleh fungsionaris partai adalah sebuah kewajaran.

“Wajar ada reaksi itu. Karena mereka berpikir selama ini mereka yang sudah berbuat, sudah bekerja, tau-tau kok jadi dipimpin orang lain.” Terang Ade kembali.

Ade menilai, seharusnya para elit politik lebih demokratis dalam melakukan pemilihan ketua sesuai dengan AD/ART partai.

“Dengan terpilihnya Finda ini kan semakin kental kita melihat kerja-kerja oligarki, artinya segelintir yang mengelola kekuasaan. Ini yang kita sedihkan. Harusnya kan bisa lebih demokratis, lewat forum, yang memang sepanjang yang saya tau diatur dalam AD/ART mekanisme seleksi kepemimpinan di internal partai.”

Dijelaskan Ade lebih lanjut, dengan munculnya persoalan ini akan menimbulkan banyak hambatan dalam melakukan kerja partai dan akan menyita banyak energi.

Baca Juga :  Wahidin Siap Maju Jadi Pimpinan EK LMND Palembang di Konferensi Kota ke-10

“Energi partai akan tersita dengan konsolidasi internal. Harusnya kan partai bisa maksimal melakukan kegiatan politik kalau tidak ada persoalan internal. Di satu sisi partai sudah harus melakukan kegiatan politik, di sisi lain harus melakukan konsolidasi internal.”

Ade memastikan jika situasi ini tidak segera terkonsolidasi maka akan sangat mengganggu kerja politik partai.

Menurut Ade pula, terpilihnya Finda sebagai pemimpin harusnya melalui mekanisme yang semestinya.

“Meskipun kita tau kehadiran Finda ini sebenarnya gak lebih untuk gelaran politik Pilkada 2024. Harusnya mekanisme partai yang ada ini dilalui, tidak serta merta sekelompok elit yang berkuasa berpikir mereka mampu dan tanpa melakukan hal-hal yang demokratis mereka bisa melakukan itu.”

Ade mengaku prihatin memperhatikan situasi ini,

“Ini yang membuat kita prihatin dengan sistem kepartaian hari ini. Kalau partainya saja sebagai stakeholder sudah begitu, gimana rakyat mau diajari berdemokrasi. Karena mereka tidak memberikan contoh yang baik, partainya aja gitu. Gak ada lagi mekanisme yang dilalui, wong kita dididik demokrsi, kan bullshit itu.”

Baca Juga :  Mantapkan Dukungan, Partai Prima OKI Dukung Pasangan Muchendi-Supriyanto

Untuk kembali mengharmoniskan internal partai, dikatakan Ade, Finda harus segera melakukan komunikasi politik.

“Finda khususnya, harus membangun komunikasi politik dengan stakeholder baik secara institusi maupun secara personal. Sehingga kominikasi ke depan bisa lebih cair, dan energi partai tidak tersita untuk hal-hal yang tidak penting seharusnya.”

Karena, diterangkan Ade, tahapan Pemilu saat ini telah dimulai dari beberapa bulan lalu. Jangan sampai hal ini menjadi tidak maksimal manakala Finda gagal dalam melakukan komunikasi politik.

“Saya pikir cukup sederhana kok, cukup dengan membangun komunikasi politik, pendekatan institusi maupun personal.” Tukas Ade Indra Chaniago.

Komentar