28 Juli 2022 - 00:46 WIB | Dibaca : 296 kali
Topik :

Dugaan Mafia Tanah di Banyuasin; Kebun Sawit 15,5 Hektare Jadi Sengketa

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

Sudah dikelola sejak 2012 dan telah membuahkan hasil, lahan sawit seluas 15,5 hektare diakui kepemilikannya oleh warga sekitar dengan bukti sertifikat

SWARAID, BANYUASIN: Lahan seluas 15 Hektar di daerah Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan yang telah dikelola sejak tahun 2012 dan diatasnya ditanami pohon sawit hingga telah beberapa kali melalui masa panen, kini kepemilikan lahan tersebut dipermasalahkan.

Pasalnya beberapa warga di sekitar lokasi mengklaim memiliki serifikat tanah yang resmi terhadap kepemilikan lahan tersebut.

Abas Kurib yang mengaku sebagai pemilik kebun sawit diatas lahan seluas lebih kurang 15 hektar tersebut mengungkapkan, bahwa lahan yang saat ini diklaim oleh beberapa warga sekitar itu adalah lahan miliknya yang ia beli dari masyarakat Tanjung Lago pada tahun 2001.

“Saya belinya dari masyarakat, SPH nya yang mengeluarkan itu Pak Basrul Yanto, Kades Tanjung Lago yang lama, suratnya dikeluarkan tahun 2001,” jelas Abas kepada SWARAID, Rabu ( 27/7/22 ).

Diceritakan Abas, saat dirinya tengah memanen hasil dari pohon sawit miliknya beberapa waktu lalu, dirinya didatangi oleh seseorang bernama Junaidi yang mengaku diperintahkan untuk memberitahukan pada Abas, bahwa lahan yang sedang dikelolanya masuk ke dalam areal lahan milik KGS. Tarmizi dan Nyayu Rosdiana yang mengklaim bahwa posisi, lokasi dan luasan lahan tersebut sesuai dengan sertifikat yang mereka punya.

Baca Juga :  Korsleting Listrik, Pasutri Tewas dalam Insiden Kebakaran di Desa Karang Anyar

“Saya sudah pernah kehilangan tanah, kasusnya hampir sama, hanya saja polanya agak berbeda. Jadi kali ini saya tidak mau lagi kehilangan lahan saya, sudah 20 tahun saya kelola lahan tersebut, dan sudah ada hasil, eh tiba-tiba ada yang klaim dengan bilang punya sertifikatnya,” kata Abas.

“Kalau memang mereka merasa lahan tersebut kepunyaan mereka dan sudah punya sertifikat, silahkan gugat saya. Saya tunggu !” ujarnya menambahkan.

Agar permasalahan ini cepat selesai dan menemukan titik terang, Abas telah melakukan upaya dengan melaporkan masalah ini ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Banyuasin. Dirinya berharap BPN Banyuasin dapat membantu menyelesaikan masalah ini tanpa harus ke ranah hukum.

“Saya minta BPN segera mengambil tindakan, saya ingin ada tim yang turun kelapangan, langsung memeriksa dan mengukur ulang bila perlu, serta memastikan kembali titik koordinat lahan yang dipermasalahkan,” tegasnya.

“Sementara ini, lahan saya sudah saya batasi dan diberi tanda agar orang tidak masuk sembarangan,” ujarnya menambahkan.

Komentar