28 Mei 2024 - 05:34 WIB | Dibaca : 3,886 kali

Banjir Besar Tahun 2024: Perubahan Iklim dan Forum Air Sedunia

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Penulis : Rio Solehudin, ST*

Di tahun 2024 ini, banjir besar yang melanda beberapa negara seperti ;
– Banjir terparah dalam sejarah Brazil terjadi di Rio Grande do Sul, banjir bandang ini dipicu akibat curah hujan tinggi disertai badai yang menyebabkan permukaan sungai naik dan menggenangi setidaknya 114 kota di berbagai wilayah.

– Curah hujan ekstrem memicu banjir parah yang melanda Kota Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Badan Pusat Meteorologi UEA, mencatat curah hujan mencapai 254,8 milimeter ketika banjir terjadi dan merupakan curah hujan tertinggi sejak pencatatan 75 tahun lalu.

– Hujan lebat telah menewaskan ratusan orang di seluruh Pakistan pada April. Sedikitnya 50 orang tewas di Pakistan akibat badai yang menerjang negara itu. Sebagian besar kematian di Pakistan terjadi di provinsi barat laut Khyber Pakhtunkhwa, di mana hujan lebat dan banjir bandang memicu tanah longsor, merusak rumah, dan menumbangkan pohon.

– Sungai-sungai besar di seluruh Inggris dilanda banjir pada April setelah hujan lebat, dan pemerintah mengeluarkan lebih dari 300 peringatan banjir, operator perjalanan mengumumkan gangguan serius dan sekitar 1.000 rumah mengalami kerusakan.

– Banjir telah menewaskan 58 orang di Tanzania. Pemerintah mengumumkan jumlah korban tewas pada Minggu malam ketika hujan lebat terus melanda negara itu. Bulan April menandai puncak musim hujan di Tanzania, dan tahun ini diperburuk oleh fenomena El Nino, yang menyebabkan kekeringan dan banjir di seluruh dunia.

– Hujan lebat selama beberapa hari telah melanda China selatan, memicu banjir mematikan dan mengancam kehidupan puluhan juta orang. Provinsi Guangdong, pusat perekonomian yang menampung 127 juta orang, dilanda banjir besar yang memaksa lebih dari 110.000 orang harus direlokasi. Sejak tanggal 16 April, hujan deras yang berkepanjangan telah mengguyur Delta Sungai Pearl, jantung manufaktur Tiongkok dan salah satu wilayah terpadat di negara tersebut, dengan empat stasiun cuaca di Guangdong mencatat rekor curah hujan tertinggi pada bulan April 2024.
Lalu untuk kondisi banjir di dalam negara Indonesia dalam satu semester (Januari-Mei) 2024 ;

– banjir bandang di Kabupaten Demak, Grobogan dan Kudus.

– bencana banjir yang diakibatkan oleh Hujan dengan intensitas tinggi melanda 3 kecamatan di Kota Bima terendam banjir, Kecamatan Rasanae timur, Kecamatan Raba, dan Kecamatan Mpunda.

– Selama Maret 2024, banjir dan longsor yang disebabkan oleh cuaca buruk melanda 10 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, bencana ini mengakibatkan 28 orang meninggal (25 di Pesisir Selatan dan 3 di Padang Pariaman), sementara 4 orang masih dinyatakan hilang.

– Bencana banjir melanda sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Barat ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di bulan Januari-Mei 2024 telah terjadi bencana banjir dengan jumlah 94 kejadian, yang terjadi di 25 kota dan kabupaten pada Provinsi Jabar.

– Bencana banjir yang terjadi di 7 kabupaten/kota di Sumatera Selatan (Sumsel); lima kabupaten/kota yang mengalami banjir dikarenakan intensitas hujan yang tinggi seperti Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Lahat, Kabupaten OKU dan Kota Prabumulih. Banjir telah mengakibatkan kerugian hingga triliunan rupiah, tidak hanya merendam dan merusak rumah warga, banjir juga menghantam fasilitas umum, pendidikan, perkebunan dan pertanian dan sebagainya.

Banjir Bandang; Perubahan Iklim Penyebabnya

Bencana banjir yang terjadi secara ekstrim di beberapa Negara di dunia serta beberapa Provinsi di Indonesia dalam kurun waktu bulan Januari sd Mei tahun 2024 bukanlah hanya fenomena biasa atau siklus tahunan dengan puncak hujan Januari sd Mei setiap tahunnya, atau permasalahan karena semakin kurangnya tutupan lahan akibat pembukaan lahan untuk pertanian, pembukaan lahan untuk pertambangan dan pembukaan lahan sebagai pemukiman atau juga karena lemahnya teknologi saluran irigasi bahkan mitigasi tingkat bencana.

Kondisi cuaca atau iklim yang ekstrim, dalam hal ini yang mendominan terjadi yakni banjir atau berlebihnya tingkat air yang turun akibat hujan, merupakan bukti bahwa Perubahan Iklim telah dan sedang terjadi, terjadi secara global. Dimana bukti-bukti tentang hal itu telah dilaporkan secara sistematis oleh Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dan The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Perubahan iklim telah dan akan menyebabkan bahaya langsung, seperti perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, kenaikan muka air, dan kejadian iklim ekstrim. Sebuah situasi kondisi yang memicu perubahan iklim global dan perubahan iklim telah diterima banyak pihak sebagai keniscayaan yang diwujudkan oleh pemanasan global, dengan dampak langsung terhadap daur hidrologi, sehingga perubahan iklim diyakini memberi dampak secara nyata terhadap sumberdaya air di banyak tempat di dunia dengan konsekuensi luas pada kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Baca Juga :  21 Anak Sungai di Palembang Alami Pendangkalan, Berikut Upaya Pemkot!

Perubahan iklim adalah sebuah kondis ketika i beberapa unsur iklim yang magnitude dan intensitasnya cenderung berubah atau menyimpang dari dinamika dan kondisi rata-rata (normal), menuju ke arah (tren) tertentu (meningkat atau menurun). Penyebab utama perubahan iklim adalah kegiatan manusia (antropogenik) yang berkaitan dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) seperti CO2, metana (CH4), CO2, NO2, dan CFCs (chlorofluoro-carbons) yang mendorong terjadinya pemanasan global dan telah berlangsung sejak hampir 100 tahun terakhir.

Berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi dengan indikasi suhu dan distribusi curah hujan telah membawa dampak luas di berbagai sektor kehidupan manusia. Dan secara khususnya, Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada pada daerah tropis merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan dampak lanjutan dari pemanasan global yang berjalan terus menerus yang dirasakan dalam waktu yang cukup lama yaitu kurun waktu 30 tahun atau lebih.

Perubahan iklim terlihat dari perubahan empat unsur ;
1. Suhu udara
2. Curah hujan
3. Kelembaban udara
4. Tekanan udara.

Peningkatan suhu udara di bumi akan mengakibatkan cadangan air di atmosfer meningkat sehingga mengurangi ketersediaan air di dalam tanah, khususnya pada saat musim kemarau. Lalu pada saat suhu atmosfer menurun, akan terjadi hujan yang intens (sering). Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas terjadinya badai tropis dan kejadian ekstrim lainnya. Peningkatan suhu juga berdampak pada air dengan cara membentuk lingkungan untuk bakteri, protozoa, dan algae untuk tumbuh sehingga dapat menyebabkan penyakit dan kematian khususnya pada anak-anak (data UNICEF, 2013). Pada saat musim kemarau ekstrim, akan ada lebih banyak air yang menguap dari tanaman, hewan, dan manusia ke atmosfer sehingga permintaan akan air pun akan meningkat sedangkan ketersediaan air tidak mencukupi.

Dampak perubahan iklim yang berpengaruh terhadap sumber daya air baik langsung atau tidak langsung ;
1. Meningkatnya intensitas curah hujan pada musim basah (extreme rainfall);
2. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir (extreme flood);
3. Berkurangnya curah hujan dan debit sungai pada musim kemarau serta bertambah panjangnya periode musim kering (drought)
4. Meningkatnya temperatur yang diikuti gelombang panas (head waves)
5. Perubahan ekosistem dan layanan ekosistem; 6. Meningkatnya intensitas dan frekuensi badai (tropical cyclone)
7. Meningkatnya tinggi gelombang, abrasi pantai, dan meluasnya kawasan yang terpengaruh intrusi air laut.

Akibat dari dampak perubahan iklim tersebut adalah krisis air bersih perkotaan, kerawanan pangan, meningkatnya frekuensi penyakit, perubahan pola curah hujan dan kerawanan bencana. Mengutip beberapa data pada periode 2010-2017 telah terjadi peningkatan 887 kejadian bencana hidrometeorologi dengan bencana iklim hidrologi antara lain banjir, longsor, kekeringan, angin puting beliung, kebakaran hutan, gelombang pasang dan abrasi. Kemudian semester awal tahun 2024 ini dampak dari perubahan iklim terhadap perubahan curah hujan (hidrologi) kembali terjadi.

Perubahan Iklim Pengaruhi Siklus Air

Perubahan iklim berpengaruh pada terjadinya kenaikan muka air laut yang disebabkan karena mencairnya es maupun gletser yang berada di Benua Artik akibat meningkatnya suhu global.

Melelehnya es dan glasier mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Temperatur yang lebih tinggi berujung pada meningkatnya suhu air laut yang berkontribusi pada meningkatnya permukaan air laut dan banjir.

Perkiraan terbaru menyatakan bahwa Greenland dan Antartika kehilangan sekitar 150 hingga 250 kilometer kubik es per tahun (data NASA) serta es di laut arktik berkurang sebesar 13,3% per decade (data NASA).

Air merupakan unsur penting pendukung kehidupan di semesta. Air mendukung kehidupan alam, sosial, dan ekonomi. Manusia membutuhkan air untuk mengairi lahan pertanian, untuk mendukung operasional industri, untuk menghasilkan energi dan lainnya. Perubahan iklim sangat mempengaruhi ekosistem bumi, kehidupan, serta kesejahteraan masyarakat. Perubahan iklim menimbulkan efek yang sangat besar bagi pembangunan dan keamanan manusia (data UN Water, 2010). Perubahan iklim menyebabkan perubahan siklus air, kenaikan suhu bumi, kenaikan muka air, dan terjadinya iklim ekstrim.

Perubahan iklim akan merubah siklus hidrologi, permintaan serta ketersediaan akan sumber daya air. Sebagai contoh, perubahan iklim telah menyebabkan penguapan air tanah dan air laut terjadi lebih besar, mengakibatkan atmosfer dapat menampung 4% lebih banyak air untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Fahrenheit (data UCSUSA, 2010).

Perubahan siklus hidrologi akibat perubahan iklim akan berdampak pada ketersediaan sumber air dari sisi frekuensi, intensitas, dan distribusi presipitasi (proses jatuhnya segala materi yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi dalam bentuk hujan dan salju) air tanah, glasier dan lelehan salju, sungai dan aliran air tanah, serta memicu penurunan kualias air. Diperkirakan terjadi beberapa dampak negatif seperti peningkatan frekuensi banjir pada sebuah daerah dan kekeringan parah pada daerah lainnya. Tingkat pengaruh dari perubahan siklus hidrologi ini berbeda pada setiap daerah.

Baca Juga :  Di Bawah Guyuran Hujan, Harnojoyo Bersama Warga Singkirkan Pohon Tumbang

Siklus hidrologi memengaruhi kemampuan sumber air untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan lingkungan dalam segi kuantitas dan kualitas. Perubahan iklim dapat menyebabkan meningkatnya intensitas presipitasi, mengakibatkan meningkatnya air limpasan tetapi air tanah tidak optimal terisi. Berkurangnya glasier, mencairnya es di kutub, dan berubahnya presipitasi dari salju ke hujan dengan kemungkinan besar memengaruhi alur musim. Musim kemarau yang lebih panjang akan mengurangi kadar air tanah, aliran air di sungai, dan memengaruhi ketersediaan air untuk agrikultur, pabrik, produksi energi, serta air minum. Meningkatnya intensitas hujan, melelehnya es glasier dan penebangan hutan secara massal akan meningkatkan erosi tanah dan mengambil nutrisi tanah. Perusakan yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati dan nabati serta merusak ekosistem (UN Water, 2010).

Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan terbesar dan menempati peringkat risiko tertinggi kedua terhadap penghidupan sebagaimana tercantum dalam Laporan Risiko Global tahun 2021 (WEF (World Economic Forum)2021). Perubahan iklim mengakibatkan kenaikan suhu dan variasi curah hujan, yang akibatnya mempengaruhi siklus hidrologi. Debit sungai merupakan indikator utama ketersediaan air untuk sektor pertanian, rumah tangga, dan industri, dan perubahan dalam proses hidrologi dapat menimbulkan ancaman terhadap kuantitas dan kualitas air, termasuk kelangkaan air dan banjir (Ficklin dkk, 2018).

Ancaman ini dapat menjadi lebih parah di masa depan karena konsumsi air global meningkat tiga kali lipat selama 60 tahun terakhir dari 1.400 km 3 /tahun pada tahun 1950 menjadi 4.200 km 3 /tahun pada tahun 2010 (UNESCO dan UN Water, 2020).

Secara khusus, kebutuhan air global untuk semua keperluan penggunaan air kemungkinan akan meningkat hingga 50% pada tahun 2050 dibandingkan dengan kondisi referensi dengan kemungkinan terjadinya kelangkaan air di beberapa wilayah di dunia (Boretti & Rosa, 2019). Oleh karena itu, pengkajian potensi dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air sangatlah penting, terutama di wilayah yang sistem sosio-ekonomi dan ekologinya sangat rentan terhadap kelangkaan iklim dan air.

Potensi dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air telah dipelajari di banyak wilayah di dunia (seperti, Dahal dkk, 2020) menyelidiki dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air di DAS Karnali di Himalaya Nepal dan mengungkapkan peningkatan aliran sungai di masa depan.(Sentuh dkk, 2020) mengevaluasi dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air di DAS Pursat di Kamboja, dan hasilnya menunjukkan bahwa ketersediaan air akan menurun di masa depan.

Lalu (Touseef dkk, 2021) juga menunjukkan bahwa curah hujan dan aliran sungai mungkin berkurang di masa depan di Daerah Aliran Sungai Hongshui di Tiongkok. Dalam penelitian-penelitian tersebut di atas, temuan-temuan yang ada secara umum menunjukkan bahwa perubahan iklim kemungkinan besar akan sangat mempengaruhi ketersediaan air, dan dampak perubahan iklim mungkin berbeda-beda antar wilayah.

Selain itu ketersediaan air akan dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi sehingga meningkatkan kebutuhan penggunaan air (Beck & Bernauer, 2021). Bersamaan dengan perubahan iklim, meningkatnya kebutuhan air dapat memberikan tekanan besar terhadap ketersediaan air yang mengakibatkan krisis kekurangan air di banyak wilayah (Alcamo dkk, 2007; Kifle Arsiso dkk, 2017).

Forum Air Sedunia Berjuang atas Perubahan Iklim

Dalam gerak sejarah nya, manusia dan peradabannya telah menyesuaikan diri dan mengatasi perubahan iklim dan perubahan ekstrem dengan berbagai tingkat keberhasilan. Perubahan iklim (khususnya kekeringan) setidaknya ikut bertanggung jawab atas naik turunnya peradaban.

Iklim bumi relatif stabil selama 10.000 tahun terakhir, dan stabilitas ini memungkinkan berkembangnya peradaban dan pertanian modern. Kehidupan modern kita menyesuaikan iklim yang stabil dan bukan iklim yang lebih panas di lebih dari seribu tahun mendatang. Ketika iklim kita berubah, kita perlu beradaptasi. Semakin cepat perubahan iklim, maka hal ini akan semakin sulit.

Meskipun perubahan iklim merupakan isu global, perubahan ini dirasakan dalam skala lokal. Oleh karena itu, di Indonesia pemerintah dan pemerintah daerah berada di garis depan adaptasi. Kota-kota dan komunitas lokal di seluruh dunia telah fokus pada penyelesaian permasalahan iklim berdasarkan kondisi lokal ataupun budaya arif dalam perlakuan alam yang dimiliki.

Baca Juga :  Apa Kabar New Normal?

Pemerintahan Indonesia dalam 10 tahun terakhir, telah memperkuat infrastruktur airnya dengan membangun 42 bendungan, 1,18 juta hektar jaringan irigasi, 2.156 km pengendali banjir & pengamanan pantai, serta merehabilitasi 4,3 juta hektar jaringan irigasi. Dan membangun PLTS Terapung  di waduk Cirata sebagai PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.

Menurut laporan tahun 2014 tentang Dampak Perubahan Iklim Adaptasi dan Kerentanan (hal.8) dari panel antar pemerintah tentang Perubahan Iklim PBB, pemerintah di berbagai tingkatan juga semakin baik dalam melakukan adaptasi. Perubahan iklim dimasukkan ke dalam rencana pembangunan untuk bagaimana mengelola bencana-bencana yang semakin ekstrim yang kita lihat, bagaimana melindungi garis pantai dan menghadapi kenaikan permukaan laut, bagaimana mengelola lahan dan hutan dengan baik, bagaimana menangani dan merencanakan kekeringan, bagaimana caranya untuk mengembangkan varietas tanaman baru, dan bagaimana melindungi energi dan infrastruktur publik.

Penyebab utama perubahan iklim adalah efek rumah kaca. Beberapa gas di atmosfer bumi bertindak seperti kaca di rumah kaca, memerangkap panas matahari dan mencegahnya bocor kembali ke luar angkasa dan menyebabkan pemanasan global.

Gas rumah kaca ini terwujud dan ada secara alami didalam atmosfer bumi, namun aktivitas manusia lebih tepatnya pada era industri merkatilisme tahun 1800 telah memberikan peningkatkan atas konsentrasi beberapa gas rumah kaca tersebut di atmosfer, khususnya: karbon dioksida (CO2), metana, dinitrogen oksida, gas berfluorinasi CO 2. Dimana pada tahun 2020, konsentrasinya di atmosfer telah meningkat hingga 48% di atas tingkat pra-industri (sebelum tahun 1750).

Penyebab alami, seperti perubahan radiasi matahari atau aktivitas gunung berapi diperkirakan berkontribusi kurang dari plus atau minus 0,1°C terhadap pemanasan total antara tahun 1890 dan 2010.

Tahun 2011-2020 merupakan dekade terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata global mencapai 1,1°C di atas suhu pra-industri pada tahun 2019. Pemanasan global yang disebabkan oleh manusia saat ini meningkat dengan laju 0,2°C per dekade. Peningkatan sebesar 2°C dibandingkan suhu pada masa pra-industri

Peran air sangat sentral bagi kehidupan umat manusia. Bank Dunia memperkirakan kekurangan air dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi sampai 6 % hingga tahun 2050. Kelangkaan air juga dapat memicu perang serta bisa menjadi sumber bencana. “Too much water” maupun “too little water”, keduanya dapat menjadi masalah bagi dunia.

Forum Air Sedunia ke-10 yang dilaksanakan di Bali Indonesia, sangat strategis untuk merevitalisasi aksi nyata & komitmen bersama dalam mewujudkan Manajemen Sumber Daya Air Terintegrasi. Dimana dalam wadah dunia soal Air ini Indonesia secara konsisten mendorong 3 hal ;

Pertama, meningkatkan prinsip solidaritas & inklusivitas untuk mencapai solusi bersama, terutama bagi negara-negara pulau kecil & yang mengalami kelangkaan air.

Kedua, memberdayakan hydro-diplomacy untuk kerja sama konkret & inovatif, menjauhi persaingan dalam pengelolaan sumber daya air lintas batas.

Ketiga, memperkuat political leadership sebagai kunci sukses berbagai kerja sama menuju ketahanan air berkelanjutan.

Indonesia juga mendorong 4 inisiatif baru didalam Word Water Forum (WWF) yaitu:

1. Penetapan World Lake Day.
2. Pendirian Center of Excellence di Asia Pasifik.
3. Tata kelola air berkelanjutan di negara pulau kecil.
4. Penggalangan proyek-proyek air.

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja mengatakan bahwa Center of Excellence (CoE) menjadi  jawaban dari tantangan iklim yang kita hadapi sekarang di dunia. Indonesia akan menyasar penguatan kerja sama Selatan-Selatan atau South-South Cooperation (SSC). Melalui CoE, negara-negara Selatan yang memiliki masalah terkait banjir, sedimen akibat erupsi yang merusak sungai, dan masalah pengelolaan air lainnya akan saling mengedukasi, bertukar pikiran, serta berbagi pengalaman untuk mencari solusi terbaik yang dapat diimplementasikan secara nyata.

Sebagai wujud kongrit atas partisipasi rakyat dengan budaya lokalnya dalam ikut serta pengembangan atas pengembangan Pusat Keunggulan Ketahanan Air dan Iklim atau Center of Excellence Asia Pasifik, perlu keterlibatan organisasi lokal dalam melakukan pendidikan dan pelatihan serta kerjasama-kerjasama terhadap kajian atas pengembangan, pengaturan dan menjaga air dalam pertarungan melawan perubahan iklim, karena air sepert bagi masyarakat Bali bukan sekadar sumber daya, namun juga bagian dari komponen spiritualitas dan kebudayaan.

Air memainkan peranan penting dalam upacara keagamaan yang kerap diambil dari sumber tertentu untuk digunakan pada kegiatan beribadah. Air mengajarkan kepada kita akan kerendah hatian, sebab air selalu mengalir ke bawah, ke tempat yang lebih rendah.(*)

*Penulis merupakan Ketua Wilayah STN Sumsel, Direktur Kajian Penelitian Bumi Bahari, dan Ketua KOPELPAM

Komentar