16 November 2021 - 01:00 WIB | Dibaca : 1,264 kali

Prediksi Zona Akumulasi Plastik Sirkumpolar Akan Terbentuk di Tahun 2025

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA : Berbagai jurnal di seluruh dunia tidak berhenti menulis perihal sampah, ide pengolahan, dan berbagai dampak yang ditimbulkan bagi manusia dan lingkungan.

Menjadi permasalahan serius, ketika limbah dari apa yang kita gunakan tidak terkelola dengan baik dan jumlah yang dihasilkan terus bertambah setiap tahunnya.

Pandemi mengharuskan orang menggunakan berbagai perlengkapan berbahan-tak mudah hancur. Sampah plastik, seperti masker dan sarung tangan saat ini telah lebih dari 28 ribu ton, dan 9,2 ton diantaranya merupakan limbah yang diproduksi selama pandemi.

Dengan jumlah demikian besar, limbah yang butuh waktu lama untuk bisa terurai ini tak hanya mencemari tanah dan air tanah, tapi juga berenang riang gembira di lautan. Tak hanya mencemari kualitas air laut, namun juga berdampak serius terhadap kelangsungan hidup biota laut, ironis.

Melansir dari CNN Indonesia, ditemukan 193 negara menghasilkan sekitar 9,2 juta ton sampah plastik sejak awal pandemi covid-19 hingga pertengahan Agustus 2021.

Hasil analisis para peneliti menyebut, sebagian besar sampah plastik dihasilkan oleh rumah sakit, sekitar 87,4 persen.

Baca Juga :  BMKG Hentikan Peringatan Tsunami Pasca Gempa M7,5 di Laut Flores NTT

Sementara 7,6 persen dihasilkan oleh individu.

“Sebagian besar plastik berasal dari limbah medis yang dihasilkan oleh rumah sakit yang mengerdilkan kontribusi dari alat pelindung diri dan bahan paket belanja online.” Ungkap peneliti.

Pengemasan dan alat uji masing-masing menyumbang sekitar 4,7 persen dan 0,3 persen dari limbah.

Tim peneliti sampah plastik melaporkan dalam sebuah penelitian baru, yang diterbitkan secara online pada 8 November di jurnal Proceeding of the Nation Academy of Sciences.

Tim mengembangkan model untuk memprediksi berapa banyak sampah plastik ini berakhir di laut setelah dibuang. Mereka memperkirakan bahwa, pada 23 Agustus, sekitar 28.550 ton puing-puing plastik telah mengalir ke lautan, mengalir melewati 368 sungai besar.

Para peneliti meyakini dalam waktu tiga tahun, sebagian besar puing-puing akan bergeser dari permukaan laut ke pantai dan dasar laut. Lebih dari 70 persen terbawa ke pantai pada akhir tahun.

Dalam jangka waktu singkat, sampah sebagian besar akan berdampak pada lingkungan pesisir di dekat sumber aslinya. Sedangkan dalam jangka panjang, tumpukan sampah dapat terbentuk di laut terbuka.

Baca Juga :  Olah Sampah ; Dinas Lingkungan Hidup Akan Bangun Insenerator 20 Mega Watt

Menurut prediksi pemodelan yang dilakukan tim menjelaskan kumpulan sampah dapat terakumulasi di Pasifik timur laut dan samudra Hindia tenggara.

Namun, plastik yang tersapu menuju Arktik akan menemui jalan buntu, dan sebagian besar kemudian akan dengan cepat tenggelam ke dasar laut.

Para peneliti juga memprediksi bahwa apa yang disebut zona akumulasi plastik sirkumpolar akan terbentuk pada tahun 2025.

“Pada akhir abad ini, model tersebut menunjukkan bahwa hampir semua plastik terkait pandemi berakhir di dasar laut (28,8 persen) atau pantai (70,5 persen), berpotensi merusak ekosistem bentik (wilayah terdalam laut),” tulis peneliti seperti dikutip Live Science.

Atas temuan itu para peneliti menyoroti sungai dan aliran yang bermuara ke laut, untuk sebaiknya mendapatkan perhatian khusus dalam pengelolaan sampah plastik.

“Pandemi Covid-19 baru-baru ini telah menyebabkan peningkatan permintaan plastik sekali pakai, meningkatkan masalah yang sudah di luar kendali ini,” tulis penulis penelitian.

Secara khusus, studi ini menyoroti kebutuhan akan sistem yang lebih baik untuk mengumpulkan, mengolah, dan membuang sampah plastik medis di negara berkembang, untuk menjauhkannya dari sungai.

Baca Juga :  Pemerintah Cabut 2.078 Izin Usaha Perusahaan Tambang Minerba

Selain itu peneliti juga meminta untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Hal itu disebut menjadi alternatif berkelanjutan.

Dikutip Guardian, sebelumnya penelitian pada Maret 2021 mengungkap kasus pertama seekor ikan yang terperangkap dalam sarung tangan medis, ditemukan selama pembersihan kanal di Leiden, Belanda.

Sedangkan di Brasil, masker ditemukan di dalam perut penguin Magellan yang mati.

Studi di China menemukan bahwa 46 persen sampah plastik yang salah kelola berasal dari Asia, karena tingginya tingkat pemakaian masker oleh individu, diikuti Eropa, 24 persen, dan Amerika Utara dan Selatan, 22 persen.

Komentar