27 Mei 2022 - 04:28 WIB | Dibaca : 326 kali

Syafii Maarif Wafat di Usia 86 Tahun, Selamat Jalan Buya!

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA: Innalillahi Wa’inailaihi rojiun. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan cendekiawan muslim, Ahmad Syafii Maarif menghembuskan nafas terakhir pada Jumat (27/5/22) pagi di DI Yogyakarta.

Kabar duka tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melalui keterangan tertulis.

Pada keterangan tertulisnya, Haedar mengatakan,  Buya Syafii meninggal di RS PKU Muhammadiyah, Gamping, Sleman.

“Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berduka. Telah wafat Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif pada hari Jumat tgl 27 Mei 2022 pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping,” tulis Haedar, dikutip dari keterangan resminya.

Untuk diketahui, Buya Syafii Maarif sebelumnya dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, pada Sabtu (14/5/2022) karena mengalami sesak napas.

Namun, pihak rumah sakit sempat menyebut kondisi Buya Syafii telah membaik.

“Semoga beliau husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya, dilapangkan di kuburnya, dan ditempatkan di jannatun na’im. Mohon dimaafkan kesalahan beliau dan do’a dari semuanya,” tutur Haedar.

Baca Juga :  Polusi Plastik; Bukan Hanya Makanan, Udara yang Kita Hirup Mengandung Mikroplastik

Buya Syafii mengembuskan napas terakhirnya di usia 86 tahun atau beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya pada 31 Mei.

Buya Syafii semasa hidupnya pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute.

Buya Syafii adalah seorang cendekiawan dan ulama yang lahir pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau.

Orangtuanya adalah Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan Fathiyah. Buya Syafii bungsu dari 4 bersaudara seibu seayah dan seluruhnya 15 orang bersaudara seayah berlainan ibu.

Melansir berbagai sumber, ibu Buya Syafii meninggal saat usianya satu setengah tahun sehingga dia dititipkan ke rumah adik ayahnya yang bernama Bainah yang menikah dengan adik seibu ibunya yang bernama A. Wahid.

Jenjang pendidikannya dimulai pada 1942 saat dimasukkan ke sekolah rakyat (SR) di Sumpur Kudus. Seusai sekolah dia belajar agama ke sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah lalu pada sore hari dan malamnya belajar mengaji di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal. Kegiatan itu memang umum dilakukan anak laki-laki di Minangkabau kala itu.

Baca Juga :  Diprotes Sejumlah Negara, Keran Ekspor Batubara Akhirnya Dibuka Kembali

Kecerdasannya sudah terlihat sejak kecil. Pendidikannya di SR yang umumnya enam tahun bisa dia selesaikan selama lima tahun.

Buya Syafii menyelesaikan pendidikan di SR pada tahun 1947 namun tidak mendapat ijazah karena terjadi perang revolusi kemerdekaan.

Sayang karena beban ekonomi, Buya Syafii tidak dapat meneruskan sekolahnya selama beberapa tahun.

Dia baru bisa kembali bersekolah pada tahun 1950 di Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau. Di sana, dia menempuh pendidikan sampai kelas tiga.

Buya Syafii kemudian mulai merantau ke Jawa pada 1953 atau saat usianya baru 18 tahun. Bersama dua adik sepupunya, yakni Azra’i dan Suward, ia diajak belajar ke Yogyakarta oleh M. Sanusi Latief.

Menempuh jalan berliku, Buya Syafii akhirnya bisa menempuh pendidikan di Madrasah Muallimin.

Setelah lulus dia aktif dalam organiasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar, sebuah majalah pelajar Muallimin di Yogyakarta.

Dalam usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru.

Baca Juga :  Kronologi Gugatan Rp1 Triliun Oleh Nasabah BRI Atas Kasus Salah Transfer

Sesampai di Lombok Timur, ia disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat, lalu menuju sebuah kampung di Pohgading tempat ia ditugaskan sebagai guru.

Setelah setahun lamanya mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah di Pohgading, sekitar bulan Maret 1957, dalam usia 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya, kemudian kembali lagi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Surakarta dan masuk ke Universitas Cokroaminoto dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat sarjana penuh (doktorandus) pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan tamat pada tahun 1968.

Jangan Lewatkan

Komentar