SWARAID, LAMPUNG : Pada pembukaan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Darussaadah, Lampung, Rabu (22/12/21) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siradj ingatkan perihal nasionalisme.
Pada momen muktamar kali ini, Said Aqil berbagi kisah pengalaman sang Ketua Umum dua periode PBNU ini selama belasan tahun menetap di Arab Saudi.
Mengutip dari tayangan akun YouTube Sekretariat Presiden, Said Aqil mengaku selama menetap di Arab Saudi, ia menghayati arti NU untuk Indonesia dan dunia.
Dikatakannya, agama sedari awal tidak menjadi unsur aktif dalam mengisi makna nasionalisme di Arab Saudi.
“Bila Anda membaca sejarah dan naskah konstitusi negara-negara Arab, anda akan segera tahu betapa mahal dan berharga naskah pembukaan UUD 1945 yang kita punyai.” Terangnya.
Said Aqil kemudian membandingkan nasionalisme dan agama di Indonesia dengan negara-negara Arab.
Menurutnya, di negara-negara pejuang nasionalis bukan pejuang agama. Begitu pun sebaliknya, pejuang agama bukan nasionalis.
“Sebagai akibatnya nasionalisme dan agama sering kali bertentangan lalu lahirlah satu demi satu konflik sektarian,”sambung Said Aqil.
Lebih lanjut Said Aqil mengatakan, bahwa pejuang Islam dalam waktu yang sama adalah pejuang nasionalis. Hal tersebut, kata Kiai Said, ditunjukkan oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
“Pejuang Islam dalam waktu yang sama pejuang nasionalis,” katanya.
Ditekankan Said Aqil nasionalisme dan agama adalah dua yang saling menguatkan. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Demikian wasiat Hasyim Asy’ari yang diamini dan disuarakan ribuan ulama pesantren.
“Dan dengan demikian, kita mengerti bahwa ujian atas sikap tawassuth, ujian moderasi NU sejak awal mula pendiriannya. Mereka yang tidak paham sikap tegas NU atas HTI maupun FPI barangkali memang belum mengerti betapa berat amanah memoderasi kutub-kutub ekstrem di negeri ini. Bagi NU dan pesantren, menjaga NKRI adalah amanah karena hanya dengan bersetia kepada konstitusi, tatanan bersama dapat terselenggara.” Tukas Alumnus Universitas Ummul Quradi Mekkah ini.
Dalam Muktamar ke-34 ini akan memutuskan ketua umum organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Selain Kiai Said, kandidat kuat lainnya adalah Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.















Komentar