oleh

Peringati Sumpah Pemuda Ke-92, Longmarch dan Panggung Perjuangan Rakyat

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :260 kali | Durasi baca : 2 Menit

SWARAID – PALEMBANG, (29/10/20) : Dalam peringatan ke-92 tahun hari sumpah pemuda. Mahasiswa dari berbagai kampus di Palembang yang tergabung dalam Panggung Perjuangan Rakyat. Sama halnya dengan sumpah pemuda tepat hari ini 92 Tahun yang lalu para pemuda dari berbagai penjuru nusantara tepatnya pada 28 Oktober 1928 Berkumpul dan menyatukan tekad untuk satu Bangsa, Satu Bahasa dan Satu Tanah Air yang terbebas dari belenggu Kolonialisme. Semangat ini pula yang tergambar dari pemuda menyatukan tekad menyuarakan aspirasi rakyat dalam menolak Omnibuslaw UU cipta kerja. Namun belum ada itikad baik dari legislatif untuk menanggapi gejolak penolakan dari setiap daerah.

Masa aksi yang tergabung dalam Panggung Perjuangan Rakyat Sumatera Selatan yang terdiri dari berbagai elemen gerakan di Sumatera Selatan diantaranya KMHDI, PMII, AMPERA Memanggil, Dema UIN, PBM, Forsuma, SEMMI dan LMND. Melakukan longmarch dari kampus UIN Raden Fatah Palembang menuju bundaran air mancur Masjid Agung. Masa aksi yang baru bergerak jam 14.30 WIB selama satu jam perjalanan yang memakan waktu satu jam hingga ke titik kumpul, selama dalam perjalanan juga mahasiswa melakukan orasi dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di sepanjang Jalan Sudirman.

Baca Juga :  HJ Tersangka "Gantung Anak Kandung" Diperiksa Kejiwaannya

Rudianto Widodo Koordinator Lapangan Panggung Perjuangan menjelaskan secara rinci jalannya massa aksi demonstrasi Panggung Perjuangan Rakyat.

“Kami aliansi panggung perjuang rakyat tampil ke permukaan, turun ke jalan untuk mengambil peran sebagai parlemen jalanan. Karena ini suatu momentum kita bersama sebagai semangat juang dalam menyampaikan aspirasi rakyat yang tertindas. Kegiatan ini kami buat semacam parade rakyat, yang diawali dengan pawai (Longmarch) dari titik kumpul depan gerbang UIN Raden Fatah Palembang sampai ke titik aksi di Bundaran Air Mancur Masjid Agung Palembang. Kita gelar panggung rakyat sederhana, lalu menampilkan berbagai orasi, puisi kebangsaan, dan akustik band.” Jelasnya kepada SWARAID.

Tetap dengan satu tujuan sama dengan gelombang aksi-aksi demonstrasi penolakan Omnibuslaw UU Cipta Kerja pada sebelumnya di kota Palembang, Panggung Perjuangan Rakyat juga menyuarakan penolakan yang diantaranya;

1. Batalkan UU Omnibuslaw

2. Menyatakan Mosi Tidak Percaya kepada Pemerintah dan DPR

3. Mendukung Aksi Mogok Nasional

4. Wujudkan Pendidikan Gratis, Ilmiah dan Demokratis

5. Bebaskan semua massa aksi yang di tangkap tanpa terkecuali dan hentikan semua represifitas yang dilakukan oleh aparat.

Baca Juga :  Restorasi Sungai Sekanak Lambidaro ; Pemkot Bangkitkan Venetie Van Oost

I Wayan Sugita Koorditaor Lapangan menerangkan bahwa DPR RI dalam mengambil kebijakan menurutnya begitu neoliberal dengan menempatkan pendidikan pada pasal 65 UU Cipta Kerja. Pasal 65 yang memuat 2 ayat yang pada ayat pertama disebutkan bahwa “Pelaksanaan perizinan berusaha pada sektor pendidikan dapat dilakukan melalui perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam UU ini”, dan pada ayat kedua menyebutkan “Ketentuan lebih lanjut pelaksanaan perizinan pada sektor pendidikan diatur dengan peraturan pemerintah”. Menurut I Wayan Sugita yang juga ketua PC KMHDI Palembang sangat riskan dan penuh resiko bagi dunia pendidikan Indonesia apabila dilaksanakan.

“UU Omnibus Law merupakan karpet merah yang diberikan Pemerintah kepada investor asing untuk mengeruk SDA kita. Seharusnya ada langkah yang lain selain mendatangkan investor asing yaitu berdikari dengan apa yang yg kita miliki dengan mengembangkannya agar maju sesuai dengn cita-cita luhur bangsa.” Ujar Wayan kepada SWARAID pada Panggung Perjuangan (28/10/20).

Komentar

Berita Lainya