23 Oktober 2022 - 03:41 WIB | Dibaca : 759 kali

Pakar Menduga Pencemaran Etilen Glikol Pada Obat Sirup Terjadi di Pabrik

Laporan : Riski
Editor : Noviani Dwi Putri

Ini yang masih dievaluasi, apakah ada kelemahan quality control di tempat sarana produksi atau hal lain

SWARAID, JAKARTA: Penyakit gangguan ginjal akut diduga dipicu oleh senyawa etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DG) dalam pelarut obat.

Muncul dugaan dari Dewan Pakar Ikatan Apoteker Indonesia Prof. Keri Lestari, pencemaran zat pada obat sirup terjadi saat proses mengontrol kualitas (quality control) bahan baku di pabrik. Adapun standar yang ditetapkan adalah 0,1% pada gliserin dan 0,25% pada polietilen glikol.

“Berarti lolos dan kemudian di pabrik diverifikasi lagi,” kata Keri dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (22/10/22).

Ketika pabrik mengajukan izin edar, maka Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan memastikan kualitas dan bahan baku pembuatan obat tak tercampur EG dan DEG.

Walau demikian, Keri belum bisa menyimpulkan apakah ada kecurangan pada penyediaan bahan baku karena BPOM masih melakukan pemeriksaan.

Akan tetapi ia mengatakan kecil kemungkinan adanya kerusakan pada obat ini, karena rusaknya obat terjadi baru terjadi jika disimpan pada suhu tinggi sekali dan rendah sekali.

“Ini yang masih dievaluasi, apakah ada kelemahan quality control di tempat sarana produksi atau hal lain,” kata Keri yang juga ahli farmasi dari Universitas Padjadjaran ini.

Baca Juga :  Semua Apotek di Indonesia Diminta Hentikan Penjualan Obat Berbentuk Sirup

Sebelumnya epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menduga ada permasalahan dalam pengawasan obat sehingga muncul cemaran EG dan DEG pada obat sirup.

Masalah ini terjadi karena produksi obat sirup yang terus meningkat karena dampak pandemi Covid-19.

“Di sini sering terjadi pengabaian, apalagi pemantauan di Indonesia lemah,” kata Dicky, Jumat (21/10/22).

Sementara Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan etilen glikol maupun dietilen glikol bukan merupakan bahan baku.

Akan tetapi senyawa ini dapat muncul apabila pembuatan polietilen glikol dilakukan secara tidak baik. Adapun, Presiden Joko Widodo memerintahkan agar ada pengetatan pengawasan obat terkait munculnya kasus gangguan ginjal akut. Penyakit ini telah menyerang 241 orang, sebanyak 133 meninggal.

Komentar