6 Februari 2022 - 02:25 WIB | Dibaca : 1,353 kali

Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Gangguan Kesehatan Mental

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA: Gangguan kesehatan mental pada seseorang dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku orang tersebut.

Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan anak, atau stres berat jangka panjang.

Jika kesehatan mental terganggu, maka akan timbul gangguan mental atau penyakit mental. Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, dan lebih parah dapat memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri.

Gejala Kesehatan Mental

Merangkum berbagai sumber, gangguan mental atau penyakit mental dapat diawali dengan beberapa gejala berikut ini, antara lain:

  • Berteriak atau berkelahi dengan keluarga dan teman-teman
  • Delusi, paranoia, atau halusinasi
  • Kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasiKetakutan, kekhawatiran, atau perasaan bersalah yang selalu menghantui
  • Ketidakmampuan untuk mengatasi stres atau masalah sehari-hari
  • Marah berlebihan dan rentan melakukan kekerasan
  • Memiliki pengalaman dan kenangan buruk yang tidak dapat dilupakan.Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain
  • Menarik diri dari orang-orang dan kegiatan sehari-hari
  • Mendengar suara atau mempercayai sesuatu yang tidak benar
  • Mengalami nyeri yang tidak dapat dijelaskan
  • Mengalami perubahan suasana hati drastis yang menyebabkan masalah dalam hubungan dengan orang lain
  • Merasa bingung, pelupa, marah, tersinggung, cemas, kesal, khawatir, dan takut yang tidak biasa.Merasa sedih, tidak berarti, tidak berdaya, putus asa, atau tanpa harapan
  • Merokok, minum alkohol lebih dari biasanya, atau bahkan menggunakan narkoba
  • Perubahan drastis dalam kebiasaan makan, seperti makan terlalu banyak atau terlalu sedikit
  • Perubahan gairah seks.Rasa lelah yang signifikan, energi menurun, atau mengalami masalah tidur
  • Tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti merawat anak atau pergi ke sekolah atau tempat kerja
  • Tidak mampu memahami situasi dan orang-orang
Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

Beberapa penyebab umum dari gangguan mental, antara lain:

  • Cedera kepala
  • Faktor genetik atau terdapat riwayat pengidap gangguan mental dalam keluarga
  • Kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan lainnya
  • Kekerasan pada anak atau riwayat kekerasan pada masa kanak-kanak
  • Memiliki kelainan senyawa kimia otak atau gangguan pada otak
  • Mengalami diskriminasi dan stigma
  • Mengalami kehilangan atau kematian seseorang yang sangat dekat
  • Mengalami kerugian sosial, seperti masalah kemiskinan atau utang
  • Merawat anggota keluarga atau teman yang sakit kronis
  • Pengangguran, kehilangan pekerjaan, atau tunawisma
  • Pengaruh zat racun, alkohol, atau obat-obatan yang dapat merusak otak
  • Stres berat yang dialami dalam waktu yang lama
  • Terisolasi secara sosial atau merasa kesepian
  • Tinggal di lingkungan perumahan yang buruk
  • Trauma signifikan, seperti pertempuran militer, kecelakaan serius, atau kejahatan dan yang pernah dialami.
Baca Juga :  Self Love ; Tetap Bahagia, Produktif, dan Percaya Diri
Kesehatan mental bagi ibu pekerja

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen-PPPA) melalui Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Rohika Kurniadi menilai saat ini kesehatan mental menjadi hal krusial. Terlebih, Pandemi Covid-19 yang sudah 2 tahun menghantam dunia, termasuk Indonesia.

“Apalagi bagi ibu yang bekerja. Kesehatan mentalnya lebih rentan,” kata Rohika, mengutip Merdeka.com.

Sementara itu, Psikolog IdePlus, Erika Kamaria Yamin menuturkan kesehatan mental terutama bagi ibu dalam menjalankan peran pengasuhan sangatlah penting.

“Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap ibu itu sendiri serta kepuasan hidup ibu secara keseluruhan yang akan berdampak si ibu akan lebih bijak dalam mengambil keputusan,” kata Erika.

Dalam sebuah studi yang dilansir Morbidity and Mortality Weekly sepanjang tahun 2020, gejala depresi dan peningkatan kecemasan yang mendera masyarakat di Amerika Serikat meningkat empat kali lipat dibandingkan tahun 2019.

Riset yang dilakukan CDC Amerika Serikat tersebut menyebutkan, mayoritas masyarakat dalam kategori umur produktif hingga 44 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Hal tersebut disebabkan oleh campur aduknya urusan pribadi dan kantor di satu tempat dan waktu.

Di Indonesia, masyarakat sebenarnya menyadari gejala gangguan kesehatan mental yang mendera mereka. Provinsi Jawa Barat misalnya mengumumkan bahwa kunjungan pasien yang cemas terhadap kesehatan jiwanya di Rumah Sakit Jiwa Cisarua meningkat 14 persen per Agustus 2020.

Baca Juga :  Asbes Karsinogenik Terkandung Dalam Bedak Bayi Johnson, Apa Bahayanya?

“Kondisi pandemi Covid-19 berdampak pada tekanan psikologis yang berat di berbagai sektor. Banyak masyarakat yang cemas dan khawatir dengan kondisi pandemi Covid-19,” ujar Direktur RSJ Provinsi Jabar dr. Elly Marliyani, Kamis (3/2).

Namun demikian, jumlah tersebut diyakini masih jauh dari angka riil di lapangan. Karena, sebagian besar masyarakat masih enggan berkunjung ke rumah sakit maupun fasilitas konseling psikologis lain di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Pengobatan Kesehatan Mental

Beberapa pilihan pengobatan yang akan dilakukan dokter dalam menangani gangguan mental, antara lain:

Psikoterapi

Psikoterapi merupakan terapi bicara yang memberikan media yang aman untuk pengidap dalam mengungkapkan perasaan dan meminta saran.

Psikiater akan memberikan bantuan dengan membimbing pengidap dalam mengontrol perasaan. Psikoterapi beserta perawatan dengan menggunakan obat-obatan merupakan cara yang paling efektif untuk mengobati penyakit mental.

Beberapa contoh psikoterapi, antara lain cognitive behavioral therapy, exposure therapy, dialectical behavior therapy, dan sebagainya.

Obat-obatan

Pemberian obat-obatan untuk mengobati penyakit mental umumnya bertujuan untuk mengubah senyawa kimia otak di otak.

Obat-obatan tersebut berupa golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor (SNRIs), dan antidepresan trisiklik.

Obat-obatan ini umumnya dikombinasikan dengan psikoterapi untuk hasil pengobatan yang lebih efektif.

Rawat inap

Rawat inap diperlukan jika pengidap membutuhkan pemantauan ketat terhadap gejala-gejala penyakit yang dialaminya atau terdapat kegawatdaruratan di bidang psikiatri, misalnya percobaan bunuh diri.

Support group

Support group umumnya beranggotakan pengidap penyakit mental yang sejenis atau yang sudah dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Mereka berkumpul untuk berbagi pengalaman dan membimbing satu sama lain menuju pemulihan.

Stimulasi otak

Stimulasi otak berupa terapi elektrokonvulsif, stimulasi magnetik transkranial, pengobatan eksperimental yang disebut stimulasi otak dalam, dan stimulasi saraf vagus.

Pengobatan terhadap penyalahgunaan zat

Pengobatan ini dilakukan pada pengidap penyakit mental yang disebabkan oleh ketergantungan akibat penyalahgunaan zat terlarang.

Baca Juga :  Kadisdik Kota Palembang : Lebih Baik Tatap Muka, Daripada Siswa Berkeliaran!
Membuat rencana bagi diri sendiri

Misalnya mengatur gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari, untuk melawan penyakit mental. Rencana ini bertujuan untuk memantau kesehatan, membantu proses pemulihan, dan mengenali pemicu atau tanda-tanda peringatan penyakit.

Teleterapi

Dengan berbagai keterbatasan di masa pandemi ini, masyarakat kini mulai melirik layanan konsultasi kesehatan, termasuk kesehatan mental, yang dilakukan secara daring atau disebut teleterapi.

Adanya fasilitas ini tentu memudahkan masyarakat yang membutuhkan layanan-layanan tersebut tanpa harus bepergian ke luar rumah.

Layanan konseling psikologi daring Riliv menyatakan setiap bulan terdapat 18.000 pengguna yang menggunakan aplikasinya untuk kebutuhan konsultasi.

Angka tersebut dinilai meningkat cukup pesat serta didominasi oleh pasien yang datang dengan berbagai keluhan, khususnya terkait kelelahan bekerja di masa pandemi.

Hal ini menunjukan bahwa melakukan layanan teleterapi merupakan salah satu alternatif layanan yang dibutuhkan semasa pandemi.

Terlebih, adanya kemudahan akses untuk berkonsultasi secara daring memudahkan pasien untuk berkomunikasi dengan tenaga ahli, dimanapun mereka berada.

“Efektivitas waktu yang dihabiskan oleh pelaku teleterapi sudah seharusnya dimaksimalkan sebaik mungkin. Oleh karena itu agar sesi dapat berjalan dengan maksimal layaknya sesi tatap muka, dibutuhkan adanya perangkat yang dapat mengakomodir kualitas suara serta gambar yang sama baiknya,” kata Business Development Manager, Video, Jabra Indonesia Louis Sudarso.

Menurut Louis, adanya dukungan perangkat yang menunjang hasil suara maupun kualitas gambar yang dihasilkan oleh kamera video berpengaruh sangat besar pada keberhasilan aktivitas konsultasi secara daring.

“Kita mengetahui bahwa psikolog maupun pasien harus melakukan komunikasi yang baik, agar setiap keluhan yang dialami oleh pasien dapat dimengerti secara penuh. Selain itu, kualitas citra gambar juga diupayakan sebaik mungkin agar psikolog mampu melihat dan menganalisa gerak tubuh serta mimik wajah pasien,” tambahnya.

Sehingga, dengan kelancaran proses konseling, psikolog maupun psikiater bisa mendapatkan sampel diagnosis yang lengkap dan terperinci.

Komentar