27 November 2021 - 02:35 WIB | Dibaca : 1,206 kali

Jauh di Mata Dekat di Hati, Etnis Jawa di Suriname : Indonesia “Saudara Tua”

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA : Suriname, salah satu negara di Amerika Selatan sebelumnya dikenal sebagai Guyana Belanda, beribukota Paramaribo, merupakan koloni perkebunan Belanda yang memperoleh kemerdekaannya pada tanggal 25 November 47 tahun yang lalu.

Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui ada komunitas besar keturunan Indonesia yang tinggal di negara kecil ini.

Suriname merupakan negara yang memiliki beragam ertnis, salah satu enis yang besar adalah etnis Jawa.

Menariknya, meski telah tinggal di sana selama beberapa generasi, sebagian besar dari mereka masih mengaku sebagai orang Jawa.

Bahkan unsur-unsur budaya Jawa, seperti bahasa, nama, dan masakan, telah mempengaruhi budaya bangsa kawasan Karibia ini. Walau hanya sebagian kecil dari mereka yang pernah mengunjungi pulau Jawa.

Berdasarkan data Worldometers, total penduduk Suriname per 16 September 2020 mencapai 587.727 jiwa. Lebih dari 70 ribu penduduknya merupakan orang Jawa.

Menurut Hein Vruggink dalam Surinaams-Javaans-Nederlands Woordenboek (2021), sekitar 70% orang Jawa di Suriname berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan 10% dari Jawa Barat.

Sejarah Masuknya Orang Jawa ke Suriname      

Baca Juga :  Masa Paceklik; Petani di Sumber Marga Telang kencangkan Ikat pinggang

Suku Jawa sudah ada di Suriname sejak akhir abad ke-19. Awalnya dibawa oleh kolonis Belanda dari Indonesia (Hindia Belanda) untuk dijadikan tenaga kerja alternatif.

Upaya untuk mengimpor orang dari Jawa menjadi sia-sia karena pemerintah Belanda tidak mengizinkan migrasi orang Jawa ketika ada kemungkinan untuk mendapatkan tenaga kerja dari India.

Namun di tahun 1880-an terjadi perubahan iklim politik di India, gerakan perekrutan orang Jawa pun menguat kembali. Kendati ada keraguan dari pemerintah Belanda.

Pemerintah Belanda kala itu meragukan kesediaan orang Jawa untuk bermigrasi ke Suriname yang begitu jauh.

Akhirnya, setelah melalui lobi dari perkebunan dan pejabat Suriname yang berat, pemerintah mengizinkan percobaan tahap pertama. Sejumlah seratus migran kontrak Jawa dibawa ke Suriname pada tahun 1890.

Pada periode 1890-1939, hampir 33.000 orang Jawa bermigrasi ke Suriname. Jawa Tengah dan daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya dan Semarang merupakan daerah rekrutmen utama.

Hanya 20-25% migrant Jawa yang kembali ke negara asalnya sebelum Perang Dunia II, sebagian besar imigran menetap secara permanen di Suriname.

Baca Juga :  Realisasi Investasi Sektor EBTKE 2021 Hanya Mencapai 74 Persen dari Target

Tradisi budaya Jawa terbukti kuat, meski perubahan dan adaptasi di Suriname, misalnya dalam bahasa, tak terelakkan. Namun generasi kedua dan selanjutnya masih mengidentifikasi dengan negara asal mereka.

Pemerintah Suriname juga aktif mempromosikan keberlangsungan budaya Jawa pada masa sebelum Perang Dunia II.

Pada 1930-an, gubernur memprakarsai proyek ‘Indianisasi’ untuk mengisi koloni dengan petani kecil Jawa, yang akan menetap di desa-desa bergaya Jawa (desa) lengkap dengan kepemimpinan agama dan sipil mereka sendiri. Program ini terputus oleh perang.

Secara politis, pentingnya kelompok penduduk Jawa tidak terbantahkan. Orang Jawa sering memegang keseimbangan antara kelompok Afro-Suriname dan Hindustan yang lebih besar dan lebih kuat (bekas orang Indian Inggris).

Secara demografis, orang Jawa telah lama menjadi kelompok populasi terbesar ketiga di Suriname. Tetapi etnis Maroon yang merupakan keturunan budak yang melarikan diri, secara tipis melampaui mereka dalam sensus terakhir Suriname pada tahun 2004.

Sebagian keturunan mereka ada yang tinggal di Belanda. Sampai sekarang keturunan Jawa di sana mereka tetap menuturkan bahasa Jawa.

Baca Juga :  Seragam Baru Satpam Akan Dikenalkan Pada HUT ke 41 Akhir Januari

Indonesia “Saudara Tua” Bangsa Suriname

Indonesia dan Suriname telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1976, bahkan Indonesia telah disebut-sebut sebagai ‘Saudara Tua’ bangsa Suriname.

Dengan adanya penempatan Kantor perwakilan pemerintah Indonesia di negara Suriname telah menyatukan hubungan tali persaudaraan kedua negara.

Indonesia yang dianggap ‘saudara tua’ Suriname, dikarenakan adanya masyarakat Jawa menjadikan penduduk asli Suriname memberikan jalan keluar tersendiri bagi Suriname dalam hal penerimaan bantuan, hingga memenuhi segala bentuk jenis kerjasama, termasuk dalam pembangunan negara tersebut.

Meski dipisahkan jarak yang begitu jauh, bagi etnis Jawa di Suriname, Indonesia atau Pulau Jawa adalah kampung halaman yang selalu dirindukan.

“Bagi warga Suriname keturunan Jawa, bisa pergi ke Indonesia itu seperti impian dan nyaris mirip dengan ziarah,” kata Bibid Kuslandinu, Pelaksana Fungsi Sosbud KBRI Paramaribo dikutip dari Kompas.

“Bahkan bagi yang muslim, pergi ke Indonesia adalah mimpi besar kedua setelah ibadah haji.” Sambung Bibid.

 

 

 

 

Komentar