16 November 2021 - 10:37 WIB | Dibaca : 2,664 kali

Jalan Panjang Alat Tukar; Sistem Barter Hingga Konsep Uang Era Modern

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA : Keberadaan uang dalam peradaban manusia memberikan alternatif transaksi yang lebih mudah dan praktis.

Dalam ilmu ekonomi tradisional, uang diartikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.

Dalam ilmu ekonomi modern, uang diartikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang dan jasa, serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.

Uang memiliki peran yang begitu besar di hampir semua aspek kehidupan, terutama pada peradaban modern.

Dalam masyarakat modern, uang dijadikan indikator status sosial, kekuasaan, dan simbol kekayaan seseorang. Sehingga manusia berlomba-lomba mencari uang sebanyak-banyaknya dan berusaha mencapai kebebasan finansial dalam hidupnya.

Periode berburu dan meramu (hunting and gathering)

Sebelum manusia menemukan sistem barter, manusia berupaya memenuhi kebutuhan  dasarnya dengan cara berburu (hunting) dan mengumpulkan hasil alam atau biasa disebut meramu (gathering) secara berkelompok.

Hasil buruan dan pengumpulan hasil alam akan dijadikan bahan makanan, pakaian, obat-obatan, senjata, bahan membuat rumah, dan sebagainya.

Selama puluhan ribu tahun, mereka menjalani kehidupan seperti ini. Hingga akhirnya secara perlahan otak manusia mengalami perkembangan yang membuat manusia berbeda dengan binatang lain. Proses ini dinamakan revolusi  kognisi.

Lantas, apa yang membedakan manusia dengan binatang lain?

Yuval Harari, seorang profesor sejarah berpendapat, bahwa yang membedakan manusia dengan binatang lain adalah kemampuan manusia untuk berimajinasi.

Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang bias berimajinasi dan berkomunikasi tentang suatu gagasan abstrak di luar realita konkrit.

Manusia memiliki kemampuan untuk berkomunikasi berdasarkan imajinasi. Kemampuan manusia untuk berpikir abstrak meningkatkan kemampuan interaksi antar individu secara kompleks.

Berbeda dengan binatang, binatang mampu berkomunikasi, tapi hanya sebatas menyampaikan informasi yang bersifat konkrit.

Manusia memiliki kemampuan untuk menyampaikan gagasan, konsep hirarki kkuasaan, ideologi politik, budaya, konsep negara, hingga konsep uang.

Seiring dengan perkembangan cara berpikir manusia, pada akhirnya manusia di masa itu mulai merumuskan sistem pertukaran nilai . Sistem pertukaran nilai ekonomi pertama pada peradaban manusia adalah sistem barter, yaitu sistem tukar-menukar barang.

Sistem Barter

Sistem barter atau tukar menukar barang merupakan konsep pertukaran nilai pertama yang berhasil diciptakan manusia.

Sistem barter telah diterapkan selama ribuan tahun (70.000-12.000) tahun lalu sampai periode bercocok tanam (revolusi agrikultur) 12.00-5.000 tahun lalu.

Sistem barter ini dipilih sebagai metode pertukaran nilai karena dinilai praktis di masanya. Tentu saja penciptaan gagasan ini hanya bersifat intuitif.

Namun jika ditelisik lebih jauh, sistem barter memiliki banyak sekali kelemahan. Tentu jika kelompok manusia yang memiliki hasil buruan dia akan menukarkan hasil yang mereka peroleh dengan barang lain yang mereka butuhkan.

Persoalnnya, ia akan mengalami kesulitan untuk menemukan orang lain yang meiliki sesuatu yang ia butuhkan dan juga membutuhkan hasil buruan yang ia punya untuk kemudian ditukar.

Selain itu, kualitas barang yang akan ditukar juga menjadi persoalan. Seringkali mereka merasa dirugikan oleh sistem kuno ini. Belum lagi dalam penentuan takaran yang pantas untuk ditukar.

Beberapa kelompok masyarakat mencoba untuk menemukan solusi. Mereka mulai menemukan ide untuk membuat pasar. Aktivitas barter dipusatkan di satu tempat.

Namun tak cukup meredam ketimpangan barter-rate antar kelompok yang terpisah.

Kelompok masyarakat lainnya juga membuat gagasan yang mengusung kesetaraan dan keadilan ekonomi.

Pengolahan sumber daya terpusat

Pada prinsipnya, sistem pengolahan terpusat adalah masyarakat dibiarkan berproduksi dengan kemampuan masing-masing  dan negara yang akan menampung hasilnya. Kemudian, negara akan mengelola dan mendistribusikan kembali kepada masyarakat secara adil dan merata.

Gagasan yang mengusung kesetaraan dan keadilan ekonomi ini, diharap bisa menjadi solusi dari sistem sebelumnya.

Baca Juga :  Pemilihan Ketua PP Muhammadiyah di Muktamar Kali Ini Akan Pakai e-Voting

Tapi, pengolahan sumber daya yang terpusat ini tidak mampu bertahan lama.

Karena dengan sistem ini, kualitas produk kian menurun, tidak ada daya saing, dan proses pengerjaan tidak maksimal.

Awal mula muncul konsep uang              

Pada akhirnya muncul gagasan untuk menjadikan salah satu komoditi sebagai alat tukar yang berlaku secara umum (universal) atau minimal pada suatu cakupan geografis tertentu.

Gagasan ini kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya konsep uang.

Uang dalam bentuk barang komoditi       

Pada awal mulanya, manusia menjadikan satu komoditas yang dianggap memiliki nilai manfaat yang berlaku bagi semua orang, contohnya seperti garam, gandum, kulit binatang, jagung, dan lain-lain, tergantung sejauh mana komoditas itu berlaku secara umum di daerah geografis tersebut.

Bentuk uang pertama dalam sejarah adalah jelai (sejenis padi) yang digunakan oleh bangsa Sumeria 3.000 tahun sebelum masehi.

Bangsa Sumeria sekitar 5.000 tahun yang lalu, sudah mampu menciptakan gagasan yang disepakati secara umum bahwa jelai adalah komoditas yang dijadikan alat tukar universal (dalam skala Kerajaan Sumeria).

Setiap orang di Sumeria 5 ribu tahun yang lalu, dapat menukar kebutuhan barang maupun jasa dengan menggunakan jelai. Kenapa jelai? karena jelai dianggap sebagai sumber makanan pokok utama, yang memiliki nilai intrinsik yang paling universal – yaitu : semua orang di Sumeria menggunakan jelai sebagai bahan makanan pokoknya.

Jadi anggapannya, tidak akan ada orang Sumeria yang merasa rugi untuk menukar barang/jasanya dengan jelai.

Beberapa contoh lain penggunakan barang komoditi sebagai uang adalah garam yang digunakan oleh Bangsa Romawi Kuno pada awal peradabannya.

Biji cokelat sebagai alat tukar pada peradaban Aztec. Kemudian kulit kerang sebagai alat tukar pada berbagai tempat di Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara pada 1.700 – 900 tahun sebelum Masehi.

Bahkan di jaman modern sekarang ini, British Uganda (Uganda ketika masih dijajah Inggris), masih menggunakan kulit kerang untuk membayar pajak ke Negara Inggris pada awal abad 20.

Dengan demikian, uang itu bukanlah selalu hadir dalam bentuk kertas bergambar, emas, perak, batu mulia, atau cek dari bank seperti yang kita kenal sekarang.

Uang itu bisa jadi segala bentuk komoditas atau benda apapun yang dijadikan standar nilai tukar dengan bentuk perbandingan yang relatif stabil pada nilai barang lain dan berlaku universal bagi masyarakat pelaku ekonomi seluas-luasnya.

Proses panjang menemukan bentuk uang yang ideal

Menjadikan satu komoditas sebagai alat tukar memang gagasan brilian yang menyelesaikan masalah pada sistem barter.

Tapi kemudian muncul masalah baru dalam konsep uang komoditas ini. Fungsi dari uang kini tidak hanya untuk alat mengkonversi satu nilai ke nilai lainnya, tapi juga bisa digunakan untuk menimbun kekayaan / ditabung.

Artinya, uang harus bersifat durable atau tidak mudah busuk/kadaluarsa. Masalahnya, uang dalam bentuk komoditas seperti gandum, garam, biji cokelat, dll tidak mampu bertahan selamanya karena akan mengalami pembusukan.

Kelemahan uang komoditas adalah sulitnya untuk dibawa kemana-mana. Untuk itu, diperlukan bentuk uang yang lebih ideal untuk bisa menjaga fungsi uang sebagai alat penimbun kekayaan.

Transisi dari bentuk uang komoditas menjadi bentuk lain tidaklah mudah. Diperlukan proses pembentukan gagasan abstrak yang radikal untuk bisa membuat sekelompok masyarakat mempercayai bentuk uang yang tidak memiliki nilai intrinsik, tapi karakter materialnya bisa tahan lama dan mudah untuk disimpan maupun dibawa kemana-mana.

Bentuk uang pertama tidak memiliki nilai intrinsik ini pertama hadir di peradaban Mesopotamia kuno sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi, yaitu silver shekel atau syikal perak.

Syikal perak ini bukan koin, tapi onggokan perak seberat 8,33 gram.

Inilah pertama kalinya dalam sejarah, sebuah peradaban mempercayakan bentuk uang sebagai nilai tukar, pada benda yang tidak memiliki manfaat intrinsik apapun.

Baca Juga :  Negara G20 Sepakat Bikin Paspor Kesehatan Digital

Dalam arti, perak tidak bisa dikonsumsi, maupun dijadikan senjata karena terlalu lembek, perak juga tidak bisa dijadikan bahan baku untuk peralatan apapun.

Indikator berat (8.33 gram) pada metal berharga inilah yang nantinya melahirkan bentuk koin.

Karena dengan cetakan bentuk koin, berat dari perak itu jadi memiliki standarisasi tersendiri dan tidak perlu harus selalu menimbang setiap perak kalo mau transaksi.

Bentuk koin pertama dalam sejarah diterapkan oleh peradaban Lydia (sekarang dikenal sebagai daerah Turki) oleh Raja Alyttes pada 640 tahun SM.

Konsep uang dalam bentuk koin ini memberikan 2 informasi tambahan yang tidak terdapat dalam bentuk koin lain sebelumnya, yaitu:

Pertama adalah keterangan jumlah pada koin yang membuatnya semakin praktis untuk disimpan, dibawa, maupun dibandingkan dengan nilai barang tertentu.

Kedua adalah unsur kepercayaan masyarakat akan suatu otoritas (raja atau kerajaan) yang melindungi keberhargaan koin tersebut. Semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap sosok otoritas tersebut, maka akan semakin universal nilai uang tersebut diakui di berbagai tempat lain.

Metal berharga yang digunakan untuk membentuk koin ini biasanya berupa perak atau emas.

Karena emas dan perak cenderung tahan terhadap korosi atau oksidasi di udara yang lembap, tidak terlalu keras sehingga mudah dicetak, dan juga langka/sulit didapat sehingga hanya otoritas tertentu saja yang bisa memproduksi koin emas/perak.

Bentuk koin emas dan perak ini berhasil mendapatkan kepercayaan yang sangat besar selama ribuan tahun, dari jaman peradaban Lydia, Persia, Yunani, Romawi, hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia sampai India, Tiongkok, dan terakhir adalah Amerika.

Dari jaman Romawi Kuno,  tingkat kepercayaan masyarakat di pesisir Laut Mediterania sangat tinggi terhadap otoritas dan kedigdayaan Kerajaan Roma.

Bayangkan, kekuasaan Roma pada awal abad masehi itu mencakup seluruh pesisir Laut Mediterania, Eropa Selatan, timur tengah, Afrika Utara, dan sebagian Eropa Timur.

Oleh karena itu, koin denarii (istilah koin Romawi) memiliki tingkat kepercayaan universal yang sangat kuat. Sampai-sampai masyarakat yang berada di luar jazirah kekuasaan Kerajaan Roma sekalipun (misalnya India) tetap menerima transaksi dengan koin denarii.

Saking terkenalnya koin Roma ini, nama denarii menjadi terminologi umum dari “uang koin”, hingga akhirnya peradabaan Islam khalifah Arab mengadopsi namanya menjadi ‘dinar‘ yang sampai sekarang tetap menjadi mata uang Yordania, Irak, Serbia, Macedonia, Tunisia, dan beberapa negara lain.

Karena perputaran ekonomi di wilayah Roma ini sangat kuat, tentu barang produksi di wilayah Roma juga dikonsumsi di wilayah peradaban lain.

Sebaliknya, barang produksi di wilayah lain seperti India, Arab, dan Tiongkok juga laku keras di Kerajaan Roma karena daya beli masyarakat Roma terbilang tinggi.

Di sinilah, peran saudagar/pedagang yang merantau ke wilayah memiliki peran penting pada universalitas uang dalam bentuk koin emas/perak di jaman klasik.

Bayangkan ketika saudagar di India yang merantau ke wilayah Mediterania dan mengetahui bahwa nilai dari emas itu dihargai sangat tinggi.

Sementara itu, emas di wilayah India itu sangat murah bahkan bisa dibilang tidak ada harganya sama sekali.

Dalam beberapa tahun saja, pasti berita perbedaan nilai emas di tanah India dengan mediterania akan tersebar ke banyak pedagang. Maka para saudagar di India akan berlomba-lomba menjual emas di tanah Mediterania dengan selisih harga yang fantastis.

Tapi tingkat perbedaan harga itu tidak akan lama, seiring dengan berjalannya waktu, kesetimbangan ekonomi akan seimbang.

Karena permintaan emas di tanah India tiba-tiba melonjak drastis (buat dijual di Mediterania), orang-orang akan berusaha menambang emas di tanah India dan harganya pun akan naik terus, sementara di wilayah Mediterania akan kebanjiran emas.

Ketika emas jadi tidak terlalu langka lagi, hukum ekonomi akan berlaku sehingga nilainya akan terus menurun.

Baca Juga :  Lagi-lagi ! Hacker Bjorka Ledek dan Tantang Pemerintah Indonesia

Akhirnya, sampailah kondisi ketika harga emas di India dan Mediterania  tidak jauh berbeda satu sama lain.

Itulah kenapa harga emas di dua peradaban terpisah bisa saling mempengaruhi yang akhirnya mencapai titik kesetimbangan.

Peran para pedagang rantau (dan kekuatan Kerajaan Roma) itulah yang menyebabkan, mata uang dalam bentuk koin emas/perak menjadi semakin diterima secara universal ke seluruh belahan dunia, bahkan sampai sekarang.

Sayangnya, tidak semua proses “persebaran” bentuk uang berupa emas dan perak dilakukan dengan pendekatan ekonomi dagang. Ketika Hernan Cortes (pelaut Spanyol) menjelajahi daratan Amerika Tengah pada tahun 1519, mereka sangat terkejut waktu melihat peradaban suku Aztec yang sangat “kaya” karena bergelimang emas.

Sebaliknya, suku Aztec justru heran kenapa orang-orang asing berkulit putih ini sangat terobsesi dengan metal kekuningan yang mereka anggap tidak berharga.

Karena terisolasi dengan dunia luar, gagasan abstrak akan evolusi bentuk uang yang tidak harus memiliki nilai intrinsik belum terpikirkan oleh bangsa Aztec.

Mata uang suku Aztec adalah biji cokelat, yang mereka anggap memiliki nilai intrinsik dan berlaku ‘universal’ bagi peradaban mereka saat itu.

Sayangnya, perbedaan budaya dan cara komunikasi yang terlalu timpang tidak memungkinkan 2 kebudayaan ini (Aztec) dan budaya Barat untuk bekerja sama.

Alhasil adalah pembantaian besar-besaran suku Aztec oleh para penjelajah Spanyol untuk merebut emas dan dibawa ke Eropa.

Bentuk uang dalam dunia modern

Penggunaan bentuk uang koin emas dan perak ini terus berlanjut sampai akhirnya bentuk uang yang lebih praktis dapat direalisasikan seiring dengan terciptakan mesin cetak, yaitu bentuk uang kertas.

Dalam bentuk kertas, uang jadi semakin mudah disimpan, ringan untuk dibawa-bawa, dan murah untuk diproduksi.

Peralihan uang koin ke kertas sendiri terjadi tidak serempak di seluruh dunia, dari mulai yang pertama China (abad ke-7), Italia (abad ke-14), Amerika Serikat (abad ke-17).

Bentuk uang terakhir yang tercipta adalah yang berbentuk informasi digital.

Seiring dengan berkembangnya era digital sekarang ini, peradaban kita telah sampai pada titik dimana kepercayaan manusia akan konsep sangatlah tinggi sehingga bentuk uang tidak lagi perlu pembuktian secara fisik, tapi hanya berupa informasi digital saja.

Menurut data sampai tahun 2014, total uang yang beredar di seluruh dunia ini jika dikumpulkan kira-kira jumlahnya adalah 60-75 trilyun dolar Amerika.

Dari total tersebut, uang yang beredar dalam bentuk kertas dan koin itu kira-kira hanya 5-6 trilyun dollar amerika.

Artinya, kira-kira 90-93% uang yang beredar di seluruh dunia ini hanyalah berbentuk data digital di server komputer.

Di dunia modern ini, hampir semua transaksi adalah menggerakan data elektronik dari sebuah akun ke akun yang lain tanpa ada perpindahan barang fisik.

Jadi kalau seluruh nasabah bank secara serentak mengambil duitnya secara cash, hampir pasti bank tersebut tidak akan punya cadangan cash sebanyak itu.

Kita telah sampai pada era dimana nilai uang itu hanya ditentukan oleh nilai kepercayaan kolektif.

Itulah kekuatan dari gagasan abstrak manusia yang menciptakan konsep bernama uang hingga berlaku secara universal.

Itulah kekuatan uang sebagai pemersatu manusia, dari beragam budaya, agama, kepercayaan, filosofi, dan ideologi politik hampir semuanya dipersatukan oleh satu hal, yaitu kepercayaan akan konsep uang.

Kepercayaan kolektif secara abstrak inilah yang membuat jutaan bahkan milyaran manusia bisa bekerja sama secara efektif dari berbagai belahan dunia, walaupun tidak saling kenal satu sama lain.

Di sisi lain, kebergantungan nilai uang terhadap kepercayaan kolektif jugalah yang menyebabkan kestabilan nilai mata uang sangat berkaitan erat dengan kondisi politik. Begitu iklim politik bergeser, kepercayaan kolektif terhadap otoritas yang menjamin nilai uang itu juga bergeser.

 

Komentar