1 Februari 2022 - 01:58 WIB | Dibaca : 449 kali

Imlek; Asal-usul, Tradisi, dan Serba-serbi Perayaan Tahun Baru China

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, PALEMBANG: Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan pergantian tahun berdasarkan sistem lunisolar selalu dirayakan dengan begitu semarak tiap tahunnya.

Awalnya, Imlek hanya dirayakan oleh orang China, namun tradisi ini mulai diakulturasi dan bisa diterima oleh banyak orang.

Namun penyebutan Imlek hanya digunakan orang Tionghoa di Indonesia yang diambil dari bahasa Hokkian, di China sendiri, warga setempat tidak mengenal kata Imlek.

Di negara asalnya, Imlek disebut sebagai Chun Jié dalam aksara sederhana yang berarti Festival Musim Semi. Pada tahun 2022 ini, shio yang menjadi andalan adalah Macan Air. Shio ini dipercaya mendatangkan kekuatan, keberanian, dan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan.

Asal-usul Imlek

Imlek merupakan perayaan Tahun Baru yang biasa dirayakan orang-orang di kawasan Asia. Mulai dari Tibet, Taiwan, Korea, Vietnam, serta negara dengan penduduk berbahasa China seperti Singapura, dan Malaysia tak mau melewatkan momen penting ini. Imlek menurut sejarah sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Hal ini bermula ketika orang China kuno berkumpul untuk merayakan masa akhir panen. Tetapi, catatan pertama perayaan Imlek dikatakan berasal dari periode Negara-Negara Berperang. Ini terjadi ketika Dinasti Zhou akan runtuh.

Dinasti yang berbeda kemudian melakukan praktik dan ritual yang berbeda pula. Seperti ritual pembersihan rumah secara menyeluruh (Qin), pemujaan leluhur (Han), makan dan minum sepanjang malam (Jin), memberikan uang kepada anak-anak (Song), dan makan pangsit (Ming).

mitologi Nian

Menurut cerita rakyat kuno, ada binatang mengerikan yang disebut “Nian“, yang selalu menakut-nakuti penduduk desa ketika Imlek.

Binatang ini dipercaya memiliki kepala seperti singa tetapi memiliki tanduk tajam yang digunakan untuk menyerang mangsa. Nian hidup di hutan belantara, bawah laut, atau, pegunungan.

Makhluk mitologi ini pada hari terakhir tahun bulan akan keluar ketika tengah malam untuk memangsa penduduk desa, terutama anak-anak. Penduduk desa akan bersembunyi dan melarikan diri sebelum matahari terbenam untuk menghindari Nian.

Baca Juga :  Warung Ketek Apung Cek Mery, Sajikan Menu Khas Palembang

Tapi, suatu saat seorang lelaki tua dengan rambut perak datang kepada penduduk desa dan berjanji akan mengusir Nian selamanya. Saat malam tiba, ia mengenakan pakaian merah, menyalakan lilin, dan menembakkan bambu -yang dulunya merupakan bentuk awal petasan- untuk menakuti Nian.

Karena trik lelaki tua itu, penduduk desa lantas mengetahui senjata rahasia untuk mengalahkan Nian, yaitu dengan warna merah, lampu terang, dan suara keras.

Orang-orang kemudian melakukan seperti yang dilakukan lelaki tua itu setiap malam Imlek dan Nian dikabarkan tidak pernah muncul lagi.

Shio

Bagi orang-orang yang mempercayai astrologi China, shio dipercaya membawa peruntungan bagi karier, keuangan, dan kesehatan. Di tahun Macan Air ini, ada beberapa shio yang diprediksi akan makmur dan memperoleh banyak rezeki. Sedangkan, shio lainnya harus bekerja keras agar bisa bertahan di tengah kerasnya tahun Macan Air.

Penggambaran shio menurut astrologi China dilambangkan dengan 12 hewan. Awal mulanya shio diciptakan oleh Kaisar Giok pada hari ulang tahunnya.

Dikisahkan, untuk menentukan urutan hewan dalam shio, Kaisar Giok menggelar perlombaan menyeberang sungai bagi hewan. Kucing dan tikus dalam perlombaan ini melompat ke punggung kerbau.

Saat mencapai sisi lain sungai, tikus mendorong kucing ke dalam air dan melompat dari kerbau untuk bergegas menemui Kaisar Giok Oleh karenanya, tikus menjadi hewan pertama dalam shio. Kerbau yang berada di urutan kedua, kemudian disusul oleh harimau.

Walau hewan ini kuat, harimau lambat mencapai sisi seberang sungai karena arus yang mendorongnya ke hilir. Hewan berikutnya yang menyusul harimau menempati urutan 4 hingga 12. Hewan tersebut secara berurutan adalah kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi.

Zào Jun, Dewa Dapur Tradisi lain yang menyelimuti perayaan Imlek adalah kepercayaan terhadap Zào Jun yang dipercaya sebagai Dewa Dapur.

Konon Zào Jun bersemayam di kompor atau area serupa di rumah dan disebut sebagai dewa yang paling sering berinteraksi dengan manusia.

Zào Jun akan mengawasi rumah, keluarga, dan bertanggung jawab atas makanan dan mata pencaharian mereka. Pada hari kedua puluh tiga bulan lunar kedua belas, ia mengunjungi surga untuk melaporkan status keluarga kepada Kaisar Giok.

Baca Juga :  Pokdarwis Pastikan Pengelolaan Objek Wisata Tanjung Carat

Zào Jun kemudian kembali ke bumi untuk memberkati atau menghukum keluarga. Supaya terhindar dari hukuman Dewa Dapur, keluarga akan membuat permen malt atau saat ini disebut kue keranjang.

Kue ini dipercaya bisa mempermanis mulut Zào Jun sehingga ia hanya memuji keluarga dan menyatukan giginya agar tidak mengatakan hal buruk.

Legenda Suì Menurut legenda, ada roh jahat atau iblis yang bernama Suì yang datang pada malam Imlek untuk menakuti anak-anak. Ia dipercaya akan menyentuh kepala anak-anak sebanyak tiga kali saat tidur, sehingga mereka mengalami demam dan halusinasi.

Untuk melindungi anak-anak dari Suì, orang tua akan menyalakan lilin dan tinggal di samping mereka sepanjang malam untuk menjaganya.

Pada satu malam tahun lunar, orangtua memberi anak mereka koin untuk dimainkan agar ia tetap terjaga. Anak itu membungkus koin-koin itu dengan kertas merah dan membukanya sepanjang malam.

Orang tuanya kemudian meletakkan kertas merah dengan koin di bawah bantal si anak. Malam itu, ketika Suì datang untuk menyentuh kepala anak itu, koin-koin berkelebat dalam kegelapan dan menakuti Suì.

Bermula dari sini, pemberian amplop merah berisi uang dipercaya menjaga keselamatan anak-anak sekaligus membawa keberuntungan ketika Imlek.

Tradisi

Imlek secara tradisional merupakan waktu untuk menghormati dewa serta leluhur.

Tak mengherankan jika menjelang dan ketika Imlek, orang China akan memadati Kelenteng dan Litang untuk bersembahyang. Secara umum adat dan tradisi Imlek di setiap wilayah berbeda-beda.

Misalnya saja di Hong Kong, Imlek dirayakan dengan:

  • Makan malam dan reuni keluarga tahunan: ini menjadi waktu berkumpul dengan orang yang dicintai sambil berpesta. Makan malam juga sempurna untuk memulai Tahun Baru.
  • Hidangan populer yang biasa disajikan adalah ikan kukus, lumpia, dan pangsit. Sedangkan untuk makanan penutup dan makanan ringan adalah kue beras, kue lobak, dan puding
  • Membersihkan rumah secara menyeluruh sebelum Imlek: orang China percaya tradisi ini dapat menghapus nasib buruk dan membawa keberuntungan
  • Dekorasi di pintu dengan banyak kertas merah: biasanya gambar Dewa Pintu sebagai penjaga yang datang untuk melindungi rumah akan ditempel dan dekorasi merah dipakai untuk mengusir Nian dan binatang buas lainnya. Selain itu ada juga kaligrafi dan bait puisi tentang nasib baik, kebahagiaan, kesehatan, dan kekayaan
  • Penyalaan petasan, pertunjukan barongsai, dan pemberian uang dalam amplop berwarna merah. Dalam bahasa Kanton, amplop merah disebut lai see, sedangkan dalam bahasa Mandarin disebut sebagai Hóngbao (angpau).
Baca Juga :  Sediakan 2020 Cup Kopi Gratis, PHRI Peringati Hari Pariwisata Dunia dan Hari Kopi International

Menurut kepercayaan orang China, tradisi menyambut Imlek harus dipatuhi agar menerima keberuntungan.

Tapi, ada sejumlah larangan dan pantangan yang harus dihindari menjelang atau saat Imlek, di antaranya:

  • Sumpah dan kata-kata berkonotasi negatif seperti kematian, sakit, hantu, dan membunuh
  • Memecahkan keramik, peralatan makan, dan gelas. Ini dipercaya akan memutuskan hubungan seseorang dengan kemakmuran
  • Menggunakan sapu setelah Imlek atau menggunakan gunting, pisau atau benda tajam lainnya.
Busana merah

Mengenakan busana berwarna merah sudah menjadi semacam keharusan saat merayakan Tahun Baru China atau Imlek. Tak sekadar terlihat meriah, warna merah juga memiliki makna yang dalam.

Menurut cerita kuno, tradisi busana merah tersebut dimulai dengan datanganya Nian, binatang buas yang turun dari gunung atau naik dari laut untuk melahap manusia, tanaman, dan hewan ternak pada malam tahun baru.

Penduduk desa di Tiongkok dulu mengetahui kalau makhluk setengah banteng dengan kepala singa ini takut akan tiga hal, yaitu api, kebisingan, dan warna merah.

Maka penduduk mengusirnya dengan tiga hal tersebut. Jadi, setiap sebelum malam tahun baru, penduduk China akan mengenakan pakaian merah, menempelkan pesan bait pada pintu, menyalakan petasan, dan memainkan drum.

Orang Tiongkok pun meyakini bahwa warna merah melambangkan keberuntungan dan nasib baik serta diyakini dapat menangkal roh jahat.

 

Komentar