Chairil Anwar, lahir di Medan, 26 Juli 1922. Setelah orang tuanya meninggal pada tahun 1940, ia ikut ibunya pindah ke Batavia. Chairil tidak menyelesaikan pendidikannya di MULO ( Meeir Uitgebreid Lager Onderwijs) setara SMP di masa kolonial Belanda. Selanjutnya Chairil belajar secara otodidak. Ia menguasai beberapa bahasa asing, seperti bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman.
Chairil mulai menulis pada tahun 1942. bahasa tulisannya yang berbeda dari para penyair di masanya, menjadikan Chairil sebagai penyair yang cepat besar. Chairil menggunakan kata-kata yang tidak baku dalam karyanya, ia banyak menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Karena berjasa dalam pembaharuan puisi Indonesia, menjadikannya sebagai pelopor Angkatan ’45.
Pada 6 September 1946, ia menikah dan dikaruniai seorang putri. Namun usia pernikahannya tidak berlangsung lama. Putri semata wayangnya ikut bersama istrinya. Semenjak perceraiannya, kondisi kesehatan Chairil menurun. Ia terdiagnosa menderita penyakit TBC dan komplikasi.
Chairil sempat bekerja sebagai redaktur di Majalah Gema Suasana, namun kemudian mengundurkan diri dan kemudian bekerja menjadi redaktur Majalah Siasat bersama Ida Nasution, Asrul Sani, dan Rivai Apin.
Di usia yang masih sangat muda, 28 April 1949 pada usia 26 tahun, Chairil “Sang Binatang Jalang” meninggal dunia di Jakarta yang kemudian diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Beberapa kumpulan karyanya yang melegenda yakni;
1)Deru Campur Debu (1949)
2)Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949)
3)Aku Ini Binatang Jalang (1986)
Salah satu puisinya yang terkenal hingga saat ini adalah “AKU” (1943).
AKU
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.









Komentar