SWARAID, PALEMBANG: Palembang, kota tertua di Pulau Sumatera. Selain terkenal dengan makanan khas dan Sungai Musi yang melegenda, Palembang juga begitu lekat dengan kisah kejayaan kerajaan di masa lampau dan kesultanan yang masih terjaga hingga saat ini.
Salah satu peninggalan masa lampau yang masih terjaga hingga kini, ialah rumah milik keluarga Ong Boen Tjit yang usianya sudah mencapai 300 tahun.
Berada di tepian Sungai Musi, tepatnya di Jalan Faqih Usman Lorong Saudagar Yucing no. 326 Rt 05 Kelurahan 3-4 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I Palembang, bangunan ini 90 persen masih asli.
Diketahui, material rumah tersebut terdiri dari kayu unglen atau kayu besi disertai gaya arsitektur luar rumah yang kental dengan budaya Tionghoa.
Seperti yang dijelaskan Anik Srimayanti yang merupakan istri dari Budiman, generasi ke -6 pemiliki rumah Boen Tjit.
“Karena banyak keluarga yang sudah menikah dan pergi dari rumah ini, jadi sekarang kami yang menetap disini dan keluarga lain juga masih datang kesini untuk berkunjung serta melihat keadaan dari rumah nenek moyang kami ini,” ujarnya saat diwawancarai SWARAID, Minggu (23/1/22).
Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa rumah Ong Boen Tjit atau yang dikenal dengan sebutan rumah Baba Buncit tidak pernah direnovasi, serta terlihat masih terjaga berbagai barang peninggalan lama dengan corak Tionghoa.
Rumah Baba Buncit ini pertama kali diresmikan menjadi tempat pariwisata pada tahun 2017 lalu oleh Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Sumatera Selatan dengan menjadikannya pasar yang menyajikan aneka makanan khas Palembang.
Kegiatan tersebut dilakukan setiap minggu, tak hanya itu, berbagai event edukatif juga sering digelar di sana.
Akan tetapi, pasar tersebut hanya berjalan selama 9 bulan saja karena dianggap menganggu privasi tuan rumah Ong Boen Tjit.
“Karena anak saya sekolah setiap hari nya dan sedangkan sabtu minggu pasar dibuka membuat kami tidak bisa keluar, jalan-jalan untuk kumpul keluarga karena harus mengikuti kegiatan pasar tersebut,” katanya.
Ia juga mengaku, bahwa pengunjung pasar kemarin bisa mencapai 100 lebih pengunjung.
Sehingga akhirnya membuat keputusan untuk melestarikan kembali rumah ini mengingat sudah di kenal oleh masyarakt Kota Palembang.
Disinggung soal biaya perawatatan, Anik mengaku menggunakan biaya sendiri dan juga penghasilan dari UMKM yang dikelola masyarakat sekitar.
“Alhamdulilah kami membiayakan perawatan ini dengan sendiri yah melalui usaha kami sendiri dengan masayrakat sekitar,” tuturnya.
Anik menambahkan bahwa sampai saat ini belum ada pihak luar yang membantu, baik dari Pemerintah atau swasta.
Namun dijelaskan Anik, Dinas Pariwisata lebih mengajak kerjasama dengan membuat berbagai kegiatan di sana.
Mengingat akses menuju rumah Baba Buncit perlu perbaikan, Anik mengatakan akan segera melakukan pembenahan.
“Bakal ada perbaikan ya lebih bagus lagi, terutama akses menunju kesini mengingat jalan kesini agak susah ya terutama melalui darat,” tutupnya.















Komentar