oleh

Wajib Tau ! Syarat dan Ketentuan Penerima Vaksin Sinovac

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :647 kali | Durasi baca : 3 Menit

SWARAID-PALEMBANG, (06/01/2021): Dalam waktu dekat, vaksinasi massal akan segera dilakukan setelah beberapa hari yang lalu vaksin Sinovac yang diorder Indonesia dari Cina telah diedarkan ke 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Dalam pendistribusian vaksin yang dilakukan PT.Biofarma, Provinsi Sumatera Selatan menerima 30.000 vial dosis yang dibagikan ke seluruh Kabupaten Kota di Sumsel. Kota Palembang sendiri menerima 19.080 vial, yang artinya lebih dari setengah jatah yang diterima Sumsel, hal ini didasari oleh Palembang sebagai ibukota dengan faskes dan nakes terbanyak di Sumsel.

Sebagaimana diketahui bahwa nakes telah ditetapkan sebagai salah satu yang diutamakan dalam vaksinasi tahap pertama ini. Dimana vaksinasi akan dilakukan di 41 puskesmas dan 36 Rumah Sakit yang tersedia di kota Palembang.

Setelah Pemkot menerima juknis (petunjuk teknis) terkait pelaksanaan vaksinasi covid-19, terdapat beberapa kriteria syarat yang harus dipenuhi sebelum bisa melakukan vaksinasi. Syarat tersebut disampaikan oleh Jubir Dinas Kesehatan Kota Palembang, antara lain:

1. Kondisi suhu penerima vaksin tidak sedang mengalami demam tinggi (di atas 38° C)

2. Umur penerima vaksin di atas 18 tahun sampai 59 tahun

Baca Juga :  Wagamama ; Cafe Instagramable di Kota Palembang

3. Jika pernah menderita covid-19, sedang hamil atau menyusui, atau mengidap penyakit tertentu yang berhubungan dengan autoimun atau berhubungan dengan sistem ketahanan tubuh, dianjurkan juga untuk tidak divaksinasi.

4. Tidak memiliki kadar gula darah tinggi /diabetes melitus

5. Tidak memiliki riwayat penyakit paru

Jubir Dinkes Kota Palembang Yudhi Setiawan menyampaikan, pasien yang telah terinfeksi Covid-19 tidak diberikan vaksinasi karena dikhawatirkan akan memperparah kondisi penderita.

“Karena kita tahu bahwa tujuan dari vaksin itu adalah memberikan virus yang sudah dimatikan sehingga nanti akan terbentuk antibodi kekebalan, dikhawatirkan pada orang yang sudah terkena covid-19 itu akan terjadi beberapa hal-hal yang tidak diinginkan, memperparah atau sebagainya. Itu mengapa menjadi alasan tidak dibolehkan diberikan kepada kelompok-kelompok tersebut.”

Lebih lanjut menanggapi masyarakat yang bingung dan takut terhadap vaksinasi, Yudhi menyakinkan vaksin yang di berikan telah aman dan teruji secara klinis dan telah melalui proses yang panjang.

“Uji klinis tahap ketiga kan sudah hampir selesai dan nanti hasilnya akan dirilis. Saya baca juga beberapa berita yang dikeluarkan BPOM teryata uji klinis tahap tiga ini hasilnya bagus, efek samping yang ada hanya efek samping lokal seperti kemerahan atau pun sakit pada tempat yang disuntik pada lengan, atau pun ada gejala sistemik seperti demam dan sebagainya itu juga tidak terlalu parah dan demam tidak terlalu tinggi.”

Baca Juga :  IPTU Kurniawan; Operasi Zebra Musi 2020 Segera Running

Namun Yudhi menerangkan pihaknya belum menerima surat edaran dari BPOM serta masih menunggu sertifikasi MUI sebelum nantinya dilakukan vaksinasi massal di pertengahan Januari ini.

“Masyarakat harus yakin bahwa vaksin ini adalah salah satu cara untuk mengendalikan transmisi covid-19, cara utamanya tetap protokol kesehatan 3M lalu strategi yang dilaksanakan oleh nakes 3T (Tracing, Testing, Treatment) ditambah vaksin. Mudah mudahan kalau 3M jalan, 3T jalan, vaksin ini jalan, laju transmisi penyebaran Covid-19 bisa kita kendalikan.”

Selanjutnya Yudhi juga menjelaskan proses vaksinasi, masyarakat diwajibkan terlebih dahulu melakukan medical check-up, dimana akan di lakukan tes tensi darah dan ukur suhu tubuh.

“Jadi paling minimal dua itu di ukur suhu dan di ukur tensi, kalau memang memenuhi kriteria lalu nanti ditanya lagi kalau memang yang bersangkutan belum memenuhi kriteria untuk mendapat vaksin, mungkin bisa kita tunda atau nanti kita atur lagi di lain waktu.” Jelas Yudhi.

Setelah dilakukan vaksinasi, pasien tidak disarankan langsung pulang ke rumah, akan tetapi terlebih dahulu menunggu kurang lebih 30 menit melihat apakah adakah reaksi gejala atau efek samping yang terjadi pasca imunisasi atau yang biasa disebut KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

Baca Juga :  Keselamatan Yang Merata ; Marihot Daftarkan Sopir ke BPJS Ketenagakerjaan

“Kita sudah ada protap yang kita lakukan. KIPI itu ada yang ringan dan yang berat. Kita sudah siapkan bahkan kalau terjadi shock anafilaktif, atau yang bersangkutan pingsan, vaksin itu sudah kita buat standar SOP, apakah dengan diberi adrenalin dan sebagainya kita sudah siapkan.” Papar Yudhi.

Terakhir Yudhi menambahkan saat ini Kemenkes tengah mempersiapkan pelatihan terhadap tenaga fasilitator dan vaksinator yang akan berkerja pada saat vaksinasi massal ditanggal 14 Januari mendatang.

“Sekarang Kemenkes sedang tahap pelatihan fasilitator untuk tenaga vaksin, lebih kurang empat hari dari Rabu, Kamis, Jumat sampai Sabtu, nanti berikutnya di minggu depan di latih juga tenaga-tenaga vaksinator yaitu pemberi vaksin, sekarang sedang jalan pelatihan untuk tenaga pelatihnya.”

Komentar

Berita Lainya