26 Mei 2022 - 13:37 WIB | Dibaca : 353 kali

UU PKDRT; Perkosaan dalam Perkawinan Terancam 12 Tahun Penjara

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA: Pemerintah mengusulkan agar Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) mengatur hukuman pidana terhadap praktik pemaksaan hubungan seksual atau perkosaan di dalam perkawinan (marital rape) dengan delik aduan.

Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharif Hiariej mengatakan, usulan tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).

“Penjelasan kami adalah marital rape, perkosaan dalam perkawinan ditambah dalam rumusan (Pasal) 479 sebagai konsisten terhadap Pasal 53 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang KDRT,” kata Edward dalam rapat dengan Komisi III DPR, Rabu (25/5/22) dikutip dari Kompas.

Berdasarkan dokumen berjudul ‘Isu Krusial RUU KUHP’ yang dirilis oleh Kementerian Hukum dan HAM, ketentuan pidana mengenai perkosaan akan diatur dalam Pasal 479 RKUHP.

Pasal 479 Ayat (1) berbunyi, “Setiap Orang yang dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya dipidana karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun”.

Baca Juga :  Naik Pitam ! Warga Hajar Terduga Pelaku Pembakaran Rumah di Pasar Gubah

Lalu, pada Ayat (6) dijelaskan bahwa perkosaan dalam ikatan perkawinan dapat dipidana atas pengaduan korban.

“Dalam hal Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam ikatan perkawinan, tidak dilakukan penuntutan kecuali atas pengaduan korban,” demikian bunyi Ayat (6) pasal tersebut.

Ketentuan di atas merupakan ketentuan yang baru dicantumkan dalam draf RKUHP.

Draf RKUHP sebelumnya yang hampir disahkan pada 2019 lalu tidak mencantumkan ketentuan pidana mengenai pemaksaan hubungan seksual dalam ikatan perkawinan.

Target Rampung Juli 2022 Pemerintah dan DPR menargetkan RKUHP dapat disahkan pada Juli 2022 mendatang.

“Kalau saya tadi berbicara dengan yang mulia teman-teman pimpinan komisi tiga sepertinya akan diselesaikan pada bulan Juli 2022,” ujar Eddy, sapaan akrab Edward, Rabu kemarin.

Seperti diketahui, pembahasan RKUHP tidak dilakukan dari awal karena berstatus carry over dari DPR periode sebelumnya.

Pada 2019 lalu, RKUHP sudah disepakati di tingkat I tetapi urung dibawa ke rapat paripurna untuk disahkan akibat masifnya penolakan masyarakat.

Dalam rapat pada Rabu kemarin, Komisi III DPR telah menerima penjelasan dari pemerintah terkait 14 isu dalam RKUHP yang telah disosialisasikan kepada masyarakat.

Baca Juga :  Lantaran Kesal, Suami Diduga Seret Istri Dengan Mobil

Anggota Komisi III DPR Arsul Sani menjelaskan, selanjutnya DPR akan mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo agar pemerintah secara formal mengajukan kembali RKUHP ke DPR.

“Setelah itu Komisi III bersama dengan pemerintah akan menyisir lebih dahulu, menyepakati redaksi pasal yg mengalami perubahan dan penjelasan pasal. Setelah semuanya disepakati kembali maka akan diputuskan untuk dibawa ke rapat paripurna DPR,” kata Arsul, Kamis (26/5/2022).

Komentar