SWARAID, PALEMBANG : Tugu Perang 5 Hari 5 Malam berada di kawasan 16 Ilir di sebelah Jembatan Ampera Kota Palembang, yang saat ini keberadaanya menjadi tersembunyi diakibatkan adanya Stasiun Lintas Rel Terpadu (LRT) Ampera.
Tugu Perang 5 hari 5 malam ini merupakan tugu peringatan salah satu peristwa bersejarah untuk masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, peristiwa sejarah ini megenang tentang perlawanan Tentara Republik Indonesia (TRI) terhadap serangan tentara Belanda (NICA) yang terjadi selama lima hari berturut-turut dimulai sejak tanggal 1 sampai 5 januari 1947.
Upaya tentara belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia dengan melakukan tiga cara antara lain, aksi militer, melakukan pembentukan negara boneka dan menjaga agar Indonesia tetap berada di bawah kekuasaaan mereka.
Namun, karena hal tersebut masyarakatt Indonesia melakukan perlawanan heroik dalam mencegah Belanda kembali menguasi Indonesia.
Menurut salah satu Dosen Sejarah Unsri Palembang, Syafruddin ia menjelaskan tugu yang berada di sebelah Jembatan Ampera merupakan tugu Letnan satu Joko Brojo atau sering dikenal dengan Joko Surojo yang merupakan korban pertama dalam pertempuran 5 hari 5 malam tersebut.
Dari pertempuran tersebut, Joko waktu itu bertahan di toko yang bernama The Zone atau disebut toko yang berbahasa Belanda.
Lalu ia tertembak ditempat yang sekarang ini dikenal dengan Mopera dan menjadi korban pertama dalam pertempuran tersebut.
“Sebagai penghargan atas perjuangan itu, maka ada satu nama jalan yang dibuat di dekat SMP N 1 Palembang dengan bernama Joko.” Ujarnya saat diwawancarai SWARAID, Rabu (12/1/22).
Kemudian dibangunlah Tugu 5 Hari 5 Malam yang jika dilihat secara sepintas tidak terlihat karena terselip dengan bangunan LRT tersebut.
Pembuatan Tugu tersebut dalam memperingatkan atas gugurnya Letnan satu Joko dalam Pertempuran 5 hari 5 malam yang gugur 2 hari saat pertempuran.
Lebih Lanjut, Syafruddin menambahkan bahwa ada beberapa tugu lain yang ada di Kota Palembang, seperti di daerah Karang Anyar, Plaju dan lain-lain dengan peristiwa sejarah yang berbeda-beda.
“Sebenarnya bukan hanya di dekat Jempatan Ampera saja, tugu lain pun ada namun dengan sejarah yang berbeda,” ungkapnya.
Sementara itu, ia juga mengatakaan bahwa pertempuran 5 hari 5 malam ini belum ada peringatannya yang dibuat oleh Pemerintah Kota Palembang.
“Belum ada peringatan ya, dulu pernah ketika peresmian Mopera. Tapi belakangan ini tidak ada lagi inisiatif Pemda Provinsi atau Pemda Kota Palembang untuk memperingati hari sejarah itu yang seharusnya mereka merencakan kegiatan tersebut jadi keperdulian mereka dengan peristiwa tersebut kurang perduli,” tegasnya.
Menurut Syafruddin, seharusnya Pemerintah Kota Palembang lebih perduli dengan sejarah tersebut, bahkan menurutnya pada 1 Januari lalu ia melakukan ziarah di makam pahlawan dengan mengajak komunitas dan melakukan ceramah untuk memperingati perang 5 hari 5 malam.
Bahkan bagi warga Kota Palembang sendiri, tidak banyak yang tau mengenai sejarah tugu dan perang 5 hari 5 malam tersebut. Seperti yang disampaikan salah satu warga Plaju, Zarinah (20) mengaku hanya pernah melihat tugunya saja, tanpa tau sejarah dibaliknya.
“Tahu tempatnya aja, tapi kalau sejarahnya kurang tahu ya,” ujarnya.






Komentar