8 November 2022 - 01:20 WIB | Dibaca : 793 kali

Sukses Pukau Penonton, Menjaga Kelestarian Alam Jadi Pesan Moral Pementasan

Laporan : Maulana
Editor : Noviani Dwi Putri

Kondisi dapur hari ini sudah diisi oleh sesuatu yang bersifat instans dan tidak lokalis, kenapa itu bisa terjadi?

SWARAID, PALEMBANG: Pementasan teater bertajuk “Dapur Ibu Dan Anak-anaknya” yang berlangsung di Gedung Graha Budaya, Taman Budaya Sriwijaya Jakabaring, Senin (7/11/22) Palembang berhasil memukau ratusan penonton yang hadir dalam acara tersebut.

Tidak hanya menyuguhkan hiburan teaterikal, sang sutradara mencoba memberikan pesan moral tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, khususnya sungai musi yang menjadi kebanggaan warga Palembang.

Sutradara “Dapur Ibu Dan Anak-anaknya”, T. Wijaya menjelaskan, Dapur Ibu merupakan simbol dari kehidupan, dari proses pembentukan anak-anaknya, ketika dapur tersebut mengalami krisis sehingga akan berdampak pula pada anak-anaknya.

“Pindang adalah salah satu produksi dari dapur, persoalannya bagaimana kondisi dapur hari ini?, kondisi dapur hari ini sudah kehilangan sungai, kondisi dapur hari ini sudah diisi oleh sesuatu yang bersifat instans dan tidak lokalis, kenapa itu bisa terjadi? karena adanya kerusakan bentang alam terutama sungai. Artinya dengan pindang ini kita ingin menyelamatkan dapur, selamatnya dapur, Anak-anaknya juga akan selamat,” kata T. Wijaya, Senin (7/11/22).

Dikatakan T. Wijaya, pertunjukan tadi menggambarkan dimana kondisi dapur yang berantakan dan esensi dari seorang ibu, dimana sang sutradara mencoba menyampaikan suatu pesan tersirat tentang pentingnya pemahaman generasi muda dan yang akan datang untuk melihat sebuah probelamatika dalam menjaga alam terutama sungai.

Baca Juga :  Ribuan Warga Musi Banyuasin Semarakkan Gelaran Festival Bongen

“Kami ingin memberikan pesan bahwa, ibu itu mother earth itu bukan gender, tapi adalah nilai-nilai, dialah yang menjaga dapur, ketika dapur rusak itu pertanda bentang alam rusak, bentang alam rusak maka dapur pun menjadi rusak dan anak-anaknya pasti tidak selamat,” ujarnya.

Sementara itu, Budayawan Sumsel yang juga salah satu pemeran dalam pertunjukan “Dapur Ibu dan Anak-anaknya”, Yudhy Syarofie pun mengungkapkan bahwa naskah yang dipentaskan hari ini tidak hanya bercerita tentang pindang, namun dari pindang pertunjukan juga bercerita tentang kekayaan ikan di Sumatera selatan yang saat ini sebagian sudah mulai berkurang.

“Pindang itu hanya pintu masuknya, dari pindang kita bicara banyak. Lalu bagaimana agar kekayaaan ikan ini tetap terjaga, maka kita harus menjaga ekologinya yaitu habitatnya,” kata Yudhy.

“Saat masyarakat Palembang, Sumatera selatan umunya ingin menikmati pindang ternyata tidak ada lagi ikan, berarti terjadi sebuah kesalahan. Bagaimana supaya kita bisa menikmati pindang itu dengan berbagai jenisnya, karena dari tiap aliran anak sungai musi itu beragam jenis ikan dan beragam pula jenis pindangnya,” sambungnya.

Baca Juga :  Ekonomi MUBA Tumbuh Seiring Bangkitnya Geliat Pariwisata

Maka dari itu, Yudhy menjelaskan bahwa untuk dapat terus menikmati pindang dengan berbagai jenis ikan yang ada di aliran sungai musi, tidak ada kata lain selain menjaga lingkungan, baik itu sungai, hutan, lebak, rawa, dan sebagainya agar ikan-ikan tersebut terjaga ekosistemnya.

“Dan juga bagaimana kemudian rempah tanah, yang ada di daratan seperti kunyit, laos, jahe itu tetap harus terjaga agar kita dapat terus menikmati pindang,” pungkasnya.

Turut hadir dalam pertunjukan, Kasi Pengelola Taman Budaya Sriwijaya, Mirzal Fadillah menuturkan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan yang telah diadakan oleh Teater Potlot. Menurutnya pagelaran seperti ini sudah sangat jarang dijumpai semenjak pandemi beberapa tahun terakhir.

“Harapan kedepan, mungkin masih banyak lagi teman-teman yang bisa mengangkat karya-karyanya untuk dipentaskan di Taman Budaya Sriwijaya ini, dan tentunya akan memberikan banyak manfaat dari setiap pertunjukan,” ujar Mirjal, singkat.

Komentar