oleh

Pembangunan Karakter. Firman ; Kedepan Perlu Metode Blended Learning

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :262 kali | Durasi baca : 2 Menit

SWARAID – PALEMBANG, (02/11/2020): Covid-19 yang melanda Indonesia merupakan musibah alam yang terjadi di seantero dunia, tidak terluput dari segala sektor yang ada di Indonesia yang harus merombak segala metode yang sudah di terapkan.

Yang paling kontras dalam dunia pendidikan. Dunia persekolahan yang dimana dahulu sangat kompleks dalam metode pembelajaran kini menjadi sepi dan tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan di lingkungan sekolah. Setelah kini dilanda dengan virus Covid-19 dari awal tahun lalu, metode pembelajaran dirombak dengan pendekatan pembelajaran platform belajar berbasis internet.

Menuai pro dan kontra dari awal ketika baru menjadi wacana. Kehadiran covid-19 tetap memaksa penerapan pembelajaran daring. Dengan beberapa pihak tetap ada yang menyetujui dengan dalih demi menghindari penyebaran Covid-19 dilingkungan sekolah, namun tak sedikit pula yang tidak menyetujui dengan alasan pembelajaran metode daring bagi mereka tidak ada pembentukan karakter dan terasa kaku.

Dr. H. Firman Freaddy Busroh, SH., M.Hum  Ketua Dewan Pembina Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA), pembelajaran daring menurutnya tidak ada pembangunan karakter apabila pembelajaran daring terus dilakukan terus menerus kedepannya.

Baca Juga :  Hidupkan Kembali P4 Sebagai Upaya Menanamkan Kembali Ideologi Pancasila

“Untuk kedepan saya tidak sepakat apabila dengan online, karena tidak ada pembangunan karakter. Karena pendidikan itu tidak hanya sekedar transfer knowledge tapi disitu juga ada character building, ” terangnya.

Dr. H. Firman Freaddy Busroh, SH., M.Hum yang juga merupakan Duta Baca Sumatera Selatan melihat di mana pembelajaran daring yang sekarang dilaksanakan oleh pelajar tidak ada interaksi sosial yang dilakukan apabila setiap hari yang di tatap hanya layar monitor. Inilah yang akhirnya menjadi kontra di dunia pendidikan.

Lebih lanjut tentang keharusan dari sekolah dengan character building Firman mengatakan,

“Peran sekolah itu tidak hanya transfer knowldge tapi juga character building. Itulah mengapa nilai-nilai kebaikan , sosial, etika tidak bisa diajarkan melalui online learning. Harus ada role model seperti guru yang mengajarkan nilai-nilai tersebut. Itulah peran guru sangat penting stlh peran orang tua yang utama dalam pembentukan karakter anak.”

Menurutnya kedepan dalam metode pembelajaran perlu ada blended learning sebagai metode pembelajaran yang menggabungkan classroom learning dan online learning. Agar tetap ada pembangunan karakter dalam dunia pendidikan dimasa sekarang. Namun hal ini harus dengan pertimbangan terlebih dahulu dari pihak sekolah apakah 50:50 atau 70:30 dimana lebih banyak pembelajaran daring.

Baca Juga :  RMPN Persiapkan Kampung Literasi dan Open Donasi

Metode seperti blended inilah yang sedang diterapkan di kampus STHIPADA, yang menurutnya agar tetap ada pembangunan karakter di masa pandemi.

“iya kami sudah menerapkannya, blended learning adalah pembelajaran yg tetap ada interaksi sosial tanpa meninggalkan pembentukan karakter seperti sopan santun, disiplin , etika namun  dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Tutupnya.

 

 

Komentar

Berita Lainya