SWARAID – PALEMBANG, (29/10/20): Adakan lomba orasi mahasiswa dan mahasiswi Sumatera Selatan, khususnya Palembang dan Focus Grup Discussion (FGD) dengan teman “Payo Kito Jago Kota Kito” (28/10/20). Kawan Milenial Sumatera Selatan bersama Gerakan Masyarakat Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (GM PEKAT IB), mencoba terus memberdayakan potensi-potensi muda menjadi pemuda yang progresif.
Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang ke- 92 dengan tema nasional Sumpah Pemuda bersatu dan bangkit. Apriansyah ketua pelaksana acara, menuturkan ide ini muncul ketika dirinya bersama kawan Milenial situasi yang terjadi selama masa aksi demonstrasi penolakan UU cipta kerja. Bekerjasama dengan GM PEKAT IB kegiatan yang dilangsungkan di Ballroom Hotel Swarna Dwipa, dengan tujuan membentuk karakter mahasiswa yang kritis terhadap situasi sekarang.
“Alhamdulillah target kita melampaui batas kuota peserta lomba. Saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan atas kontribusinya, Selamat mengikuti lomba,” tuturnya.
Ir.Suparman Roman ketua umum DPW PEKAT IB Sumsel, sangat mendukung secara penuh apa yang menjadi pemikiran-pemikiran dari Aliansi Kawan Milenial Sumsel dengan misi GM Pekat IB yaitu menjaga kesatuan NKRI. GM PEKAT IB mencoba membantu kawan Milenial Sumsel dalam mewujudkan terselenggaranya kegiatan ini. Selain juga terus menggelorakan semangat pemuda seperti yang dilakukan pendahulunya dalam melahirkan ikrar sumpah pemuda.
“Acara ini dilaksanakan agar bisa membangun mahasiswa mengkritik membangun indonesia, menyumbangkan pemikiran-pemikiran mereka. Dan juga Sumpah Pemuda menjadi momentum kembali membawa hakekat kepada pendahulu-pendahulu kita. Misi kami menjaga keutuhan NKRI,” Terang Suparman kepada SWARAID.
Ir. Suparman Roman yang juga Sekretaris Umum (Sekum) KONI Provinsi Sumsel melihat gelombang aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja yang terjadi di Palembang, dirinya menuturkan bahwa ada oknum yang mencoba menunggangi semangat mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi masyarakat yang sebenarnya terjadi karena gerakan hati.
“Saya yakin ada kelompok-kelompok tertentu yang ikut memancing di air keruh pada saat mahasiswa melakukan aksi. Sepanjang oknum-oknum ini tidak bisa ditangani, pasti akan rawan/rentan munculnya tindakan-tindakan anarki.” Tegasnya
Lebih lanjut Ir. Suparman Roman menyakini bahwa mahasiswa bisa lebih bijak lagi dalam melakukan aksi mengeluarkan aspirasinya. FGD dengan tema “Payo Kito Jago Kota Kito” diharapkan mampu memberikan gambaran bahwa penyampaian aspirasi tidak perlu melakukan tindakan anarkis bahkan pengerusakan fasilitas.
”Dengan diselenggarakan FGD ini agar muncul kesadaran dalam menyampaikan aspirasi dan jangan sampai menimbulkan kerusakan fasilitas,” terangnya.
Yan Harianto atau lebih dikenal dengan Yan Coga yang menjadi juri dalam lomba orasi tersebut mengakui kagum dengan pemuda khususnya mahasiswa Sumatera Selatan, bahwa hampir rata rata mahasiswa yang mengikuti lomba memahami intisari dari ikrar sumpah pemuda.
“Dengan momen yang ada, acara ini terus terang saya sangat bangga dan luar biasa adik-adik mahasiswa yang saya kira awalnya tidak tahu apa itu NKRI apa itu Pancasila, tentang Sumpah Pemuda ternyata mereka sangat paham dan sangat mengerti bahkan isi poin-poin Sumpah Pemuda,” bebernya.
Semangat inilah yang diharapkan oleh Yan Coga dapat terus berkelanjutan hingga ke generasi berikutnya, pemuda yang berkarakter, pemuda progresif dan pemuda yang kritis seperti yang dilakukan pendahulu mereka.
“Mau tidak mau yang namanya cinta tanah air itu harus selalu kita dengungkan untuk generasi terus-menerus”. Tutupnya.
Asisten III Bidang Kesra Pemprov Sumsel Prof Edwar Juliarta yang hadir memberikan semangat kepada peserta lomba. Sebagai momentum kebangkitan semangat Pemuda Indonesia Prof. Edward Juliarta menuturkan sangat membutuhkan peran serta pemuda ditengah hiruk pikuk kondisi yang terjadi saat ini.
“Ini merupakan kegiatan yang bagus, momentum yang tepat sebagai satu bagian proses memberikan pemahaman generasi muda. Hari ini kawan Milenial Sumsel dan GM PEKAT IB mengadakan FGD tentang bagaimana menjaga kota kita dengan memberikan pemahaman dan solusi kepada pemuda.” Paparnya kepada SWARAID.
Dan dengan kolaborasi antara kawan Milenial Sumsel dan GM PEKAT IB, Prof. Edward Juliarta menuturkan
“Bagus, dengan semakin banyak semakin bagus, jika kita memikirkan sendiri tentu gak bisa. Semua stakeholder harus bisa berkolaborasi dan bersinergi satu sama lain, supaya bisa kita pahami bahwa Indonesia, Sumsel, Palembang harus dijaga.” Tutupnya.









Komentar