20 September 2020 - 12:48 WIB | Dibaca : 3,853 kali

Mengintip Pembuatan Kemplang, Oleh-Oleh Andalan Banyuasin II

Laporan : Novi
Editor : Muslim

SWARAID – BANYUASIN, (20/09/20) : Ditemui dirumahnya di kampung Bioskop desa Sungsang, Yana atau akrab disapa Cek Yana (48) sedang sibuk menjemur kemplang udang buatannya. Ibu dari tiga anak yang merupakan penduduk asli Sungsang ini sudah 10 tahun berprofesi sebagai pengerajin kemplang udang khas Sungsang.

Cek Yana adalah satu dari sekian banyak pengerajin kemplang didesa nelayan ini. Bahan baku yang melimpah menjadikan produk olahan udang ini dapat ditemui disepanjang jalan poros Sungsang.

“Dulu belum banyak pembuat kemplang, sekarang sudah dimana-mana, sepanjang Sungsang ini banyak sekali pembuat kemplang. Harga pun beda-beda tergantung kualitas.” sambil terus mengupas kulit udang, Cek Yana bercerita.

Cek Yana yang dibantu oleh adiknya, dalam sehari dapat mengolah maksimal 50kg udang segar.

“Kalau diupahkan mengupasnya itu Rp. 3000/kg, jadi kalau ngupas sampai 10kg, tukang kupas sudah bergaji Rp. 30.000,- ” sambil meunjukkan buruh kupas sedang memisahkan kulit dan daging udang.

Para pengerajin kemplang di Sungsang masih menggunakan cara tradisional dalam proses produksi, walaupun pemerintah sudah pernah memberikan bantuan berupa alat penggiling udang dan pengering, tapi dirasa kurang maksimal dalam kualitas yang dihasilkan. Sehingga para pengerajin memutuskan untuk tetap menggunakan cara tradisional, seperti penggerus udang manual dan menjemur kemplang dibawah sinar matahari langsung. Ketika ditanya perihal kendala, Cek Yana menghentikan aktifitasnya sejenak.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRD Banyuasin Segera Bantu Kelompok Tani Desa Sukatani

“Kalau sudah musim barat, nelayan susah ke laut, gelombang kuat. Disitulah kami kesulitan dapat udang, hargapun melonjak, sementara harga kemplang masih tetap,” keluhnya.

Untuk mensiasati kekurangan bahan baku dimusim barat, para pengerajin biasanya meningkatkan produksi pada saat harga udang murah dan pasokan udang melimpah untuk menjaga stok kemplang dimusim barat. Apalagi kemplang yang penjemurannya baik dapat bertahan hingga berbulan-bulan bahkan hitungan tahun. Tapi tentunya hanya berlaku bagi pengerajin yang memiliki modal besar.

Kemplang udang sebagai oleh-oleh khas Sungsang merupakan salah satu produk andalan yang banyak diburu wisatawan, Cek Yana menegaskan tidak ada kendala dalam hal pemasaran. Apalagi sekarang jumlah kunjungan wisatawan semakin meningkat. Dalam satu bulan, Cek Yana bisa menjual lebih kurang 300 kg kemplang udang, terlebih lagi kalau mendekati lebaran, 300 kg kemplang bisa terjual hanya dalam 2 minggu saja.

“Kalau untuk menjual tidak susah, justru kami kewalahan di modalnya, makanya banyak yang ambil jalan pintas, pinjam uang koperasi yang berbunga itu, untuk bayar bunganya tidak sesuai dengan keuntungan, karena kemplang udang yang kualitasnya bagus tidak bisa dapat untung besar .” Keluh nya kepada reporter SwaraID.

Baca Juga :  Pj. Ketua Dekranasda Kabupaten Banyuasin Adhitya Trinia Farid, S. STP., M.Si Hadiri Kriya Nusa 2024

Cek Yana merupakan pengerajin kemplang udang yang sudah memiliki banyak pelanggan, selain dijual di Sungsang dan mengisi kios-kios penjual kemplang produksinya sudah terjual hingga ke Jakarta, Medan, dan Padang karena memiliki kualitas baik dan tidak mengecewakan. Bahkan selama masa pandemi, penjualan kemplang udangnya tetap stabil.

“Kami menjaga kualitas supaya pelanggan kami tidak kecewa, biarlah untung kami tidak besar tapi tidak bikin malu kalau dijadikan oleh-oleh sampai ke kota-kota lain, jadi orang-orang Sungsang, orang Sumsel bangga punya oleh-oleh yang seenak ini.” Tutup Cek Yana sumringah.

Komentar