29 Januari 2022 - 13:21 WIB | Dibaca : 311 kali

Makam Kawah Tengkurep; Saksi Bisu Sejarah Syiar Islam di Palembang

Laporan :
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, PALEMBANG: Kota Palembang sebagai tempat bernaungnya kerajaan Sriwijaya memiliki banyak sekali budaya serta sejarah yang masih melekat.

Salah satunya peninggalan bersejarah di kota Palembang yaitu, Kawah Tengkurep yang merupakan makam khusus bagi raja, pangeran, abdi kerajaan serta semua keturunannya.

Makam Kawah Tengkurep ini terletak di Kelurahan Tiga Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, yang merupakan salah satu kawasaan peninggalan Kesultanan Palembang Darusalam, Kerajaan Melayu yang bercorak Islam.

Di kawasan makam Kawah Tengkurep sendiri terdapat makam Sultan Mahmud Badaruddin Joyo Wokromo (1724-1758), berserta keempat istrinya yaitu Ratu Seduh dari Jawa, Ratu Gading dari Malaysia, Mas Ayu Ratu dari Cina, dan Nyai Mas Naimah dari Palembang, Serta Guru Besarnya Imam Sayid Idrus Al Indrus dan para keturunannya.

Selain menjadi tempat bersejarah yang bercorak Islam melayu, makam Kawah Tengkurep juga menjadi salah satu tempat lokasi wisata religi lantaran mempunyai nilai budaya serta sejarah syiar Islam di Palembang.

Juru Kunci, Ikhsan (50) menjelaskan arti nama “Kawah” sendiri berarti alat atau wadah, dan “Tengkurep” yang artinya terbalik. Tengkurep sendiri terlihat dari bentuk atap bangunan makam yang seperti wajan terbalik.

Baca Juga :  Di Balik Upaya Perindah Sungai Sekanak Lambidaro, Warga Tetap Abai Perihal Sampah

Menurut Ikhsan, pemakaman ini sudah dibanguan sejak 1728 dengan instruksi Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikramo dengan menggunakan bahan bangunan dari kapur pasir, putih telur, dan batu.

Pembangunan makam inipun tidak menggunakan bahan besi ataupun semen dalam pembangunan. Akan tetapi, sampai saat ini tidak pernah mengalami renovasi pembangunan.

Bahkan Saat ini usia pembangunan makam sendiri telah mencapai 300 tahun dan hanya direnovasi bagian dalam makam untuk diberikan keramik dan memperindah makam.

Secara umum, pembanguan makam Kawah Tengkurep ini memiliki luas 1 hektar, dinding 120 meter, tinggi 15, dan lebar 8×8 persegi.

Pembanguan makam memiliki makna, seperti 6 makam yang melambangkan rukun iman, pintu dua berlambangkan 2 kalimat syahadat.

Lebih Lanjut, Ikhsan mengatakan bahwa peziarah yang datang bukan hanya dari kota Palembang saja, namun dari luarpun ada untuk memberikan doa kepada sultan.

Akan tetapi, Ikhsan juga mengaku bahwa masih ada masyarakat yang masih mempercayai tradisi dalam berdoa, bahkan ada peziarah yang membuat keanehan, seperti meletakan foto wanita yang dipenuhi jarum di dalam kuburan, serta ada peziarah yang memberikan nasi atau bahan lainya. Namun itu tidak dibenarkan karena musyrik dan tidak ada ajarannya di agama.

Baca Juga :  Viral!!! Terkesan Arogan Kasatpol PP Tuai Kritik

Sementara itu, Ikhsan menyatakan bahwa setiap tahun itu ada tradisi masyarakat, para ulama besar untuk berziarah dimakam sultan seperti ziarah kubro.

Bahkan ada peziarah dari luar seperti Arab, Myanmar, Singapura, Malaysia, Thailand dan negara lainnya yang ikut berziarah ke makam Kawah Tengkurep ini.

“Ada tradisi dari masyarakat seperti ziarah kubro yang dilakukan satu tahun sebelum puasa. Namun, 2 tahun belakangan hal tersebut sempat tidak dilaksanakan karena Covid-19,” katanya saat ditemui Tim SWARAID, Sabtu (29/1/22).

Ia juga menyampaikan untuk peziarah wanita yang sedang menstruasi dianjurkan tidak memasuki kawasan makam mengingat ini merupakan tempat sakral, serta memakai kerudung saat berziarah, dan bagi peziarah laki-laki itu harus menggunkan baju yang sopan untuk menghargai sultan.

“Peziarah manapun boleh datang dan mengirimkan doa, namun harus sopan kalau berkunjung,” tutupnya.

Komentar