Letusan ini melontarkan rempah vulkanik dengan volume 18 km kubik, tinggi asap 80 km, dan menimbulkan gelombang tsunami setinggi 30 meter di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung
SWARAID, JAKARTA: Letusan Gunung Krakatau 139 tahun silam terekam dalam catatan sejarah sebagai satu bencana besar di Indonesia.
Erupsi gunung ini telah menimbulkan gelombang tsunami yang menewaskan puluhan ribu orang ketika itu.
Dituliskan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gelombang tsunami yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau sangat kuat, bahkan bongkahan coral seberat 600 ton terlempar ke darat.
Suara letusan terdengar sejauh 4.500 km. Saking dahsyatnya, waktu tempuh gelombang tsunami ke Surabaya sekitar 11,9 jam dengan tinggi 0,2 meter.
Sapuan gelombang tsunami akibat letusan Gunung Krakatau ini menghancurkan desa di sepanjang pantai Selat Sunda.
Tak berselang lama dari letusannya, tsunami mencapai Teluk Betung sekitar 1 jam setelah erupsi terjadi, begitu pula di pesisir barat Pulau Jawa.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pasang air laut di Teluk Bitung mencapai tinggi 20 meter.
Kota Merak yang terletak di semenanjung Banten dilanda gelombang pasang setinggi 30 meter dan 40 meter akibat dampak letusan dahsyat Gunung Krakatau.
Tsunami juga menyapu Teluk Semangko sesaat setelah memporak porandakan Teluk Betung, dan gelombangnua tidak setinggi yang mengarah ke Teluk Lampung.
Gelombang pasang yang meninggalkan Krakatau merambat dalam waktu 2 jam 30 menit mencapai Jakarta yang berjarak 169 km. Di Tanjung Priuk, tinggi gelombang laut rata-rata 3 meter dalam beberapa menit.
Komplek Krakatau terdiri dari empat pulau, yaitu Rakata, Sertung, Panjang, dan Anak Krakatau. Sementara itu, akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau itu, Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang menjadi sisa pembentukan kaldera, sedangkan Anak Krakatau tumbuh mulai 20 Januari 1930.
Menurut versi Kementerian ESDM, letusan paroksismal terjadi pada 27 Agustus 1883 pukul 04.00-06.41 dan 10.00 waktu setempat, yang dianggap sebagai kejadian terbesar dalam sejarah letusannya.
Letusan ini melontarkan rempah vulkanik dengan volume 18 km kubik, tinggi asap 80 km, dan menimbulkan gelombang tsunami setinggi 30 meter di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.
Kejadian letusan yang menyebabkan tsunami ini disebut menewaskan 36.417 jiwa dan diperkirakan sebanyak 2000 orang di Sumatera bagian selatan tewas oleh abu panas. Dalam sejarah yang tercatat, Gunung Krakatau mengalami letusan besar pada 416 SM, menyebabkan tsunami dan pembentukan kaldera.
Disusul letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada abad 3, 9, 10, 11, 12, 14, 16, dan 17, diikuti pertumbuhan kerucut Gunung Rakata, Danan, dan Perbuatan.
Kegiatan vulkanik berhenti pada 1681, dan setelah beristirahat kurang lebih 200 tahun, gunung ini kembali memperlihatkan kegiatannya yang diawali dari beberapa letusan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan.
Pada 20 Mei 1883, letusan Gunung Perbuatan berkomposisi basaltis mengawali letusan paroksismal pada 27 Agustus 1883. Gunung Krakatau kembali tenang mulai Februari 1884 sampai Juni 1927.
Pada 11 Juni 1927, terjadi erupsi berkomposisi magma basa muncul di pusat komplek Krakatau, yang dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau.
Gunung Anak Krakatau juga menjadi salah satu gunung api aktif, yang hingga saat ini masih sering mengalami erupsi.









Komentar