Swara.id | Palembang – Forum Komunikasi Cabang (Forkomcab) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Selatan secara tegas menyatakan penolakan terhadap pelaksanaan kongres GMNI yang tidak berlandaskan pada semangat persatuan.
Dalam pernyataan resminya, Forkomcab GMNI Sumsel menilai dinamika internal organisasi yang telah berlangsung selama enam tahun terakhir justru semakin memperdalam jurang perpecahan.
Upaya rekonsiliasi yang seharusnya menyatukan dua kubu Dewan Pimpinan Pusat (DPP)—yakni kubu Arjuna-Dendy dan Imanuel-Sujahri—dinilai gagal karena masih sarat dengan ego sektoral dan konflik berkepanjangan.
Koordinator Forkomcab GMNI Sumsel, Bung Samuel, menyerukan kepada seluruh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GMNI di seluruh Indonesia untuk mengambil langkah-langkah kultural demi menyelamatkan organisasi.
“Proses persatuan ini sudah tidak bisa lagi dimandatkan kepada kedua DPP yang ada. Kita melihat akhir-akhir ini justru ada upaya saling melemahkan, bahkan membawa konflik ke ranah hukum seperti PTUN. Ini bukan jalan penyatuan,” tegas Bung Samuel saat memberikan keterangan di Palembang, Jumat (12/7/2025).
Ia menekankan pentingnya pendekatan ideologis dan kultural dalam membangun kembali GMNI, sekaligus menolak segala bentuk sterilisasi gerakan mahasiswa yang terindikasi dimanfaatkan untuk kepentingan elitis tertentu.
“Kita harus memulai langkah konkret yang berakar pada nilai-nilai ideologi Marhaenisme. GMNI tidak boleh menjadi alat kekuasaan atau bagian dari agenda rezim yang mencederai rakyat dan memperpanjang konflik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bung Samuel mengingatkan bahwa nafas perjuangan GMNI adalah sikap non-kooperatif terhadap kekuatan yang menindas rakyat dan melanggengkan ketidakadilan.
“Kader-kader GMNI harus ingat, organisasi ini dibangun atas dasar semangat gotong royong dan keberpihakan kepada rakyat. Maka kongres yang akan datang harus dilaksanakan dalam semangat persatuan, bukan sekadar formalitas yang memecah belah,” tutupnya.
Pernyataan ini menjadi suara kritis dari akar rumput GMNI terhadap arah gerakan mahasiswa yang dinilai telah menjauh dari ruh perjuangannya.












Komentar