12 Januari 2021 - 13:30 WIB | Dibaca : 899 kali

Cekola : Bukan Fasilitas, Kemauan Untuk Sekolah Adalah Persoalan Utama Anak Jalanan

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID-PALEMBANG, (12/01/20): Membentuk karakter anak jalanan tidak segampang yang diperkirakan, dalam menyampaikan sistem pembelajaran dan metode pembelajaran yang tepat, serta meyakinkan pentingnya sebuah pendidikan bagi seorang anak untuk masa depannya. Hal ini disampaikan langsung oleh mantan pembina anak jalanan tahun 1997-2003, pernah menjadi Ketua Lembaga Perlindungan Anak dan pernah menjadi Komisioner Komisi Anak di Jakarta, Vebri mengatakan ada beberapa katagori anak jalanan yang susah diberikan keyakinan mengenai pendidikan.

“Sebenarnya harus dibedakan terlebih dahulu kategori anak jalanan itu, ada anak yang masih berhubungan dengan orang tua, anak jalanan yang memang ada dijalanan tidak mempunyai orang tua, keluarga jalanan yang dimana keluarga ikut turun dijalanan. Kalau masih dalam kategori anak yang masih berhubungan dengan orang tua itu masih mudah menerapkan pentingnya sekolah. Akan tetapi, kalau katagori anak jalanan yang memang dari jalanan itu agak susah menyakini mereka tentang pendidikan karena mereka sudah lama di jalan dan karakter mereka sudah terbentuk,” ujarnya saat diwawancarai Reporter SWARAID.

Vebri juga mengatakan, harus ekstra untuk mendampingi anak jalanan yang kateogrinya memang dari jalanan dan itu harus dibina dengan ikut terjun ke lapangan atau menyiapkan tempat singgah.

Baca Juga :  CPNS Beralih ke PPPK, Ketua PGRI Sumsel : Tidak Efektif dan Diskriminatif

“Dalam menerapkan pengetahuan itu harus menggunakan strategi yang matang dan ekstra dengan mode-mode yang ada disekeliling mereka. Kalau untuk anak jalanan katagori anak jalanan yang memang dari jalanan akan agak sulit, apalagi yang sudah lama dijalanan tambah sulit, jadi moralnya itu sedikit susah untuk diarahkan ke pendidikan. Mereka akan terus merasa curiga dengan orang baru karena sudah terbentuk dijalanan,” jelasnya.

Lebih Lanjut, Vebri juga menyampaikan ada beberapa strategi untuk mejelaskan pentingnya sekolah dalam kategori anak jalanan yang memang dari jalanan.

“Karena mereka sudah terbentuk lama dijalanan sehingga karakter mereka sudah terbentuk, dan tugas pertama yaitu menanamkan keyakinan kepada mereka bahwa tujuan memberikan pendidikan itu baik karena mungkin ada anak jalanan yang dirumahnya sudah merasa tertekan jadi mereka tidak mau menambah masalah dengan mengikuti sekolah jalanan ini dan tugasnya kita memberi tau bahawa kita ingin menjadi sahabatnya, bukan musuhnya,” jelasnya.

Vebri juga mengatakan, untuk memberikan pembelajaran itu tidak hanya di rumah singgah saja namun di jalanan pun bisa mengenalkan dunia pendidikan terhadap anak jalanan.

“Bukan hanya tempat rumah singgah saja dalam memberikan pendidikan. Akan tetapi, bisa dilakukan dengan terjun ke lapangan dan memberikan pengetahuannya di jalanan pun tidak dipermasalahkan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Forum Pemuda Gelar Dialog Interaktif Membangun Kota Palembang

Salah satu pendiri sekolah jalanan yang terbentuk dalam komunitas Cerita Sekolah Jalanan (Cekola) yang berdiri sejak November 2020, Muhammad Ilham Ismail mengatakan yang terpenting itu adalah bagaimana mengajak anak-anak agar mau belajar dan mendapatkan izin orang tua.

“Sebetulnya kalau fasilitas sarana dan prasarana bukan menjadi masalah yang cukup besar, yang terpenting itu adalah cara kita mengajak anak-anak agar mau belajar dan adanya izin orangtua, maka dari itu kami pun bersosialisasi dengan orangtua mereka. Nah untuk membangun kemauan mereka belajar, kami selalu memberikan reward atau penghargaan kecil jika mereka berhasil dalam suatu pelajaran, sekedar sebuah roti coklat saja mereka sudah bahagia bukan main,” ujarnya.

Ilham sendiri merupakan salah satu pendiri sekolah jalanan Cekola di sekitar waduk Taman Polda Palembang berserta teman-temannya yang terdiri dari Muhammad Arif Akbar Putra Alta, Jihan Qonitah Dzakirah, Mona Fadila Rachmah, Muhammad Mukasyafah Rububiyah, dan Rahma Zahara membuat sekolah jalanan untuk tetap berkontribusi dalam memajukan dan memeratakan pendidikan anak-anak di Indonesia.

Ilham mengatakan, Agenda kegiatan rutin dilakukan setiap hari Jumat dan Sabtu, pukul 4 sore dan sistem pembelajarannya sama seperti les yang mempelajari pelajaran-pelajaran umum tingkat SD. Serta bekerja sama dengan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) terdekat untuk memfasilitasi anak-anak dalam belajar membaca dan menulis huruf Al-Qur’an. Selain di Taman Polda, Cekola pun membangun kegiatan ini ke beberapa lokasi lain yang sekiranya banyak anak-anak yang berdagang asongan, misalnya di sekitar lampu merah.

Baca Juga :  English Campung Pandai 13 Ulu; Ketika Bahasa Inggris Diajarkan Secara Gratis

“Volunteer itu relawan yang bersedia menyediakan waktu dan kemampuannya untuk tujuan tertentu. Nah, untuk volunteer di Cekola itu sendiri sementara kami menyeleksi teman-teman yang mendaftar, bulan kemarin itu kurang lebih sekitar 40 orang yang mendaftar kemudian yang lulus seleksi sekitar 16-18 orang,” ujarnya.

Ilham juga berharap, kedepannya Cekola ini dapat digerakkan juga di berbagai kota lain sehingga anak-anak jalanan dan masyarakat yang kurang mampu dapat merasakan pendidikan yang lebih baik.

“Semoga Cekola ini punya penggerak selanjutnya di kota lain, sehingga anak-anak jalanan dan yang kurang mampu dapat merasakan pendidikan yang lebih baik, tidak hanya pendidikan umum saja, pendidikan agama juga harus mereka dapatkan agar tercipta generasi bangsa yang religius,” pungkasnya.

Komentar