10 November 2020 - 06:41 WIB | Dibaca : 577 kali

20 Tahun jadi Pengayuh Becak, Irin; Dak kuat Begawe laen!

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID – PALEMBANG, (10/11/20) : Bapak Irin (55) pengayuh becak merupakan perantauan dari Sekayu, dia memiliki 4 orang anak, 2 anak laki-laki yang sudah bekerja dan 2 anak perempuan yang sudah tamat sekolah. Bapak irin tinggal di Lebak Rejo Sekip bersama istri dan ke-4 anak nya.

Saat ditemui SWARAID dia sedang mangkal dipinggir jalan Prof K.H. Zainal Abidin Fikri Kel. Pahlawan Kec. Kemuning Palembang, tepatnya didepan kampus UIN Raden Fatah Palembang.

Tahun 1998 Bapak Irin merantau ke kota Palembang bersama keluarganya, dengan modal nekad dia memutuskan untuk tinggal di kota Palembang, awalnya hanya berjualan kecil-kecilan selama 2 tahun, namun penghasilan tak mencukupi kebutuhan hidup, dia beralih menjadi pengayuh becak selama 18 tahun.

“Dulu tu (itu) bapak masih jualan kecil-kecilan cak (seperti) kue-kue itu lah samo bini (sama istri), tapi masih kurang untuk kebutuhan hidup samo nyekolahke (sama sekolahkan) anak, dah tu (setelah itu) bapak pindah jadi pengayuh becak selamo (selama) 18 tahun, baru 2 tahun ini pakek becak motor (bentor).” Ujarnya.

Baca Juga :  Disebut Dapat Menghasilkan Emas, Beberapa Tanaman Ini Tumbuh di Indonesia

Selama menjadi pengayuh becak, penghasilan bapak irin tak menentu, berkisar 50 ribu paling tinggi, itu pun tidak setiap hari, terkadang hanya bisa 10 ribu untuk dibawa pulang kerumah.

“Dak (tidak) nentu lah kadang nympe (sampai) 50 ribu, kadang idak (tidak), hari ini bapak baru dapet 30 ribu, dari pagi sampe sore ini, Palembang dak cak (tidak seperti) dulu lagi, dulu banyak nian (sekali) penumpang, dimano-mano ado penumpangnyo (dimana-mana ada penumpangnya), sekarang susah nian (sekali), nak (harus) nunggu berjam-jam baru ado (ada).” Jelasnya.

Anak laki-laki Bapak Irin turut ikut membantu untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari keluarga mereka, dengan bekerja sebagai buruh bangunan.

“Anak-anak aku yang lanang begawe (laki-laki bekerja) bangunan galo (semua), kalo katek (kalau gak ada) mereka dak (tidak) ketutup kebutuhan-kebutuhan yang lainnyo (lainya), bapak dak (tidak) kuat lagi begawe cak (kerja seperti) itu, jadi mereka itu lah sekarang, kalo nak ngarepi (kalau mau berharap) ngebecak motor bae (saja) tidak cukup, belum sewa rumah dan segala macam.” Tuturnya.

Baca Juga :  10 Tahun lebih Jualan Sapu Lidi, Suriyah; Dak Galak Nyusahi Anak

Selama tinggal di kota Palembang, dia tidak pernah sama sekali mendapat bantuan apapun dari pemerintah kota Palembang.

“Dak (tidak) pernah dapet (dapat) bantuan samo (sama) sekali bapak ni, amen katek (kalau tidak ada) bantuan tolong lah kebutuhan-kebutuhan itu dimurahke (dimurahkan), ini mahal galo (semua).” Tutupnya seraya berkeluh.

Komentar