21 September 2025 - 12:00 WIB | Dibaca : 516 kali

UIN Raden Fatah Selenggarakan Seminar Nasional “Kurikulum Berbasis Cinta”: Bangun Generasi Religius, Humanis, dan Cinta Negeri

Laporan : Agustina
Editor : Noviani Dwi Putri

Swara.id | Palembang – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Kurikulum Berbasis Cinta” di Hallroom Hotel Grand Duta Syariah, Sabtu (20/9/2025).

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, guru, serta siswa dari berbagai lembaga pendidikan.

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si., dan dihadiri Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Muhammad Adil, M.A.

Dalam sambutannya, Rektor Muhammad Adil menegaskan pentingnya memahami dan mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta.

“Kita wajib bangga dapat belajar langsung mengenai kurikulum berbasis cinta yang diinisiasi oleh para pakar pendidikan Indonesia. Inilah momentum untuk menguatkan pendidikan Islam yang humanis, membentuk generasi yang berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman,” ungkapnya.

Rektor juga menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang diinisiasi KSKK Madrasah Kementerian Agama.

“UIN Raden Fatah mendukung penuh implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Kami akan menjadikannya sebagai inspirasi dalam mengembangkan kurikulum yang lebih inklusif, religius, dan relevan dengan kebutuhan zaman,” tambahnya.

Baca Juga :  UIN Raden Fatah Palembang Gelar Pembinaan SDM Bersama Biro SDM Sekjen Kemenag RI

Prof. Nyayu Khodijah dalam paparannya menekankan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta tidak menggantikan kurikulum nasional, melainkan menjadi penunjang yang memperkaya praktik pendidikan. Kurikulum ini telah dirancang sejak Januari hingga April oleh para pakar, dan dibangun di atas lima nilai utama Panca Cinta: cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negeri.

“Kurikulum Berbasis Cinta akan optimal jika kita sebagai pengajar mampu menerapkannya secara maksimal. Selama ini pembelajaran agama cenderung hanya berfokus pada penyampaian materi. Padahal, menurut teori Stark dan Glock, religiusitas memiliki lima dimensi: keyakinan, praktik, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi. Maka pembelajaran agama harus menyentuh kelima dimensi tersebut,” jelas Prof. Nyayu.

Ia juga menyoroti masih banyak guru di madrasah yang belum mengintegrasikan kelima dimensi religiusitas dalam pembelajaran. Oleh karena itu, seluruh warga madrasah memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta secara menyeluruh.

Sebagai tolok ukur keberhasilan, kurikulum ini diarahkan pada tiga indikator utama: madrasah ramah lingkungan, madrasah ramah anak, serta murid yang sejahtera secara mental dan spiritual.

Baca Juga :  Wakil Rektor III UIN Raden Fatah Resmi Membuka Pelantikan Pengurus Baru Ikatan Bujang Gadis 2025–2026

Selain Prof. Nyayu Khodijah, seminar ini juga menghadirkan narasumber lain, yaitu Abdal Mun’im, M.Pd., dengan materi “Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Lingkungan dalam Mendukung Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta”, serta Drs. H. Mohd Iqbal Romzi, Anggota Komisi VIII DPR RI, dengan materi “Indikator Keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta”.

Acara yang diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan dosen, pengawas madrasah, guru, mahasiswa, siswa, dan pemerhati pendidikan ini berlangsung dinamis dengan diskusi interaktif. Para peserta menyambut positif gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang berorientasi pada pembentukan generasi humanis, toleran, religius, dan cinta tanah air.

Melalui seminar ini, UIN Raden Fatah Palembang berkomitmen memperkuat peran akademisi dan praktisi pendidikan dalam mewujudkan kualitas pendidikan Islam yang lebih baik, inklusif, serta berorientasi pada kebahagiaan peserta didik. Seminar juga menjadi ruang kolaborasi antarpendidik dari berbagai level untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring akademik, sekaligus memperkuat sinergi menuju visi Indonesia Emas 2045.

Komentar