oleh

Pedagang BKB Dipindahkan, Naufal : Kami Rugi Besar !

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :562 kali | Durasi baca : 2 Menit

SWARAID-PALEMBANG, (16/01/21): Salah satu tempat favorit kunjungan di kota Palembang adalah Benteng Kuto Besak (BKB). Terletak di dekat jembatan Ampera dan sungai Musi ini menjadi tempat yang paling banyak peminatnya saat liburan maupun untuk bersantai, baik warga kota Palembang maupun dari luar kota Palembang, bahkan dari luar provinsi.

Akan tetapi penyebaran covid-19 di kota Palembang yang terus meningkat membuat tempat tersebut ditutup untuk sementara sampai kondisi Kota Palembang kembali normal. Namun, hal tersebut menimbulkan persoalan bagi pedagang yang selama ini berjualan di BKB.

Tim SWARAID mewawancarai salah satu pedagang malam di BKB, Naufal mengatakan dari tanggal 30 Desember sudah ada pengusiran pedagang oleh petugas keamanan seperti Satpol PP dan memasang spanduk peringatan di lokasi tersebut,

“Dari tanggal 30 kami sudah diusir oleh Satpol PP, mereka tiba-tiba memasang spanduk sebanyak 4 dan langsung dipasang. Kami juga langsung disuruh bubar dari tempat kami berjualan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, menurutnya tujuan pengusiran untuk menghindari penyebaran Covid-19 di kota Palembang merupakan peraturan yang sia-sia, sebab meskipun mereka di usir dari BKB namun tetap diperbolehkan berjualan di bawah jembatan Ampera,

Baca Juga :  DPR Sahkan UU Cipta Kerja? Ketua LMND : Hanya Ada Satu Kata, TOLAK!

“Katanya untuk mencegah kerumuman biar penyebaran Covid-19 di Kota Palembang tidak meningkat setiap harinya, tapi kami masih diperbolehkan berjualan di bawah Ampera atau diluar wilayah BKB” imbuhnya.

Naufal juga mengeluhkan pemasukan yang menurun selama berpindah lokasi dagang,

“Kami diusir dari BKB tapi dipersilakan berjualan di bawah Ampera ini jadi gak ada tujuan untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini, sebenarnya sama aja kami malah mengalami kerugian yang besar sejak dipindahkan disini,” tegasnya.

Menurut Naufal, keuntungan berjualan di BKB bisa mencapai 1 juta an, kini saat dipindahkan penghasilan menurun drastis hingga 70 persen atau hanya mendapat penghasilan 200-300 ribu, dan masih harus membayar bermacam iuran.

“Sangat rugi yah, karena kami mengalami 70% kerugian ditambah iuran tempat, keamanan dan lain-lain dari pihak lahan sini. Dua minggu lagi katanya kami baru dibolehkan berdagang lagi disana, tapi selama sebulan ini kami sangat mengalami kerugian karena peraturan yang tidak ada bedanya,” jelasnya.

Naufal berharap, semoga secepatnya bisa berjualan kembali di BKB agar tidak mengalami kerugian yang besar setiap harinya.

Baca Juga :  Ratu Dewa Berharap Fatayat NU Hidupkan Kembali Budaya Keagamaan

“Saya berharap semoga kami segeranya diperbolehkan berjualan kembali di dalam biar penghasilan kami kembali normal,” tutupnya.

 

Komentar

Berita Lainya