31 Januari 2022 - 01:43 WIB | Dibaca : 1,120 kali

Milad Ormas Islam Terbesar di Indonesia; Jelang 1 Abad Nahdlatul Ulama

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA: Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin menyampaikan selamat hari lahir ke-96 Nahdlatul Ulama (NU) yang jatuh pada 31 Januari 2022 (menurut kalender masehi) dan hari lahir ke-99 NU berdasar kalender hijriah yang akan jatuh pada 16 Rajab 1433 H.

Dalam keterangan video, Ma’ruf Amin menyampaikan, bahwa perjalanan panjang NU dalam mendampingi perjalanan bangsa Indonesia selama hampir 1 abad adalah hal yang patut disyukuri.

“Menyongsong 1 abad kelahirannya, kita patut bersyukur pada Allah SWT atas perjalanan panjang NU dalam mendampingi perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini,” kata Ma’ruf Amin, Senin (31/1/22)

“Karunia Allah tersebut kita syukuri dengan menjaga komitmen NU untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dan mengawal cita-cita luhur mewujudkan Indonesia adil, makmur, dan sejahtera,” sambung mantan Rais ‘Aam PBNU tersebut.

Ia menambahkan NU harus terus memperkokoh perannya seiring semakin beratnya tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.

NU harus menjadi simpul pengunci ukhuwah islamiyah (persaudaraan antara sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), serta ukhuwah insyaniyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Baca Juga :  Bupati Banyuasin Harap NU Dapat Membangun Ekonomi Kerakyatan Syariah

NU juga mesti menjadi yang terdepan dalam upaya mempromosikan Islam wasathiyah (moderat), menguatkan sumber daya manusia Indonesia yang berakhlak mulia, serta memberdayakan ekonomi umat.

“Di tengah sebaran arus informasi yg sangat cepat, NU harus terus menjadi mata air kebenaran dan pesan perdamaian bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Ma’ruf Amin.

Lebih lanjut ia mengatakan, NU memiliki potensi yang sangat besar dan harus dioptimalkan di tingkat nasional maupun global.

Potensi tersebut mesti dapat dikonversi untuk menjadi kekuatan yang riil daam rangka pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.

“Untuk itu teruslah meningkatkan kemampuan lahirkan gagasan-gagasan inovatif dan perkuat kolaborasi dengan berbagai elemen bangsa,” kata mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut.

Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ormas ini didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926.

Dalam AD/ART NU tercantum bahwa tujuan NU adalah untuk menjaga berlakunya ajaran Islam yang menganut paham ahlussunnah wal jamaah (aswaja).

Baca Juga :  R20; Jokowi Ajak Tingkatkan Kontribusi Agama dalam Penyelesaian Masalah Dunia

Lebih lanjut, Nahdlatul Ulama (NU) juga bertujuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta alam.

Nahdlatul Ulama sendiri digagas oleh para kiai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Madura saat melakukan pertemuan di rumah KH. Abdul Wahab Hasbullah di Surabaya.

Pertemuan tersebut diprakarsai oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Hasyim Asy’ari.

Lahirnya Nahdlatul Ulama ini adalah sebuah respon dari berbagai permasalahan keagamaan, meneguhkan mazhab dan kebangsaan-sosial masyarakat.

Sebelum NU terbentuk, KH. Abdul Wahab Hasbullah pernah mendirikan organisasi yang bernama Nahdlatul Wathon yang berarti “Kebangkitan Tanah Air” pada tahun 1916.

Nahdlatul Wathon berkembang pesat hingga memiliki madrasah dan gedung di Surabaya. Nahdlatul Wathan juga memiliki beberapa cabang seperti di Gresik, Malang, Jombang, Semarang dan wilayah lainnya.

Tidak hanya itu, KH. Abdul Wahab Hasbullah juga mendirikan Nahdlatul Tujjar atau yang berartikan Kebangkitan Para Pedagang pada tahun 1918. Pada tahun 1914, kemudian berdiri majelis diskusi dan madrasah bersama Taswirul Afkar sebagai tempat menuntut ilmu dan belajar ilmu agama.

Baca Juga :  Dukung Program Bersih-Bersih BUMN, Menteri BUMN Wajib Hapus Watak Korup Pengurus Perseroan

Pada awal tahun 1926, rapat dan koordinasi antar-organisasi Islam di Cianjur menyatakan akan mengirimkan dua orang utusan ke Mekkah untuk menghadap langsung kepada Raja Saud. KH. Abdul Wahab Hasbullah mengusulkan dua orang delegasi tersebut untuk membawa persoalan praktik Islam-tradisional di Indonesia.

Namun pendapat KH. Abdul Wahab Hasbullah tersebut tidak disetujui oleh pihak Islam-reformis. Pada akhirnya hal tersebut membuat golongan Islam-tradisional memutuskan untuk menghadap Raja Saud untuk memperjuangkan kepentingan mereka.

Melihat situasi kelompok Islam-tradisional kerap mendapatkan tentangan dari Islam-reformis, kiai tradisional lainnya berkumpul dan membentuk Komite Hijaz di rumah KH Abdul Wahab Hasbullah.

Pembentukan Komite Hijaz tersebutlah yang kemudian membentuk organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berdiri hingga saat ini.

Hingga menjelang satu abad berdirinya, NU kian berkembang pesat hingga menjadi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia.

Komentar